
Sepulang sekolah Vanya dkk dan Vano dkk beneran menjenguk Cindy di rumah sakit tanpa ganti baju dulu, tak lupa juga mereka membelikan seblak, bakso setan dan mie gacoan dengan tingkat kepedasan yang tinggi.
"Yok gaes kita masuk." ajak Rangga semangat setelah sampai di parkiran rumah sakit.
"Ayok lah."
Mereka pun masuk ke dalam rumah sakit, tak lupa juga mereka tanya kepada resepsionis rumah sakit di mana letak kamar rawat Cindy.
"Permisi saya mau tanya, ruangan atas nama Amelia Cindy Sanjaya di mana ya?" tanya Sonya pada resepsionis.
"Bentar saya cari dulu ya mbak." resepsionis itu pun mengetikkan sesuatu di atas keyboard komputer yang ada di depannya.
Vano dkk dan Vanya dkk pun dengan sabar menunggu jawaban di mana letak kamar rawat Cindy. Padahal mah dalam kamus mereka tidak ada yang namanya kata menunggu, menunggu itu membosankan.
"Atas nama Amelia Cindy Sanjaya berada di ruangan mawar di lantai 3." ujar resepsionis itu.
"Kalau gitu kita pergi dulu, makasih." balas Sonya ramah.
"Ehh gimana nanti kalau kita di usir." ucap Sisil saat berada dalam lift.
"Ya kita usir balik lah, gitu aja susah." sahut Galang.
"Gw suka gaya lo Lang." ucap Vano sambil menepuk pundak Galang.
"Ya harus dong, kita tuh jangan mau di ijek ijek, emang kita sendal apa." balas Galang.
"Wehhh, temen gw kemasukan ape nih, kok kata katanya bagus bener." puji Rangga.
"Yee sekate kate lo, gw dari dulu gak pernah salah ya, emang lo."
"Udah udah, kalian ini, ingat kita lagi di rumah sakit bukan di hutan." tegur Vanya.
"Tau tuh, berisik banget dari tadi." timpal Sisil.
Ting.
Pintu lift terbuka, mereka pun segera mencari di mana letak kamar mawar yang di tempati Cindy.
"Mana sih ruangannya, jauh bener." keluh Rangga, lantaran sedari keluar dari lift tadi mereka sudah berjalan sangat jauh tapi belum juga ketemu ruangan Cindy.
"Nah ini dia." seru Galang saat membaca nama yang tertera di pintu sebuah ruangan.
"Yok masuk." ajak Vanya semangat.
"Ehh bentar bentar." cegah Vano.
"Kenapa Van, lo gak mau ikut?" tanya Galang heran.
"Bukan gitu, tapi kita harus menyiapkan sesuatu dulu." ucap Vano sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"Maksud lo?" tanya mereka semua barengan kecuali Vanya.
"Gini, kan di dalam pasti ada yang jaga. Nah kita harus urus yang jaga supaya keluar dari dalam, kalau dia udah keluar kan kita jadi bebas mau ngapain aja di dalam." ide Vano.
"Bagus juga ide Lo, tapi caranya gimana?" tanya Sonya.
"Gini..." menjelaskan panjang kali lebar.
"Kok gw." tunjuk Rangga pada dirinya sendiri.
"Kan cuma lo yang pantes jadi OB." canda Vano sambil meledek.
"Baiklah jika itu buat kalian senang, apa sih yang enggak. Apalagi kalau buat bebeb yayang ku tercinta." gombal Rangga pada Sisil.
"Iiiss apaan sih." salting Sisil.
"Udah nanti aja pacarnya, sekarang kita cari dulu seragam OB." tegur Sonya, karena dia juga merasa panas, orang dia jomblo.
"Eemmmm mana ya?" Vanya melihat lihat keadaan sekitar, hingga pandangannya tertuju kepada seorang OB cowok yang tengah membersihkan kaca jendela.
Vanya pun pergi meninggalkan teman temannya.
"Ehh sayang mau kemana?" teriak Vano tak di hiraukan oleh Vanya.
"Maaf mas tolong suaranya di pelanin, ini rumah sakit bukan hutan." tegur seorang perawat laki laki pada Vano.
