My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 65


__ADS_3

"YXGK." jawab mama Fara sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Vino dan Vanya hanya diam berdiri dan saling memandang.


"Mama ngomong apa kak?"


Vanya hanya mengangkat bahu nya karena memang dia juga tidak mengerti.


"Ma, mama." teriak Vino sambil berlari mengejar mamanya yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Apa sih Vino, jangan teriak teriak."


"YXGK itu apaan ma?" tanya Vino kepo.


Sedangkan Vanya yang berada di belakang Vino juga mengfokuskan pendengarannya, karena dia juga tidak tau apa singkatan yang di ucapkan mama mertuanya itu.


"Idih kudet." mama Fara balik mengejek Vino.


Vino yang di ejek pun memanyunkan bibirnya dengan pipi yang menggembung.


"Gak usah gitu mukanya, jyjyk tau gak."


"Mama kok nyebelin sih?" Vino memandang mamanya.


"Biarin, kamu duluan yang mulai."


"Trus jawabannya apa?" tanya Vino yang penasaran akan kepanjangan kata yang mamanya maksud.


"Emang mama ngasih pertanyaan?" tanya balik mama Fara dengan muka polosnya yang membuat Vino kesal.


"Tau ahh, mama ngeselin. Vino marah sama mama." melipat kedua tangannya di depan dada.


"Idih marah kok bilang bilang."


"MAMA..."


"Hahahaha iya iya mama jawab. Jadi kepanjangan itu adalah...." mama Fara mengantungkan ucapannya.


Vanya pun semakin mendekatkan telinganya untuk mendengar jawaban mama Fara.


"Aaaa menantu mama juga kepo ya..."


Vanya pun merasa malu karena mertuanya ternyata mengetahui bahwa sedari tadi dirinya juga ingin mengetahui kepanjangan singkatan kata yang di ucapkan mertuanya.


"Hehehe." Vanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum malu.


"Cepat deh ma, gak usah lemot kayak HP Vino."


"Dih, curhat."


"Cepat mama, tadi katanya suruh belajar gimana sih."


"Iya iya, jadi kepanjangan YXGK itu adalah " Ya Kali Gak Kuy" , masak gitu aja kalian gak tahu."


Vanya dan Vino pun diam memikirkan jawaban mama Fara dan mencocokkan dengan singkatan yang tadi.

__ADS_1


"Emang mama dapat singkatan gitu dari mana?" tanya Vino.


"Cari di google lah banyak." jawab mama Fara santai dan segera pergi meninggalkan menantu dan anak bontotnya.


Vanya dan Vino pun melongo mendengar jawaban mama fara, gabut banget mamanya sampai sampai buka google cuma buat nyari kata kata gaul. pikir Vanya dan Vino.


"Ya udah yuk kita belajar di kamar kamu aja." ajak Vanya yang di angguki oleh Vino.


Mereka pun belajar dengan serius kadang juga ada saja tingkah Vino yang membuat Vanya jadi gemas.


-


Setelah menempuh kurang lebih 16 jam perjalanan Jakarta - italia akhirnya pesawat yang di tumpangi Vano dan papa William mendarat di Bandara internasional Fiumicino.


Mereka sudah di jemput oleh orang kepercayaan papa William yang di tugaskan untuk menjaga bisnis mafianya di Italia.


(FYI: anggap saja mereka ngomong pakai bahasa Italia ya.)


"Mari tuan silahkan." ucap Leone orang kepercayaan papa William mempersilahkan tuannya masuk ke dalam mobil. Dan setelah itu dia menjalankan mobilnya.


Asisten Rudi tetap sama yaitu duduk di jok samping Leo yang sedang mengemudikan mobil.


"Leo, apa kabar kamu." tanya papa William di tengah tengah perjalanan menuju massion


"Kabar saya baik tuan." jawab Leo.


"Gimana, aman kan selama saya gak kesini?"


"Aman tuan, sepertinya mereka tahu bahwa tuan tidak ada di sini mangkanya mereka pindah ke negara tempat tinggal tuan saat ini."


"Saya tahu itu, mereka sudah mulai menampakkan diri." jawab papa William.


Bukannya sombong atau apa, tapi Vano merasa ada yang aneh saja dengan hatinya setelah meninggalkan negara tempat tinggalnya.


"Apa kabar Om, maaf Vano baru menyapa Om." ucap Vano tidak enak, padahal Vano itu sudah menganggap paman Leo seperti orang tua keduanya setelah papanya karena dulu Vano pernah tinggal beberapa bulan sama paman Leo.


