
"Kamu mau sesuatu?" tanya Farrel lagi dan di jawab gelengan kepala oleh Fira.
Setelah itu suasana jadi canggung, Fira yang bingung akan sikap Farrel kepadanya. Dan Farrel yang bingung akan memulainya dari mana.
"Emmm..." ucap mereka bersamaan.
"Kamu dulu." ucap barengan lagi keduanya.
"Kamu aja yang duluan." ucap Farrel.
"Eemmm....kamu kenapa, kok sikap kamu aneh banget?" tanya Fira.
"Itu-itu anu...anu...emmm.." Farrel bingung harus menjawab apa, apakah dirinya harus jujur sama Fira sekarang atau nanti saja.
"Itu..." Fira menunggu kelanjutan ucapan Farrel.
"Aku mau bilang kalau kita dulu..."
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka dan hal itu menghentikan pembicaraan mereka.
"Permisi mbak, mas maaf ganggu. Sekarang waktunya mbak Fira minum obat." ujar suster yang membuka pintu kamar rawat Fira.
"Oh iya silahkan masuk, kalau gitu aku pergi keluar dulu ya." pamit Farrel dan segera keluar dari sana tanpa menunggu persetujuan dari Fira.
Suster itu membantu Fira untuk makan serta meminum obat dan setelah selesai dia keluar dari ruang rawat Fira.
"Farrel kenapa sih, aneh banget." gumam Fira dan setelah itu dia menidurkan tubuhnya karena merasa kantuk datang menghampirinya, mungkin efek dari obat barusan.
-
Farrel keluar dari ruang rawat Fira berjalan tak tentu arah. Hingga tak di sengaja Farrel bertemu dengan papa Wijaya dan mama Vani yang tengah berlari panik.
"Mama, papa. Kalian sedang apa di sini?" tanya Farrel.
"Loh kamu sudah ada di sini?" tanya mama Vani.
"Iya ma, tadi Farrel jengukin temen yang lagi di rawat di sini." jawab Farrel.
"Kalau mama sama papa ngapain ke sini?" tanya Farrel.
"Adik kamu masuk rumah sakit, tadi papa di kasih tahu sama Om William." jawab papa Wijaya.
"Apa, Vanya masuk rumah sakit? Kok gak ada yang ngasih tahu Farrel." kaget Farrel.
"Ternyata kamu juga belum tahu, ya udah kalau gitu ayo kita jengukin adik kamu sama sama." ajak mama Vani.
Mereka bertiga pun mencari letak kamar rawat Vanya sesuai dengan pesan yang dikirim oleh papa William.
-
"Sayang, bangun dong. Aku mau kasih tahu kabar bahagia buat kamu." ucap Vano duduk di kursi samping bangkar Vanya.
"Baby kasih tahu mommy dong kalau Daddy nungguin mommy di sini." ucap Vano lagi, tapi kali ini Vano berbicara sambil mengelus perut Vanya yang masih rata.
"Baby sehat sehat ya di sana, jangan bikin mommy susah."
"Baby juga harus cepat keluar dari perut mommy, nanti Daddy ajarin gimana caranya main pistol sama meracik ramuan."
__ADS_1
DASAR BAPAK GILA.
Tiba tiba saja jari tangan Vanya bergerak dan hal itu berhasil membuat Vano senang.
"Sayang, kamu udah sadar?" pertanyaan bod*h yang keluar dari mulut Vano saat melihat kedua kelopak mata Vanya terbuka.
"Air..." lirih Vanya karena merasa tenggorokannya kering.
Vano segera mengambilkan air putih yang sudah di sediakan di sana dan membantu Vanya untuk meminum air putih itu.
"Mana yang sakit hmm?" tanya Vano sambil merapikan rambut Vanya.
"Aku kenapa bisa ada di sini?" tanya Vanya.
"Kamu tadi pingsan waktu pertandingan tadi makanya aku bawa kamu ke sini." jawab Vano.
"Pingsan?" Vanya mencoba mengingat kejadian beberapa jam lalu dan dia pun berhasil mengingat momen saat dirinya sebelum pingsan.
"Sonya, Sonya di mana? Di gak papa kan?" tanya Vanya panik setelah mengingat kejadian tadi.
