
"Ehh, lo jangan ganggu urusan kita ya. Kalau lo ganggu lo bakal kita..."
"Kita apa hmm?" Vano memotong omongan ketua preman yang menghadang Vanya.
"Lo bakal gw antar ke neraka secara suka rela."
"Cih, beraninya keroyokan. Lo pikir gw takut." jawab Vano santai tanpa ada rasa takut dalam dirinya.
"Nantangin nih bos." kompor salah satu preman kepada bos nya.
"Hajar."
Bug, krak, bug.
Vano mengerahkan semua tenaganya untuk melakukan beberapa preman yang mengeroyoknya.
Vanya yang berada di dalam mobil pun merasa khawatir sama Vano. Bukan meragukan kemampuan Vano, hanya saja mereka mainnya keroyokan tanpa memberikan celah buat Vano untuk bernafas.
"Aduh gimana ini, apa gw bantuin aja ya?" bingung Vanya dalam mobil.
Vanya membuka pintu mobilnya berniat membantu Vano, tapi segera di larang oleh Vano.
"Jangan keluar dari mobil." Teriak Vano di sela sela pukulan yang dia terima.
Vanya yang mendengar itupun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil.
"Kunci pintunya." tambah Vano lagi.
Vanya pun mengikuti arahan Vano, dia segera mengkuci mobil dari dalam karena dia melihat ada salah satu dari mereka yang menghampirinya.
Tok tok tok.
"Buka pintunya." pinta preman itu pada Vanya sambil menggedor-gedor pintu mobil.
Vanya diam saja tidak menyahuti ucapan preman itu.
Vano yang melihat Vanya di godain pun merasa panas hatinya, dengan gerakan cepat Vano akhirnya bisa mengambil balok kayu dari salah satu preman yang menghajarnya.
Bug bug bug.
Dengan gerakan memutar Vano memukul preman preman itu satu persatu hingga mereka tepar di buat Vano.
"Cih, jago juga lo." ucap ketua preman itu sambil membuang ludahnya.
Vano hanya menanggapinya dengan senyuman sinis.
Preman itu tersenyum penuh arti dan tanpa Vano ketahui dari belakang ada yang hendak memukulnya mengunakan balok kayu.
Vanya yang melihat itu pun ingin menolong Vano tapi dia sudah terlambat.
Bug.
"Agrr." erangan Vano saat ada benda yang memukulnya dengan keras.
"Vano." teriak refleks Vanya.
"Hahaha.."
"Gimana masih mau ngelawan Hah." ketua preman itu berjalan menghampiri Vano dengan memegang pisau di tangannya.
Saat ketua preman itu tiga langkah lagi akan sampai di posisi Vano ada...
Brum Brum Brum.
__ADS_1
Citt...
Vanya mengemudikan mobilnya memutari posisi Vano dengan gaya freestyle sehingga membuat ketua preman dan preman yang memukul Vano itu pun mundur karena takut di tabrak.
"Van, naik." ucap Vanya dari dalam mobil.
Vano melihat keadaan yang tidak memungkinkan dia bisa melawan pun segera menaiki mobil Vanya di jok bagian belakang.
Brum....
Setelah Vano naik ke dalam mobil Vanya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan para preman itu pun kesal di buatnya.
"Sial mangsa kita kabur."
Preman itu pun mengambil motor Vano yang tertinggal di situ beserta kunci motornya.
-
"Hufft akhirnya bisa lolos juga." ucap Vanya yang merasa lega.
Sedangkan Vano yang berada di jok belakang pun merasa lelah.
"Sini biar gw aja yang bawa mobilnya." ucap Vano karena dia gengsi dong, masak cowok di setirin sama cewek.
"Udah kamu istirahat aja biar aku ya bawa." tolak Vanya.
Vano pun beranjak dari jok bagian belakang pindah ke jok samping Vanya.
"Ehh kamu mau ngapain?" tanya Vanya.
"Udah diam, fokus nyetir aja."
Vano duduk dengan tenang di samping Vanya.
"Hmm, santai aja kali. Sesama manusia kan harus saling tolong menolong."
Meskipun Vano menolongnya sebagai sesama manusia bukan sebagai seorang yang penting dalam hidupnya, tapi Vanya tetap merasa senang. Vanya sekejap lupa akan misi yang dia rencanakan.