"Kabar Om baik, kalau kabar kamu gimana? Om dengar kamu sudah menikah." tanya balik paman Leo.


"Kabar Vano juga baik om, iya Vano udah menikah." Jawab Vano.


"Lucas ada di sini kan Om?" tanya Vano.


Lucas adalah anak Leo, dulu saat Vano masih ada di Italia Vano selalu bermain dengan Lucas. Bahkan jika mereka sedang bermain sering kali orang orang bilang kalau mereka berdua itu kembar karena wajah mereka yang sama-sama putih.


"Iya Lucas ada di sini udah sebulan, nanti kamu akan berlatih bersama Lucas." jelas paman Leo.


"Beneran Om, akhirnya Vano tidak sendirian di sini."


"Sendirian, kamu kira kita kita ini apaan? hantu?" ucap papa William.


"Ya gak gitu pa, maksud Vano tuh yang seumuran dengan Vano."


"Bilang saja kalau kamu mau kangen kangenan sama Lucas kayak mama kamu kalau ketemu teman lama cipika cipiki."


"Idih papa kira Vano cowok apaan."

__ADS_1


"Kamu mau tahu kamu cowok apaan?" Vano mengangguk kan kepalanya.


"Kamu tuh cowok yang mangkal di club malam." jawab papa William yang membuat Vano melotot.


"kenapa mata kamu, sakit? Biasa aja kali liatnya."


"Papa tahu?" tanya Vano sambil berdoa dalam hati semoga saja papanya itu tadi asal ceplos kalau ngomong dan tidak ada menyingung tentang masalah malam itu.


"Apa yang papa gak tahu tentang kamu Van, meskipun kamu tidak bilang papa juga tahu. Kamu lupa siapa papa kamu ini."


Vano diam, dia merasa bodoh bagaimana bisa dia melupakan papanya yang seorang mafia. Bahkan mungkin saja apapun yang dia lakukan selama ini selalu di pantau oleh papanya.


"Ta-tapi papa gak tahu semuanya kan?" tanya Vano, jangan sampai papanya tahu apa yang sudah dia lakukan kepada Vanya. pikir Vano.


"Iya papa tahu."


Deg.


"Papa tahu kamu bisa lolos dari jeratan itu karena di tolong Galang." lanjut papa William.


Hufft.


Vano bernafas lega setelah mendengar kelanjutan ucapan papanya.


"Selain itu?" tanya Vano lagi.


"Selain itu? Emang ada apa lagi. Yang papa tahu kamu di antar Galang sampai depan apartemen itu aja, setelah itukan kamu masuk ke dalam kan?"


"Iya papa benar Vano langsung masuk ke dalam." jawab Vano cepat agar papanya tidak curiga.


Papa William hanya menganggukkan kepalanya saja. Sementara asisten Rudi dan paman Leo sedari tadi hanya sebagai pendengar obrolan antara anak dan papa yang jika berbicara pasti ada saja perdebatan kecil yang tidak ada ujungnya.


"Oh iya, kata papa tadi kan papa tahu apa yang terjadi pada Vano malam itu."


"Pasti papa tau dong siapa yang sudah menjebak Vano malam itu?" tanya Vano pada papanya.


"Iya papa tahu." jawab papa William menatap luar jendela tanpa menatap Vano yang duduk di sampingnya.


"Siapa pa?"


"Orang yang sama." sambil mengalihkan pandangannya kearah Vano.


"Yang merentas sistem keamanan perusahaan papa?" tanya Vano penasaran.


Papa William mengangguk kan kepala.


"Mangkanya papa menyuruh kamu buat belajar dunia lain selain perusahaan agar suatu saat jika mereka menyerang kamu sudah siap." jelas papa William.


"Kalau begitu Vano akan belajar dengan serius, Vano akan belajar dengan serius jadi papa tenang saja percayakan semuanya sama Vano."


"Papa percaya sama kamu." sambil mengelus rambut Vano yang jarang sekali dia lakukan setelah Vano beranjak dewasa.


Keduanya tersenyum penuh arti dengan ciri khas masing-masing. Leo dan Rudi yang berada di depannya pun bergidik ngeri melihat senyuman itu.


Senyuman yang menurut orang lainnya itu adalah senyuman yang sangat manis, tapi tidak dengan orang orang yang berada di dunia gelap. Senyuman itu adalah senyuman yang mematikan.

__ADS_1


Setelah itu mereka diam dengan pikiran masing-masing tidak ada lagi pembicaraan yang mengiringi perjalanan hingga sampai di mansion mewah yang akan di pakai untuk tempat tinggal Vano selama di Italia.


...***...


__ADS_2