
"Tamat riwayatnya kalian." ucap Vano saat melihat kedatangan papanya.
Bug.
"Aah sial*n muka gw..." teriakkan Vano bukan teriakkan kesakitan melainkan takut wajahnya hancur.
"Woy kalian lepasin dia." ucap papa William saat sampai di hadapan Vano dan orang orang yang menyadera Vano.
"Ehh ada bapak bapak bawa pasukannya nih, kalian takut gak gaes." seru orang sedari tadi mengunci pergerakan Vano.
"Enggak..." jawab kompak teman temannya yang membuat Vano tersenyum meremehkan.
'Cih berani beraninya mereka ngatain bokap gw bapak bapak, belum pernah di kasih bogeman mereka.' batin Vano menyayangkan sikap mereka pada papanya.
"Saya gak suka basa basi, kalian semua hajat mereka." seru papa William pada anak buah yang dia bawa.
Bug bug bug bug.
Anak buah papa William pun menyerang mereka semua yang ada di sana dan Vano pun akhirnya bisa terlepas dengan bantuan papa William.
"Udah kamu bawa istrimu pulang aja, biar ini jadi urusan papa." Vano pun menyetujuinya, dari pada capek capek gelut di sini mending pulang gelut ama istri di rumah. pikir otak Vano.
"Ya udah, sekarang mana istri Vano?" tanya Vano.
"Itu di mobil punya papa, kamu pakai mobil papa aja biar di antar sopir, punggung kamu masih sakit kan?"
"Ya udah Vano pulang dulu."
"Ayo papa antar ke sana."
Mereka berdua pun meninggalkan anak buah papa William yang menghadapi orang suruhan entah siapa itu buat hadang mobil Vano.
Bug bug bug.
Anak buah papa William terus menghajar habis habisan orang orang yang tadi menghadang Vano, meskipun jumlahnya banyak tapi soal ilmu beladiri mereka masih di bawah anak buah yang papa William bawa. Jadi bagi anak buah papa William menaklukkan mereka semua sangatlah mudah.
"Pa nanti sisain orang yang udah tonjok muka Vano, mau Vano cabik cabik bibirnya. Enak saja dia mau mati dengan mudah setelah buat wajah Vano kayak gini." ucap Vano di tengah perjalanan menuju mobil papanya.
"Iya papa juga tahu apa yang ada di otak kamu, nanti papa sisain juga mereka buat di tanya tanya siapa yang udah suruh mereka sebelum kita bantai semuanya."
"Papa emang yang terbaik dah, Vano jadi makin sayang."
"Dih, jijik papa dengernya."
"Hahaha..."tawa receh keduanya.
"Kalian hati hati di jalan, pak jagain mantu saya." ujar papa William saat mobil yang mengantar Vano dan Vanya akan berangkat.
__ADS_1
"Siap tuan." jawab si sopir.
"Vanya pamit dulu pa, Assalamualaikum." pamit Vanya sopan.
"Waalaikum salam." jawab papa William.
Mobil itu pun mulai bergerak meninggalkan tempat kejadian tadi membawa Vano dan Vanya.
"Hufft, bikin repot orang aja." ucap papa William saat matanya menangkap seseorang berpakaian hitam yang berada di salah satu mobil musuh tengah menatap ke arahnya.
"Cih, mainnya sembunyi sembunyi." papa William pun kembali ke anak buahnya, mengabaikan orang yang dia yakini adalah dalang dari semua ini, karena baginya belum saatnya dia memulai peperangan.
-
Setelah menempuh perjalanan tadi mereka akhirnya sampai di pekarangan mansion mewah milik Vano dan Vanya.
"Makasih pak, gak mau mampir dulu?" tanya Vano setelah turun dari mobil yang mengantarnya dan Vanya pulang.
"Saya langsung pamit saja tuan muda, tuan besar sudah menunggu saya." tolak pak sopir secara halus.
"Ya udah kalau gitu hati hati pak."
"Baik tuan, saya permisi dulu. Assalamualaikum." pamit pak sopir.
"Waalaikum salam." jawab Vano dan Vanya yang sedari tadi diam dengan kompak.
