
Saat berada di tengah-tengah tangga tiba-tiba Vano menghentikan langkahnya.
"Ehh tunggu Van." pangil Vano.
Vanya pun menghentikan langkahnya dan menatap Vano yang berada di bawah.
"Emmm boleh gak kalau sarapan besok lo masakin buat gw?" ucap Vano.
Vanya diam memikirkan permintaan Vano, sebenarnya sih dia masih mau melancarkan aksinya tapi mengingat karena Vano lah dia bisa mengikuti olimpiade lusa maka Vanya menyetujui permintaan Vano.
"Iya." setelah mengatakan itu Vanya segera pergi ke kamarnya.
"Yes, akhirnya bisa makan masakan Vanya lagi." senang Vano.
Vano pun pergi menyusul Vanya pergi ke kamarnya untuk istirahat.
-
Pagi hari Vanya menyiapkan keperluan untuk menginap di rumah mama Fara. Vanya hanya membawa beberapa baju ganti dan seragam sekolah tak lupa juga buku buku yang dia perlukan untuk belajar.
Sedangkan Vano di kamarnya tidak melakukan persiapan apa apa melainkan hanya bermain game online di ponselnya.
Setelah siap semua Vanya pergi ke dapur untuk memasakkan makanan sarapan untuk dirinya dan Vano. Di rasa semuanya sudah matang, Vanya segera menghidangkan makanan makanan yang dia masak ke atas meja makan.
"Selamat pagi." sapa Vano yang baru turun dan segera duduk di meja makan.
"Pagi." Seperti biasa dengan mode cueknya Vanya menjawab.
Tanpa di suruh Vanya segera mengambilkan makanan untuk Vano dengan semua macam lauk dia masukkan ke piring Vano tanpa bertanya Vano mau makan sama apa.
"Makasih." ucap Vano setelah Vanya menaruh piring yang berisi berbagai macam lauk dan nasi dengan ukuran sedang di depannya.
Vanya hanya menjawab dengan anggukan saja, setelah itu dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan segera memakannya.
Acara makan berjalan dengan keheningan yang mengiringinya, dengan Vanya yang fokus makan dan Vano yang juga fokus makan sambil menikmati masakan Vanya yang amat lezat menurutnya.
"Lo udah siap kan?" tanya Vano selesai makan.
"Udah."
"Ya udah ayo kita berangkat sekarang aja, takut macet nanti kalau berangkat siang."
"Ya udah aku ambil tas di kamar dulu."
"Hmm.''
Vanya pun mengambil barang-barang nya di kamar, Vano juga mengambil jaket dan berganti sepatu di kamarnya.
"Udah gak ada yang tertinggal kan?" tanya Vano sambil berjalan menuju lift.
"Enggak."
"Kamu kok gak bawa pakaian?" tanya Vanya penasaran, pasalnya Vano sekarang tidak membawa apa-apa di tangannya.
"Udah di siapin sama asisten Rudi."
"Oh."
Sampai di mobil Vano segera masuk ke dalam mobil Vanya dan di ikuti Vanya.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju rumah orang tua Vano mereka hanya diam dengan pikirannya sendiri sendiri.
"Van berhenti di toko roti depan." pinta Vanya.
"Mau ngapain?"
"Masak iya aku datang ke rumah mertua dengan tangan kosong." Jawab Vanya.
"Ooh."
Vano pun memberhentikan mobilnya di depan toko roti dan Vanya segera keluar untuk membeli roti yang akan dia bawakan untuk mama Fara.
"Ada yang bisa kami bantu mbak?" tanya salah satu pelayan toko roti.
"Saya mau roti yang ini, ini sama ini. Semuanya yang rasa coklat ya mbak di bungkus." tunjuk Vanya pada etalase yang terdapat berjejeran macam macam roti.
"Baik mbak silahkan di tunggu sebentar."
Vanya pun menunggu di kursi yang sudah di sediakan di sana sambil melihat lihat sudut sudut toko roti itu.
"Ini mbak. Total semuanya 326 ribu silahkan bayar di sana." menunjuk meja kasir.
"Iya makasih."
"Sama sama semoga menjadi langganan."
Vanya pun segera membayarnya dan setelah itu dia pergi menghampiri Vano yang menunggunya di mobil.
"Udah?" tanya Vano saat Vanya masuk ke dalam mobil.
"Udah."
Saat Vanya akan turun tangannya di cegah oleh Vano.