"Maaf mas, memang ini teman saya rada gila." ucap Galang.
"Sia**n lo gw masih waras." menabok punggung Galang.
"Tuh cewek lo ngapain Van di sana, mana ngobrol sama cowok lagi." ucap Rangga yang membuat dada Vano bergemuruh menahan diri agar tidak lepas kontrol karena ini di rumah sakit.
"Wah parah nih Van, masak Vanya gak ngehargain lo sih." timpal Galang memanas manasi Vano.
"Kalian ini apaan sih, orang Vanya lagi cari baju buat bebeb Rangga kok." ucap Sisil membela Vanya.
"Tau nih, lo juga Van jangan mudah kepancing sama omongan mereka berdua." timpal Sonya.
"Hufft..." Vano menghela nafasnya.
"Resiko punya temen sesad ya gini." sindir Vano pada kedua temennya.
"Sesad sesad gini, cuma kita yang setia sama lo." balas Galang.
Dari kejauhan rupanya Vanya sudah mendapatkan baju OB buat Rangga, terbukti dengan di tangannya yang memegang sebuah paper bag.
"Nah gw udah dapat bajunya, sekarang tinggal lo ganti baju." menyerahkan paper bag kepada Rangga.
Mau tak mau Rangga pun mengambil paper bag itu dan segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
__ADS_1
"Apa, gak usah cemberut gitu mukanya, jelek." ucap Vanya saat melihat wajah Vano yang cemberut.
"Lagian kamu tadi ngapain pakek bicara segala sama OB tadi, kan aku cemburu." Vano merajuk.
"Ya Allah Vano, kamu itu kalau mau cemburu liat liat orangnya napa, aku juga kalau mau selingkuh pilih pilih kali. Ya kali kamu yang spek sultan malah aku tinggal selingkuh dengan OB." tak habis pikir Vanya dengan tingkah Vano.
"Ya kan kan, tauk ahh aku marah sama kamu." melipat tangannya di dada.
"Lah." cengoh Vanya.
"Udah deh kalian ini kalau mau mesra mesra an jangan di depan jomblo, jam berapa sih keberangkatan ke mars." mendramatisir Sonya.
"Mangkanya ayo pacaran sama gw biar gak jomblo." sahut Galang.
"Noh Soy, ada cowok ganteng jangan di angurin." ucap Sisil sambil menyengol lengan Sonya.
"Dih najis." sok jual mahal.
"Najis najis gini entar jadi imam lo juga." gombal Galang.
"Bac*d." ucap kasar Sonya sambil berlalu duduk di tempat yang sudah di sediakan di depan ruang rawat.
"Aduh cantik banget sih kalau lagi marah." goda Galang.
"Pepet terus Lang, sepertiga malamnya jangan lupa." dukung Vano pada Galang.
Sonya pun mencari kesibukan dengan membuka ponsel pintarnya untuk menutupi kegugupannya.
"Misi mas, saya mau membersihkan lantai." ucap seorang OB yang wajahnya tertutup oleh masker dan topi.
"Oh iya mas silahkan." Galang minggir dari tempat yang akan di pel oleh OB itu.
"Ehh tunggu dulu deh, kayak ada yang aneh." ucap Sisil saat menyadari sesuatu.
Mereka semua pun diam dengan pikiran mereka masing-masing dan OB tadi pun membuka masker serta topinya.
"Ayang." ucap Sisil setelah melihat wajah si OB.
"Kampr*t lo, gw kira OB beneran." menabok punggung Rangga.
"Sakit beg*." aduh Rangga.
"Ehh btw lo pantes pakai itu Ngga." ucap Vano.
"Ya udah ayo lo masuk, jangan lupa rencana kita tadi." perintah Vanya.
"Ya udah gw masuk dulu."
Rangga pun memakai masker serta topinya lagi, di dalam wajah yang tertutup masker itu Rangga tersenyum sedu mengingat ucapan Vano.
__ADS_1
Mengabaikan hal itu, Rangga pun segera membuka pintu ruang dan masuk ke dalam ruangan yang terdapat Cindy di dalamnya.
...***...