
"Yuk kita masuk." ajak Vano setelah sampai di depan sebuah villa.
Vanya mengikuti langkah Vano yang menggandeng tangannya memasuki sebuah villa mewah yang pemandangannya langsung menghadap pantai.
"Nah ini kamar kita." ucap Vano membuka pintu sebuah kamar di lantai dua.
"Wah.." Vanya terpesona dengan infrastruktur kamar ini, dia segera berjalan membuka gorden yang menutupi jendela kaca kamar yang ukurannya sangat besar.
"Indah banget." terkagum kagum Vanya setelah membuka gorden yang menampilkan pemandangan laut dan pantai yang indah nan bersih, dengan air yang berwarna biru di hiasi ombak kecil yang sepertinya asik bila buat berenang.
"Kamu suka?" tanya Vano menghampiri Vanya yang tengah berdiri di depan jendela. Vano memeluk Vanya dari belakang dengan menaruh kepalanya di samping bahu Vanya dan tangan yang melingkar di perut Vanya.
"Suka banget." membalikkan badannya menghadap Vano.
"Makasih." ucap tulus Vanya kepada Vano yang sudah mengajaknya jalan-jalan ke Bali.
Mereka saling mendekatkan wajahnya masing-masing dan entah siapa yang mulai bibir mereka saling mel***t satu sama lain dengan lembut bahkan sangat lembut.
Cup.
Vano mengakhiri dengan kecupan setelah berci***n beberapa menit lamanya. Vano memandang wajah Vanya yang menurutnya semakin hari semakin cantik.
"Makasih ya udah mau maafin kesalahan aku." ucap Vano menatap Vanya intens.
"Aku juga mau bilang makasih sama kamu karena udah mau mengingat aku kembali dalam hidup kamu." balas Vanya tak kalah tulus dari Vano.
Vano menarik Vanya dalam pelukannya, karena tinggi Vano yang lebih tinggi dari Vanya sehingga posisi kepala Vanya berada pada dada bidang Vano yang membuat Vanya bisa mendengar dekat jantung Vano.
"Kita mulai semuanya dari awal lagi, kita ciptakan rumah tangga yang harmonis penuh canda dan tawa dan aku mohon sama kamu, jangan ada yang kamu sembunyikan dari aku apapun itu, baik atau buruk kamu harus bilang sama aku ya." mengelus rambut Vanya sambil menikmati aroma rambut Vanya yang memabukkan.
Vanya tak bisa berkata kata lagi, dia hanya menjawab ucapan Vano dengan anggukan kepala saja.
Vanya melonggarkan pelukannya dia menatap ke atas di mana wajah Vano berada.
"Kamu gak masalah kan kalau aku nunda dulu buat punya anaknya sampai kita lulus nanti?" tanya Vano.
Vano tersenyum sangat manis sekali yang jarang orang lain lihat dan hanya Vano berikan kepada Vanya serta keluarganya saja.
"Iya gak apa apa, aku ngerti kok, maafin aku yang kemarin sampai marah marah sama kamu. Kita nikmati masa masa kita berdua dulu sebelum ada orang ke tiga." ucap Vano yang membuat Vanya hampir marah.
Vanya melepaskan paksa pelukannya dan menatap Vano tajam.
"Anak kita orang ketiga sayang. Ngapain di lepas sih, sini dong kita pelukan biar kayak orang yang lagi pacaran. Marah marah mulu nanti cepet tua." menarik Vanya dalam pelukannya lagi.
"Aaaww sakit yank, kamu ini suka banget KDRT." menatap Vanya yang sedang menatap ke atas lebih tepatnya ke arah Vano.
"Lagian kamu ngeselin." mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Cup.
"Suka banget di cium nih bibir."
Vanya blusing di buatnya, Vanya memilih menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Vano sambil mengeratkan pelukan mereka.
-
Setelah makan siang Vanya merengek minta ke pantai katanya mau liat sunset. Padahal kan sunset itu masih nanti sore, tapi mau tak mau Vano menuruti permintaan istri tercintanya dari pada nanti ngambek kan gak lucu.
Dan di sini lah mereka berdua, di pinggir pantai berjalan menyusuri pantai dengan bergandengan tangan. Banyak yang mengira mereka adalah sepasang kekasih karena memang umur Vano dan Vanya yang masih belasan tahun.
"Kita duduk di situ yuk." ajak Vano yang melihat ada tempat duduk yang kosong tak ada penghuninya.