"Motor kamu gimana Van?" sambil menengok ke arah Vano.
"Beli yang baru lah." jawab sombong Vano.
"Tapi itu kan motor kesayangannya kamu?"
"Iya sih, tapi kan nanti gw bisa beli yang keluaran terbaru."
"Maafin aku ya, gara gara aku kamu jadi kehilangan motor kesayangannya kamu."
"Ya elah santai aja sih cuma motor doang juga, tinggal beli di dealer banyak."
Vanya menyesal sudah bertanya seperti itu kepada Vano, dia lupa bahwa Vano tuh horang kaya.
Vanya hanya menjawab dengan anggukan kepala saja, setelah itu keheningan menyelimuti perjalanan menuju apartemen dengan Vanya yang mengemudikan mobil dan Vanya sebagai penumpang.
Mereka sampai di apartemen pukul sembilan malam. Vanya segera ke dapur mengambil air es dan handuk kecil untuk mengompres punggung serta memar memar yang ada di pipi Vano akibat berantem tadi.
"Sini aku obatin." ucap Vanya menghampiri Vano yang sedang duduk bersandar di sofa.
Vano menurut saja karena punggungnya rasanya amat nyeri.
"Buka bajunya!" pinta Vanya.
"Hah." beo Vanya.
__ADS_1
Apakah Vano salah mendengar, benarkah Vanya memintanya untuk membuka baju. pikir Vano.
"Gak usah ge-er aku cuma mau ngobatin punggung kamu. Masak iya mau ngobatin dari luar baju kan gak tahu mana yang luka."
Vano pun membuka bajunya dan terlihat lah memar memanjang yang di sebabkan oleh balok kayu tadi.
Vanya yang melihat punggung polos Vano pun teringat akan malam itu, tapi dia segera menghilangkan pikirannya.
Vanya segera mengompres punggung Vano dengan sangat hati-hati agar tidak menyakiti Vano.
"Sssttt, pelan pelan sakit tauk." omel Vano.
"Iya ini pelan." Vanya terus melanjutkan kegiatan mengompres punggung Vano sambil ngedumel dalam hati.
'Kenapa tadi gak kepalanya aja sih yang di pukul biar otaknya kembali.' batin Vanya.
Setelah selesai mengompres dan mengobati punggung dan pipi Vano Vanya pun beranjak untuk mengembalikan barang P3K ke dalam tempat semula.
Setelah itu dia dengan mode cuek seperti semula beranjak menuju kamar.
"Van." pangil Vano pada Vanya.
Vanya hanya menoleh dan menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya ada apa.
"Eemm gw besok mau ke luar negeri." ucap Vano.
"Trus?"
'Yaelah nih anak masih cuek aja, gw kira udah maafin gw karena udah gw tolongin.' Batin Vano saat menyadari sikap Vanya yang kembali seperti kemarin.
"Ya gw cuma bilang aja biar lo gak nyari."
"Siapa juga yang mau nyariin kamu." balas Vanya cuek bebek.
"Ya gak ada juga sih yang bakal nyariin, ehh tapi mending lo untuk sementara tinggal di rumah mama aja ya. Gw khawatir kalau lo tinggal sendirian di sini."
Vanya hanya diam sebagai pendengar yang baik dan menunggu kelanjutan ucap Vano.
"Mama juga bilang katanya udah kangen banget sama lo."
Mendengar itu Vanya yang tadi mengira Vano menyuruhnya untuk tinggal di rumah mama itu dia kira rumah mama Vani, ehh ternyata salah.
"Tinggal di rumah mama kamu maksudnya?"
"Iya di rumah mama, lo udah lama kan gak ke sana."
"Tapi..."
"Udah besok lo libur kan sekolahnya, sekalian barengan gw jemput papa mau ke bandara." jelas Vano tanpa mau di bantah.
"Kamu ke sana sama papa?"
"Iya tapi papa cuma nganter aja, setelah itu papa pulang."
"Baiklah kalau gitu aku ngikut aja. Udah kan, kalau udah aku mau ke kamar dulu."
Vano pun hanya mengangguk, dia bingung harus ngomong apa sama Vanya. Vano merasa kikuk jika berbicara dengan Vanya yang dalam mode cuek.
Saat berada di tengah-tengah tangga tiba-tiba Vano menghentikan langkahnya.
"Ehh tunggu Van...
...***...
__ADS_1