"Yuk yank kita masuk." mau mengandeng tangan Vanya tapi segera di tepis oleh Vanya.
"Yank, sayang kamu masih marah sama aku. Kamu gak kasian muka aku banyak yang lebam nih." teriak Vano yang tak di hiraukan Vanya.
"Hufft sabar, ayang nya Vano lagi cembekur." monolog Vano, Vano pun pergi menyusul istrinya memasuki mansion.
-
Vano langsung menuju dapur untuk mengambil es batu untuk mengompres lebam lebam yang ada di pipinya. Setelah itu dia mencari keberadaan istrinya di kamar guna mencari perhatian.
"Kita lihat saja, seberapa tahan yayang Vanya biarin abang pano kesakitan kayak gini." licik Vano.
Vano membuka pintu kamar dan dia melihat Vanya yang tengah berada di depan meja belajarnya tengah membaca buku.
Vano masuk dan segera duduk di sofa singel yang posisinya sangat dekat dengan meja kerja Vanya. Vano pun segera melancarkan aksinya demi menarik perhatian Vanya.
"Auw sstt." ringis Vano saat menekan nekan bagian yang lebam dengan es batu yang sudah di bungkus kain.
Vanya yang sudah menyadari kehadiran Vano sedari tadi pun pura pura tetap fokus membaca buku, padahal mah tangannya sudah gatel ingin mengobati lebam lebam yang ada di pipi Vano.
'Fokus Vanya fokus, jangan kepancing. Ingat lo lagi marah sama Vano.' batin Vanya sambil melirik Vano sebentar.
__ADS_1
"Aduh perih banget lagi."
"Auw sstt." ringis Vano pura pura kesakitan, padahal mah bagi Vano hal begitu sudah sering dia alami.
'Tahan Vanya tahan.' Batin Vanya lagi, berusaha mengontrol diri agar tidak peduli dengan Vano.
"Auw."
"Sini aku kompresin." runtuh sudah pertahanan Vanya, bagaimana juga Vano seperti ini juga gara gara melindungi dirinya.
Vano pun tersenyum senang dalam hati, karena merasa telah menang.
'Masuk perangkap juga kan.' batin Vano.
"Sini." Vano menarik Vanya untuk duduk di pangkuannya karena sofa yang Vano duduki tadi hanya cukup untuk satu orang saja, jadi dari pada Vanya berdiri kan Kasian.
"Ehh." kaget Vanya saat dirinya di dudukan di pangkuan Vano.
"Ayo obatin, sakit nih." mengalihkan perhatian Vanya agar tidak protes.
Akhirnya Vanya pun mengompres pipi Vano dengan tangan Vano yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Udah." ucap Vanya akan beranjak berdiri setelah menyelesaikan tugasnya.
"Ehh, mau kemana, udah di sini aja." cegah Vano mengeratkan pelukannya di pinggang Vanya.
"Lepasin Van, aku masih marah ya sama kamu." berontak Vanya.
"Idih marah kok bilang bilang." ledek Vano.
Mata Vanya melotot tajam menatap Vano yang membuat Vano menyengir menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Hehehe becanda sayang, udah dong jangan marah marah mulu, gak capek apa kamu." ucap Vano yang di anggap angin lalu sama Vanya.
"Emang kamu gak kangen sama aku hmm." lanjut Vano.
Vanya tak mau menatap wajah Vano, dia menatap ke arah lain demi menghindari tatapan Vano.
"Hei liat sini dong." menarik dagu Vanya agar menatap dirinya.
"Emang siapa sih yang bilang kalau aku pelukan sama cewek di taman hmm, aku gak selingkuh dari kamu, aku tuh cuma cinta sama kamu. Kalau kamu gak percaya kamu bisa tanya kak Farrel sama Vino." ucap Vano agar Vanya mau ngobrol dengan dirinya.
"Ngapain tanya Vino, orang Vino sendiri yang ngasih tau aku." ucap Vanya jutek.
"Apa!! Vino yang bilang gitu sama kamu?" tanya Vano geram yang di angguki Vanya.
"Dasar bocah piyik."
__ADS_1
...***...
Kurang greget gak sih adegannya, maaf kalau kurang enak di baca 😁🙏