"Hei, tenang. Kamu jangan panik ya, nanti dia kenapa napa." ucap Vano menahan Vanya agar tidak jadi turun dari bangkar.
"Dia?" tanya Vanya bingung.
"Iya, dia." mengelus perut Vanya.
"Dia di sini, ada di perut mommy." lanjut Vano.
"Maksud kamu?"
"Di sini sekarang sudah ada Vano junior, hasil dari kerja keras kita setiap malam."
Plak.
"Auw..." ringis Vano.
"Jahat banget sih, baby bilangin ke mommy dong jangan jahat jahat sama Daddy." ucap Vano pada perut Vanya.
"Makanya kalau ngomong itu yang bener, suka banget ngomong gak di filter." omel Vanya.
"Maksud kamu tadi aku hamil gitu?" lanjut Vanya.
"Iya sayang, kamu hamil." jawab Vano.
"Kok bisa?"
"Ya biasalah, orang setiap malam aku bajak." Jawab Vano ngasal.
Plak.
"Auw... sayang kamu kok kasar banget sih sekarang." ringis Vano karena mendapatkan tamparan lagi dari Vanya di tangannya.
"Makanya kalau ngomong itu yang bener."
"Kok aku bisa hamil ya, padahal kan aku minum pil pencegah kehamilan secara rutin." lanjut Vanya bingung.
"Ya itu berarti udah rejeki kita yank."
"Oh aku ingat, waktu itu aku lupa gak minum pil itu saat aku lagi bantuin misi kamu jebak Tante Fen." ujar Vanya saat mengingat kecerobohannya.
__ADS_1
"Berarti kejadian waktu itu ada hikmahnya juga. Yeee aku bakal jadi hot Daddy." senang Vano.
"Aku juga senang akan hal ini, tapi gimana nanti sama sekolah ku?" lirih Vanya takut.
"Hei, apakah kamu lupa siapa suamimu ini." menarik dagu Vanya agar menatap dirinya.
"Tapi aku kan ketua OSIS Van, masak iya ketua OSIS hamil waktu masih sekolah." takut Vanya lagi.
"Soal itu kamu gak perlu khawatir, aku yang bakal mengurusnya."
"Baby kita main yuk." lanjut Vanya berbicara pada perut Vanya.
"Apaan sih, orang masih kecil." malu Vanya karena Vano berbicara di hadapan perutnya.
"Ya kan semuanya harus di biasakan mulai sejak dini sayang." bela Vano tak mau kalah.
"Oh iya, udah berapa usia kandungan aku?" tanya Vanya sambil mengelus perutnya.
"Kata dokter tadi kita di suruh untuk memeriksakannya langsung ke dokter obgin." jawab Vano.
"Ya udah ayo kita ke sana." semangat Vanya.
"Ehh tunggu dulu, kamu harus istirahat dulu dan makan makanan yang banyak. Aku gak terima penolakan." tegas Vano yang mau tak mau harus Vanya turuti.
Ceklek.
Pintu ruang rawat Vanya terbuka dan...
"Vanya."
"Princess."
"Sayang."
"Menantu mama."
Teriak semua orang barengan saat pintu sudah terbuka.
"Mama, papa, kakak." kaget Vanya.
"Kok kalian bisa tahu kalau kita di sini?" tanya Vano.
"Sayang gimana keadaan kamu?" tanya mama Fara tidak menghiraukan ucapan Vano.
"Aku gak papa kok ma." jawab Vanya.
"Alhamdulillah kalau gitu." jawab mereka semua lega.
"Ma, pa kita mau ngasih tahu sesuatu sana kalian semua." ujar Vanya pada mereka semua.
"Kamu mau ngasih tahu apa sayang?" tanya mama Fara.
"Kalian bakal punya cucu." ucap Vano cepat.
Semua orang terdiam membisu mendengar perkataan Vano.
"Kenapa kok kalian diam, kalian gak seneng ya kalau aku hamil?" sedih Vanya.
Mungkin efek dari hormon kehamilan yang membuat sikap Vanya terkadang manja terkadang juga ngeselin. Tapi Vano suka itu
__ADS_1
...***...