
"Dengar aku, apapun yang terjadi kamu jangan keluar dari mobil, kamu kunci mobilnya dari dalam. Dan aku minta sama kamu, tolong kamu kabarin papa atau kak Farrel. Aku keluar dulu, ingat jangan keluar apapun yang terjadi nanti." ucap Vano panjang lebar.
Vanya mengelengkan kepala, dia menolak dengan keras keinginan Vano keluar dari mobil.
"Enggak kamu jangan keluar, mereka banyak Van kamu di sini aja sampai nanti papa datang."
"Kalau aku gak keluar mereka malah akan semakin menyerang kita, udah ya aku keluar dulu cepat kamu telfon papa, ingat kunci pintunya." Vano pun keluar mengabaikan suara Vanya yang menyuruhnya tetap diam di mobil.
"Enggak Van, Vano." Vanya gagal menahan Vano.
"Kunci mobil." ucap Vanya saat teringat dengan perintah Vano.
Vanya pun segera mengunci mobil dan segera menghubungi papa William.
'Halo pa.' sapa Vanya dengan nada panik.
'Halo sayang, ada apa kok kamu panik gitu, kalian gapapa kan?' tanya papa William yang mendengar suara panik Vanya.
'Papa bisa cepat ke sini gak, mobil kita lagi di hadang orang, dan sekarang Vano lagi mau lawan mereka sendirian. Vanya takut Vano kenapa napa.'
'Ya udah kamu tenang ya, sekarang kamu share di mana lokasi kalian, papa akan segera menyusul ke sana.'
'Iya pa Vanya share sekarang.'
Tut.
Vanya pun segera nge-share di mana lokasi mereka sekarang pada papa William.
-
"Mau apa kalian?" tanya Vano datar saat keluar dari mobil.
"Hahaha gede juga nyali lo." ucap salah satu dari orang yang menghadang Vano.
"Cih." decak Vano.
"Serahin wanita lo dan lo bakal aman."
"Jangan harap."
"Oh lo berani sama kita Hah." gertak penghadang itu tapi tak membuat Vano gentar.
"Ya kali gw takut, seratus orang sekalipun gw jabanin kalau mereka berani ganggu cewek gw." jawab mantap Vano.
"Lo.." menunjuk wajah Vano.
Kretek.
"Aaaaa.." teriakkan orang yang menunjuk wajah Vano, lantaran tangannya di pelintir oleh Vano, Vano mengunci pergerakan orang itu dari belakang agar tidak banyak gerak.
"Apa hmm, lo pikir gw takut." berbisik di telinga orang yang Vano plintir tangannya.
"Kalian semua ngapain diam aja, serang dia." ucap orang itu menyuruh teman temannya yang lain untuk menghabisi Vano.
Dan mereka pun satu persatu bahkan ada yang main keroyok Vano, tapi Vano tak kehilangan akal, dia mengunakan orang yang tadi di plintir tangannya sebagai tameng.
Bug bug.
__ADS_1
Dua pukulan mendarat sempurna di wajah serta perut orang itu dari temannya sendiri.
"Sia**n bang**t kenapa kalian malah gebukin gw." maki orang yang berada dalam kuncian Vano.
"Maaf bos." ucap si penonjok merasa bersalah.
Oh Sekarang Vano tahu, sepertinya orang yang sedang berada di tangannya ini adalah bos dari mereka semua, jadi Vano gak salah tangkap untuk di jadikan tameng buat mengukur waktu menunggu kedatangan papanya.
"Lepasin gw bang**t." orang itu meronta ronta minta di lepaskan oleh Vano.
"Oh tidak semudah itu."
Kretek.
Vano malah semakin mengeraskan plintiran tangan orang itu.
"Sia**n sakit anj**g." maki orang itu kesakitan.
Bug.
"Sakit anj**g." umpat orang itu lagi, karena temennya itu malah menonjok dirinya bukan Vano.
Yang nonjok tadi niatnya mau menonjok Vano karena Vano gak liat, ehh tau taunya Vano tahu gerak gerik dari mereka, jadi ya yang kena bos mereka lagi.
"Maaf bos saya gak sengaja." ucap orang tadi merasa bersalah.
"Hahaha gimana, masih mau main main sama gw." tawa mengejek Vano.
"Cuih." orang itu membuang ludah di sepatu Vano.