"Ada apa?" tanya Vanya sambil melihat pergelangan tangannya yang di cekal Vano.
"Tunggu sebentar." Vano melepaskan genggaman tangannya dan mengeluarkan dompet dari tas selempang yang ada di dadanya.
"Ini." Vano menyodorkan Black Card kepada Vanya.
Vanya menatap bingung kartu itu setelah itu dia menatap Vano sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Lo pakai buat belanja." jelas Vano.
"Tapi aku masih punya uang kok dari papa."
"Yang dari papa lo simpan aja, kalau mau belanja atau apapun itu lo harus pakai ini."
Dengan ragu Vanya pun menerima black card yang Vano berikan kepadanya.
"Sebagai suami yang baik hati gw harus ngasih nafkah buat istri."
"Emang kamu suami ku?" tanya Vanya memancing Vano untuk mengakui nya.
"Ya- ya iya lah meskipun cuma di atas kertas."
"Hufft... baiklah."
"Oh iya nanti lo selama gw gak ada di sini, lo harus bisa jaga diri." petuah Vano.
__ADS_1
"Iya aku bakal jaga diri aku, kamu tenang aja gak perlu khawatir."
Mendengar itu Vano hanya tersenyum.
"Oh iya makasih ya, berkat kamu pergi ke luar negeri aku jadi bisa ikut olimpiade besok." ucap Vanya dengan tulus.
"Hmm." Vano ikut senang jika Vanya bahagia.
"Eemmm Van, aku mau minta maaf sama kamu?" tambah Vano.
"Minta maaf?" menaikkan sebelah alisnya.
Vano bingung mau mengungkapkan permita maafan nya gimana, karena dia tidak pernah minta maaf sama seseorang.
"Aah gak jadi, udah lupain aja gak penting juga."
"Yuk turun, mama sudah menunggu kita dari tadi." Vano mengalihkan pembicaraannya dengan Vanya.
Vano turun dari mobil sedangkan Vanya masih termenung di dalam mobil.
"Sesusah itu kah bilang maaf tentang kejadian malam itu kepada ku meskipun itu memang sudah hak kamu." gumam Vanya sambil menatap sedih kearah Vano yang sudah berada di luar.
Setelah itu dia mengikuti Vano turun dan segera masuk ke dalam rumah keluarga William. Vano langsung membuka pintu utama tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum ma." sapa bareng Vano dan Vanya saat melihat mama Fara sedang bersantai di sofa ruang tamu.
"Waalaikum salam." Jawab mama Fara sambil berdiri menghampiri anak dan menantunya itu.
"Kalian sudah sampai ternyata, mama udah tungguin kalian dari tadi."
"Hehehe maaf ma lama tadi kita ada urusan sebentar." ucap Vanya merasa bersalah sambil mencium punggung tangan mama Fara dan cipika-cipiki.
"Papa udah siap ma?" tanya Vano setelah mencium punggung tangan mamanya.
"Papa di ruang kerja gak tahu lagi ngapain."
"Ya udah Vano ke papa dulu ma, aku ke sana dulu." pamit Vano pada mamanya dan Vanya.
Vanya yang mendengar Vano menyebut dirinya AKU bukan GW pun merasa senang.
Vano pun berlalu meninggalkan mama dan istrinya yang tengah mengobrol.
"Oh ya ma, ini Vanya bawain roti buat mama. Vanya gak tahu mama sukanya apa jadi Vanya beli roti maaf ya ma." ucap Vanya merasa bersalah karena dia tidak tahu makanan kesukaan mama mertuanya.
"Aduh repot repot banget sih sayang, kamu ke sini aja mama udah seneng banget. Mama suka kok roti apalagi si Vino, dia suka banget roti rasa coklat."
"Beneran ma, kebetulan banget Vanya belinya rasa coklat. Tapi ngomong ngomong Vino nya kemana ma?"
"Vino lagi sekolah, mungkin bentar lagi juga pulang kan ini udah hampir jam sepuluh."
Vanya hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Ya udah kamu simpan pakaian kamu dulu di kamar biar mama taruh rotinya di dapur, setelah itu kita ngobrol-ngobrol di gazebo belakang rumah." suruh mama Fara yang di angguki Vanya.
"Ya udah ma, Vanya ke atas dulu."
Vanya pun pergi ke lantai atas tepatnya kamar Vano berada. Sedangkan mama Fara pergi menyimpan roti yang di bawakan Vanya tadi.
...***...
__ADS_1