
Di ruang perawatan Vano.
"Van, lo jangan kepedean ya. Gw menerima perjodohan ini bukan karena gw suka sama lo, tapi karena gw gak mau bikin mama gw kecewa."ucap Vano menatap Vanya tajam.
"Iya aku tau kok. Tapi nanti ijinin aku melakukan tugas sebagaimana istri biasanya ya!"jawab Vanya.
"Terserah lo. Dan satu lagi, pernikahan ini hanya sementara setelah nanti gw Lulus SMA gw bakal ceraiin Lo."
"Maksud kamu??"
"Halah gak usah sok polos deh, pernikahan ini itu karena perjodohan otomatis gw ngelakuin ini karena terpaksa jadi lo gak usah berharap lebih dari perjodohan ini. PAHAM."ucap Vano menegaskan.
"Emang gak bisa apa Van kamu berusaha menerima semua ini?"tanya sedu Vanya.
"Gak bisa."
"Oh ya satu lagi. Lo jangan ikut campur dalam urusan gw dan gw juga gak akan ikut campur dalam urusan Lo."
"Tapi kenapa Van..."
"Lo itu budek atau apa sih HAHH. Gw udah ngomong ya dari tadi kalau gw ngelakuin ini itu terpaksa Vanya b*doh."Bentak Vano sambil mengatai Vanya.
Vanya yang di bentak pun tanpa di sadari air matanya keluar, dia pun menunjukkan kepalanya tanpa berani menatap Vano dan segera menghapus air matanya yang keluar sebelum di lihat oleh Vano.
Tanpa dia sadari ternyata Vano sudah melihatnya meneteskan air mata.
Vano yang melihat Vanya meneteskan air mata itu merasa sakit, apalagi dia lah yang menjadi penyebabnya. Entah lah kenapa dia merasa ada yang aneh dengan hatinya, Sebenarnya dia juga gak tega membentak Vanya tapi mulutnya ini tidak sepemikiran dengan hatinya, entahlah.
"Baiklah itu terserah kamu saja. Aku mau ke toilet sebentar."jawab Vanya mengiyakan kemauan Vano.
Vanya pun pergi ke toilet untuk mencuci mukanya agar tidak kelihatan kalau dia habis nangis.
"Vanya kamu harus kuat. Vano bentak kamu itu karena dia gak ingat siapa kamu. Vano itu sebenarnya cinta sama kamu Vanya, jadi kamu gak boleh cengeng. Mana Vanya yang tegar, ayo keluarin."Monolog Vanya menyemangati dirinya sendiri di depan cermin setelah membasuh mukanya.
"Aku gak boleh nangis lagi. Pokoknya aku harus kuat."ucapnya lagi.
Sementara Vano yang melihat Vanya pergi ke toilet karena menghindarinya itu pun merasa tak enak hati. Vano pun membaringkan tubuhnya di ranjang tempat tidurnya dan pura pura tidur agar tidak membuat Vanya Canggung saat keluar dari toilet nanti.
Vanya yang keluar dari kamar mandi dan melihat Vano tertidur pun menghela nafasnya dan dia memutuskan untuk duduk di sofa dan membuka majalah yang ada di situ.
-
Hari pun berganti hari kini sudah tinggal tiga hari lagi menuju acara pernikahan rahasia Vano dan Vanya. Semua persiapan telah di siapkan secara matang oleh kedua orang tua mereka sedangkan Vano dan Vanya hanya menerima pasrah saja.
Vano pun sudah pulang dari rumah sakit dan sudah kembali masuk ke sekolah seperti biasanya.
Vano berjalan melewati lorong sekolah dengan baju seragam yang tidak di masukkan dan lengan baju di lipat. Dia berjalan santai sambil memasukkan satu tangannya ke saku celana yang membuat kadar ketampanannya bertambah.
"VANO."teriak seseorang dari belakang.
Vano pun berhenti tanpa menengok ke belakang.