"Si*l sepatu mahal gw." umpat Vano karena sepatu limited edition nya kena ludah anj**g.
"Aduh papa William mana sih kenapa lama banget, gimana nanti kalau sampai Vano kenapa napa." panik Vanya, kalau dia gak ingat pesan Vano tadi, rasanya Vanya ingin keluar saja dari dalam mobil buat bantu Vano.
Tok tok tok." tiba tiba saja kaca mobil di ketuk dari luar yang membuat Vanya kaget plus takut, lantaran yang mengetuk adalah salah satu dari mereka.
"Cantik buka pintunya dong." ucap orang yang mengetuk kaca mobil yang membuat Vanya enek mendengarnya.
"Aduh gimana ini." Vanya panik sekarang dia bingung harus apa, antara buka atau tidak.
Tok tok tok.
Orang itu mengetuk kaca mobil lagi.
"Sayang jangan di buka." teriak Vano di sela sela konsentrasi Vano menghadapi orang orang di depannya.
Vanya yang tadi berniat membukakan pintu pun mengurungkan niatnya.
"Berani lo ganggu cewek gw, abis lo semua." ancam Vano.
Tanpa Vano ketahui dari arah belakang ada yang memegang balok kayu dan mengarahkan pada punggung Vano. Vanya yang melihat itu pun khawatir dengan Vano, dia pun memutuskan untuk keluar dari mobil.
"Vano awas." teriak Vanya.
Bug.
Suara keras balok kayu itu menghantam punggung Vano.
__ADS_1
"Aaaa." erang Vano ambruk ke tanah dan melepaskan
"VANO." Vanya akan berlari menghampiri Vano tapi tangganya di tahan oleh seseorang.
"Mau kemana cantik, sini ikut abang." goda orang yang menahan tangan Vanya.
"Lapas." Vanya meronta ronta minta di lepasin.
"Bangs** jangan sentuh cewek gw anj**g." teriak Vano berusaha berdiri untuk menolong Vanya, tapi keburu di injak punggungnya oleh orang yang tadi tangannya Vano plintir.
"Mau kemana lo." ucap orang itu.
"****." umpat Vano.
Sekarang Vano sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena pergerakannya di kunci oleh beberapa orang, yang dia lakukan hanya menatap Vanya terus meronta ronta minta di lepaskan tangannya.
"Papa mana sih kenapa lama banget, gak tahu apa mantunya dalam bahaya." batin Vano.
"Lepasin gw beg*." Vanya berusaha melepaskan tangannya.
Senyum kelicikan muncul di wajah cantik Vanya, Vanya melirik orang orang di sekitarnya dan dengan gerakan cepat di menginjak kaki orang yang mencekal dirinya dan Vanya tambahin dengan menendang ******** orang laki laki itu.
Bug.
"Aduh aduh, masa depan gw..." rintih orang itu memegangi itunya.
Vanya memanfaatkan momen itu untuk kabur mencari pertolongan sekitar.
"Woy kejar dia." Vanya pun di kejar beberapa orang.
"Vanya..." pangil Vano yang tak di hiraukan oleh Vanya.
Vanya tidak bodoh, kalau dia menolong Vano nanti yang ada mereka berdua malah kena tangkap, jadi yang ada di pikirannya adalah mencari bantuan di sekitar.
"Hahahaha cewek lo aja udah gak peduli sama Lo, sini bangun." membangunkan Vano.
Bug.
Satu pukulan mendarat sempurna di pipi Vano.
"Aiiss."
Tiba tiba datanglah beberapa mobil menghampiri mereka, Vanya yang melihat itu pun segera berlari menghampiri mobil itu karena dia yakin itu adalah pasukan papa William.
"Papa." pangil Vanya saat melihat papa William turun dari mobil.
"Gimana kamu gak apa apa kan? Mana Vano?" tanya papa William.
"Vanya gapapa pa, tapi Vano dia di tahan sama mereka." menunjuk keberadaan Vano yang tengah di sandera.
"Siala* berani beraninya mereka lukain anak gw."
"Kamu masuk ke dalam mobil, Vano biar jadi urusan papa."
Vanya pun menurut saja demi kebaikan bersama.
...***...
__ADS_1
Senin nih yang vote nya nganggur kasih aku lah, nanti kalau rame lanjut 2 part.😁🥰