
""Vino." panggil mama Fara pada Vino yang tengah pura pura fokus memilih milih sepatu yang berjejer di rak.
"Iya ma, ada apa?" tanya Vino santai, padahal hatinya lagi dag dig duk ser.
"Sekarang mama minta mana black card nya. Kamu masih kecil belum boleh pegang black card nanti kalau udah besar bakal mama kembalikan ke kamu." minta mama Fara dengan nada lembut supaya anaknya itu mau menyerahkan black card nya.
"Udah Vino buang tadi ke bawah." jawab santai Vino seolah black card itu adalah kertas mainan yang di jual belikan di sekolah.
"APA." kaget mama Fara.
"Mama kuping Vino sakit denger mama teriak teriak mulu." sambil menutup kupingnya.
'Apa dia bilang sakit, gimana dengan saya yang tiap hari denger dia teriak teriak.' dalam hati mama Fara menggerutu.
"Kamu buang ke mana black card nya Vino?" tanya mama Fara sambil menahan rasa ingin menjitak kepala anaknya yang paling ganteng itu.
"Kan Vino udah bilang tadi, Vino buang ke bawah mama."
"Iya bawah mana Vino sayang, bawah itu banyak. Tadi kamu buang di mana black card nya?" tanya mama Fara lagi berusaha menahan kesabarannya.
"Lewat jendela di situ." sambil menunjuk jendela kamar yang terbuka.
Mama Fara melotot dan segera menghampiri jendela untuk melihat ke arah bawah.
"Mama sepatu Vino yang warna putih yang di beliin kak Vano mana?" pertanyaan yang sedari tadi belum di ucapkan yang terhalang oleh ocehan mamanya.
"Kamu cari sendiri, mama mau ke bawah cari black card kamu." berlalu pergi ke luar kamar dengan tergesa-gesa.
"Yah mama, cariin ma. MAMA." panggil Vino yang tidak di hiraukan oleh mama Fara yang sudah berlalu keluar kamar.
"Yes." seru Vino setelah kepergian mamanya sambil mengeluarkan black card dari dalam celananya.
( Vino jorok ya wkwkwk 😂)
Ternyata Vino tadi membohongi mamanya kalau dia membuang black card nya di jendela, padahal mah yang sebenarnya dia sembunyikan di dalam celananya.
"Dasar mama siapa sih itu kok mudah banget di kibulin, yang pasti sih bukan mama Vino." Sambil mengibas kibaskan black di depan mukanya seperti kipas.
"Kalau gini kan aman, taruh mana ya." Vino berfikir tempat yang paling aman untuk menyembunyikan black card nya, sambil mengetuk ketukkan black card di jangutnya.
__ADS_1
"Ahaa.."Muncul ide di otak kecil Vino.
Vino pun segera keluar dari kamarnya dan menuju suatu tempat untuk menyembunyikan harta berharganya dari serangan bom atom dari mama Fara.
-
"Bibi, bibi." mama Fara memanggil asisten rumah tangga dengan kencang sehingga membuat seisi rumah heboh dan segera menghampiri mama Fara yang sedang menuruni anak tangga dengan agak berlari.
"Ada apa nyonya?" tanya kepala pelayan.
"Kalian semua bantu saya cari black card di bawah jendela kamar Vino sekarang juga. Siapa pun nanti yang bisa nemuin black card nya bakal saya kasih bonus untuk gaji bulan ini." perintah mama Fara yang membuat semua pekerjaan rumah tangga senang dan semangat untuk menemukan black card itu pasalnya keluarga William jika memberikan bonus itu nilainya sangat besar bahkan bisa buat DP mobil.
"Baik nyonya." jawab semua kompak.
"Ayo cari sekarang."
Mereka semua tanpa terkecuali mama Fara pun berlalu pergi ke halaman belakang, lebih tepatnya di bawah lantai kamar Vano dan segera mencari harta Karun itu.
-
Hufft
Papa William menghela nafasnya setelah menerima panggilan telepon dari mama Fara.