Seseorang yang memanggil Vano dari kejauhan itu pun menghampiri anak muridnya yang kurang ajar ini, untung saja otaknya pintar kalau tidak... hufft...
"Vano kamu ikut bapak ke kantor karena kamu bakal di seleksi buat ikut ajang olimpiade matematika tingkat Nasional."ucap pak Joko yang menghampiri Vano.
"Males banget."jawab Vano.
"Gak ada males malesan sekarang ikut bapak ke kantor."
"Lo berani nyuruh nyuruh gw HAH."bentak Vano sambil memelotot kan matanya ke arah pak Joko.
Bapak Joko yang di Bentak pun nyalinya langsung menciut.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu Vano. Ini adalah perintah dari kepala sekolah, bapak mohon ya kamu ikut sama bapak ke kantor."ucap pak Joko memelas.
"Hufft...."Vano menghela nafasnya.
"Baiklah."
Vano pun berjalan ke arah kantor mendahului pak Joko yang bengong karena dia yang mengajak dia juga yang di tinggal.
Setelah sampai di kantor seperti biasa Vano langsung masuk tanpa mengucapkan salam atau permisi terlebih dahulu.
"Ada apa?"to the poin Vano.
"Kamu duduk dulu di sebelah Vanya biar bap..."ucap kepada sekolah yang langsung di potong oleh Vano.
"Gak usah basa basi cepat ada apa anda menyuruh saya ke sini."potong Vano yang tidak suka basa basi.
Vanya yang sedari tadi ada di tempat itu pun hanya melongo menatap Vano ternyata selain biyang kerok di sekolah, Vano juga tidak punya sopan santun sama guru, Gini amat calon suaminya untung cinta kalau tidak...hufft...
"Kamu gak sabaran banget Van."canda kepala sekolah.
"CEPAT."bentak Vano.
"I-Iya."gugup kepala sekolah karena bentakan Vano juga melihat ekspresi garang Vano.
"Jadi gini, karena akan di adakan olimpiade matematika tingkat Nasional dan itu di butuhkan hanya satu perwakilan saja maka bapak memutuskan untuk menyeleksi kalian berdua. Nanti siapa yang lolos dia lah yang bakal mengikuti olimpiade ini "terang kepala sekolah kepala Vano dan Vanya.
"Cih.... ngapain pakek di seleksi segala buang buang waktu aja. Orang udah jelas juga siapa yang bakal menang."ucap remeh Vano.
"Pede banget kamu. Kita gak ada yang tau ya siapa yang bakal menang dan ikut olimpiade itu kalau gak di seleksi."ucap Vanya yang merasa ucapan Vano seolah merendahkan kemampuannya.
"Jangan sampai Vano yang menang. Pokoknya aku gak boleh kalah sama Vano, kalau sampai aku kalah aku gak bakal bisa ketemu Dia."suara hati Vanya.
(Kalian masih ingat kan dengan Dia.)
"Ya sudah dari pada kalian ribut langsung saja bapak kasih kalian 100 soal kerjakan di sini dalam waktu 45 menit."suruh kepala sekolah sambil menyodorkan kertas kertas yang berisi soal.
"Oke siapa takut."jawab Vano sambil menatap Vanya dan menaikkan bibirnya sebelah.
Mereka pun mulai mengerjakan soal-soal itu dan di awasi oleh pak Joko.
Di saat mereka sedang mengerjakan soal Vanya merasa bahwa dirinya akan kalah dari Vano. Meskipun tadi dia menunjukkan sikap pede nya di depan Vano, tapi tidak dengan hatinya yang merasa was was karena dia sudah mengetahui kemampuan Vano dalam berhitung.
"Eeemmm... Van."Vanya memangil Vano dengan suara yang amat pelan dan hanya di dengar oleh Vano tapi Vano tidak menghiraukannya.
"Van."panggil Vanya lagi seraya mencolek lengan Vano dengan pensil yang dia bawa.