Mereka duduk di sebuah batang pohon yang di sulap menjadi tempat duduk bagi wisatawan yang sangat nyaman bila di tempati, apalagi yang posisinya di bawah pohon sehingga tidak terasa panas jika di siang bolong seperti ini.
"Mau es kelapa?" tawar Vano saat matanya melihat penjual es kelapa.
"Mau."
"Ya udah kamu tunggu sini benar, aku mau beli di sana."
Vano pergi membeli es kelapa, sedangkan Vanya tengah menikmati angin sempoi sempoi yang menerpa rambutnya hingga terbang terbang.
"Nih." Vano kembali membawa 2 buah kelapa muda yang bagian ujungnya sudah di buka dan di beri sedotan.
"Kamu keknya happy banget kita jalan jalan ke sini, emang kamu gak pernah ke sini?" tanya Vano, pasalnya sedari masuk villa Vanya wajah Vanya selalu tersenyum senang seperti orang yang mendapatkan hadiah uang ratusan juta.
"Pernah sih dulu waktu aku kecil, tapi udah lama banget. Kan aku sama papa selalu di suruh belajar jadi ya gak ada waktu buat jalan jalan, apalagi semenjak kakak koma." jawab Vano memandang kosong ke depan mengingat kisahnya.
"Sayangnya Vano gak perlu sedih lagi, mulai sekarang kalau kamu mau jalan kemana pun bilang sama aku, kita pergi jalan-jalan bersama." memang Vanya.
Vanya menoleh ke arah Vano dan tersenyum, ia bersyukur bisa kenal dengan Vano dan keluarga Vano yang sangat baik padanya.
"Termasuk belajar, apakah kamu akan mengekangku juga?" tanya Vanya.
"Kalau soal itu kita belajar sama sama, tapi jangan terlalu berlebihan biasa biasa saja, masak iya istri seorang Vano mau malas malasan belajar ya jangan dong, cukup aku aja yang malas kamu jangan." jawab Vano di akhiri dengan candaan.
"Iiiss kamu nih." mencubit lengan Vano.
"Yank."
"Apa?" Jawab Vanya tanpa merasa bersalah karena telah mencubit Vano.
"Kenapa kamu suka sekali cubit aku sih, nih lama lama tubuh aku lebam semua." omel Vano.
"Gak usah lebay, orang cuma gini doang kok." mencubit Vano lagi setelah itu Vanya berlari meninggalkan Vano agar tak kena hukuman dari Vano.
__ADS_1
"Ooh kamu berani ya sama aku. Awas aja." mengejar Vanya yang sudah berlari hampir jauh darinya.
Mereka berlari kejar kejaran di pantai sambil tertawa bahagia, terutama Vanya dia sangat bahagia hari ini. Karena langkah kaki Vanya yang kecil dan langkah kaki Vano yang lebar membuat posisi Vano hampir menangkap Vanya.
"Kejar aku kalau bisa." teriak Vanya sambil menoleh ke belakang.
"Awas ya kalau kamu kena, aku hukum kamu." ancam Vano.
"Gak kena wlee." menjulurkan lidahnya ke Vano.
"Awas ya." dikit lagi Vano akan bisa menggapai tubuh Vanya.
Dan akhirnya...
"Aa kena." mendekap tubuh mungil Vanya dan setelah itu Vano menggelitik perut Vanya yang membuat Vanya tertawa terpingkal-pingkal karena kegelian.
"Hahaha stop by, geli." mohon Vanya sambil tertawa.
"Rasakan ini, hahaha." Vano ikut tertawa.
"Stop by, plis stop geli." mohon Vanya lagi yang membuat Vano menghentikan glitikan nya pada tubuh Vanya karena kasihan.
Mereka saling diam menetralkan nafas mereka masing-masing sambil saling pandang satu sama lain, dan dengan tiba-tiba Vano mengakat tubuh Vanya ke udara yang membuat Vanya berteriak.
"Aaaa Vano turunin." teriak Vanya.
"Kalau aku gak mau gimana?" goda Vano.
"Ya udah kamu tidur di luar." ancam Vanya.
"Dih kok gitu, gak asik ahh ngancem gitu mulu." menurunkan Vanya.
"Biarin."
Mereka memandang ke lautan lepas sambil berpegangan tangan satu sama lain.
Sementara dari arah lain ada seseorang yang berpakaian hitam hitam yang ingin mencelakakan salah satu dari mereka tanpa sepengetahuan Vano dan Vanya.
Orang itu bersembunyi di balik pohon kelapa dan mengarahkan sebuah pistol ke arah Vano dan Vanya.
Orang itu menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya dan..
DOR...
...***...
__ADS_1