"Bukannya kita harus ke London tuan?" tanya Rudi, pasalnya besok siang mereka ada jamuan bisnis di Landon.
"Batalkan semua, ibu negara lagi ngamok." jawab papa William sambil memijat pelipisnya yang pusing memikirkan sikap anak bototnya itu yang seenak jidatnya membuat nyawa papa William dalam bahaya.
"Baik tuan." jawab asisten Rudi dan segera menjalankan perintah tanpa banyak bertanya karena kalau sudah mendengar ibu negara ngamuk maka semuanya harus menuruti apa yang di perintahkan.
"Mama kenapa pa?" tanya Vano penasaran.
"Ini semua gara gara kamu, coba saja kamu tidak mempunyai adik yang amat sangat menggemaskan bin menjengkelkan itu pasti papa gak akan dalam bahaya."
"Lah kok salah Vano, Vano aja dari tadi diam di sini. Trus juga ngapain salahin Vano karena punya adik Vino, seharusnya itu papa salahin diri papa sendiri ngapain tiap malam ritual kan Vano jadi punya adik." Bela Vano yang tak mau di salahkan.
Enak aja dia gak ikut buatnya dia yang di salahkan. pikir Vano.
"Ppfftt..." Lucas berusaha menahan tawanya mendengar masalah yang ada di keluarga kaya se-Asia yang amat kocak itu.
__ADS_1
"Gak usah ketawa kamu, mau Om kirim lagi ke Afrika kamu, HAH." menatap tajam ke arah Lucas.
"Hehehe gak Om canda, mau Lucas bantuin Om buat ngasih pelajaran buat Vino?" tawar Lucas agar papa William tidak jadi mengirimnya ke Afrika.
"Dan kamu Vano, meskipun papa gak ada di sini kamu harus latihan dengan benar 3 hari lagi papa jemput kamu."
"Iya pa, Vano akan latihan dengan benar kok papa tenang saja kan ada Om Leo yang awasi Vano. Gak usah di jemput pa, nanti Vano pulang sendiri aja." Vano meyakinkan papanya agar percaya bahwa dia bisa menjadi apa yang papanya inginkan.
"Ya udah terserah kamu, papa percayakan semua sama kamu. Kamu harus bisa seperti papa bahkan kalau bisa kamu harus lebih hebat dari papa."
"Siap papa ku sayang." jawab Vano sambil menghormatkan tangan kanannya.
"Gimana Rud pesawatnya udah siap belum?" papa William bertanya pada asisten Rudi yang sedang mengontak atik keyboard ponselnya.
"Sudah tuan." jawab asisten Rudi.
"Ya udah kalau gitu papa pulang dulu, kamu hati hati di sini." pamit papa William.
"Iya pa." jawab Vano.
Papa William dan asisten Rudi itu pun pergi meninggalkan mansion menuju bandara internasional untuk terbang ke Indonesia.
"Luc, Om saya mau pamit ke kamar dulu." pamit Vano pada Lucas dan Om Leo yang sedari tadi ada di sana.
"Iya Vano kamu istirahat saja besok kita latihan lagi.
"Iya Om."
"mimpi yang indah brother." ucap Lucas yang di angguki Vano.
Vano pun berjalan ke arah kamar nya, setelah sampai dia segera memberikan muka dan gosok gigi setelah itu dia merebahkan tubuhnya di ranjang king size nya.
Vano memandangi langit langit kamarnya yang bernuansa abu abu itu sambil memikirkan sesuatu yang entah apa itu author juga tidak tahu.
"Kok kangen muka judes Vanya ya." ucap Vano saat terlintas bayangan wajah Vanya di otaknya.
"Oh iya gw lupa ngabarin Galang kalau gw gak ada di Jakarta."
Vano segera mencari handphonenya yang dia letakkan di atas nakas samping tempat tidur dan segera mencari nomor kontak Galang.
__ADS_1
"Halo Lang."
...***...