Vano yang merasa aktivitasnya terganggu pun hanya menanggapinya dengan daheman.
"Hmm."
"Van."Vanya yang merasa tidak di hiraukan pun terus berusaha menganggu Vano.
"Apaan sih an**g."kesal Vano sambil menatap Vanya garang.
"Eemm.. itu boleh gak kalau kamu ngalah dari aku."ucap Vanya memohon sambil mengantupkan kedua tangannya.
"Plis..."
"Kenapa lo takut kalah sama gw hmm."
"Ya gak juga. Aku berharap banget Van bisa mengikuti olimpiade ini. Pliss.. kamu ngalah ya."
"Oh tidak bisa seorang Giovano tidak akan pernah mengalah dengan siapa pun."
__ADS_1
"Plis Van aku mohon sama kamu kali ini aja."
"Gak."
"Van."
"Hmm."
"Ngalah ya ya ya...plis."
"...."
"Van plis aku mohon aku janji bakal ngelakuin apa pun yang kamu suruh."mohon Vanya tanpa mau menyerah meskipun sudah di tolak.
"Gak. Meskipun lo mau bayar gw berapa pun gw gak bakal mau ngalah sama lo. Lagian lo tuh gak bosen apa ikut olimpiade terus, masih kurang tuh piala di rumah lo, sini gw kasih."jawab Vano merendah Vanya.
Vanya yang merasa di rendahkan oleh Vano pun tidak mempermasalahkannya karena memang dia sangat membutuhkan olimpiade ini agar bisa ketemu sama seseorang.
"Van plis aku mohon."mohon Vanya lagi dan lagi.
"Gak."
"Pak ini saya sudah selesai."ucap Vano sambil menyerahkan kertas Jawabannya kepada pak Joko.
Vanya yang melihat itu pun melotot. Fix dia udah kalah dari Vano karena Vanya belum selesai mengerjakan semua soal soal itu sedang waktunya tinggal lima menit lagi.
"Oh baiklah silahkan kamu kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa."suruh pak Joko.
"Van lo seriusan udah selesai."tanya Vanya.
"Menurut lo!"jawab Vano sambil berlalu meninggalkan kantor.
Vanya pun melanjutkan mengerjakan soal-soal itu meskipun dia tahu waktunya gak bakal cukup untuk menyelesaikannya.
"Vanya waktunya sudah habis mana jawaban kamu."ucap pak Joko.
"Eeemmm ... Ini pak. Sebenarnya saya belum selesai mengerjakannya."jawab Vanya sambil menyerahkan kertas Jawabannya.
"Kok bisa dari tadi kamu ngapain saja."tanya pak Joko yang tau kemampuan Vanya yang hampir sebelas dua belas dengan Vano tapi masih unggul Vano.
"Eeemmm itu tadi saya..."Vanya bingung harus menjawab apa, masak Iya dia harus jawab kalau dia dari tadi berusaha merayu Vano, kan gak mungkin.
"Aah sudahlah sekarang kamu kembali ke kelas."
"Baik pak. Assalamualaikum."pamit Vanya.
-
Sementara Vano yang sudah keluar dari kantor itu pun tidak menuju ke kelas melainkan ke atap tempat basecampnya berada.
"Gw ngalah sama Vanya."
"Mimpi."
"Seorang Giovano tidak akan pernah mengalah bahkan sama cewek sekalipun."Suara hati Vano sambil melamun.
"Ehh tapi kenapa ya si Vanya kayaknya ingin banget ikut olimpiade?"
"Bodo amat lah ngapain juga gw mikirin tuh cewek. Emang dasar semua cewek rakus maunya menag sendiri."Vano terus saja menggerutu dalam hatinya.
Si Vano gada akhlak emang ya jangan di tiru sifatnya yang gak punya sopan santun wkwkwk.
Tapi kalau kemampuan otaknya boleh lah di coba wkwkwk 😂
__ADS_1
Follow Ig author:@adhilla_021