
"VANOOO..." teriak Vanya ketakutan sambil memejamkan matanya.
"Wuuu...wuuu..." seru Vano senang karena berhasil menyalip kontainer itu dengan mulus.
Vano menoleh ke arah Vanya sebentar sambil tersenyum smirk.
"Buka matamu sayang." ucap Vano setelah mengurangi laju mobilnya.
Dengan was was Vanya pun membuka matanya secara perlahan.
"Udah tenang aja, kita masih di dunia bukan di akhirat." ucap Vano lagi yang mendapat cubitan dari Vanya.
"Auw, sakit yank." keluh Vano.
"Biarin, kamu tahu gak..."
"Enggak." Vano memotong ucapan Vanya.
"Iiss aku belum selesai ngomong." kesal Vanya.
"Ya belum selesai, kirain udah." balas Vano dengan wajah tak berdosa miliknya.
"Iiiss kamu beneran ngeselin ya Van." makin kesal Vanya.
"Aduh sayang, jangan sering sering kesal nanti bisa bisa otak kamu konslet."
"Ya kamu yang bikin otak aku konslet."
"Hehehe ya maap, udah lanjutin tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Vano kembali ke topik awal.
"Aku mau bilang apa coba tadi, tuh kan lupa. Gara gara kamu sih." menyalahkan Vano.
"Lah kok aku, orang aku sedari tadi nyetir juga. Kamu nya aja yang pelupa." ejek Vano.
"Vano..."
"Iya iya salah aku."
"Nah gitu dong sekali kali ngalah."
"Oh iya aku udah ingat." lanjut Vanya.
"Apa?"
"Kamu tahu gak tadi waktu kamu bawa mobilnya kenceng banget, rasanya tuh nyawaku tertinggal di belakang." ujar Vanya serius.
"Dih lebay, orang cuma gitu doang." Vano menangapi ucapan Vanya.
"Tauk ahh kamu gak peka."
"Lah."
"Seharusnya kamu itu minta maaf gitu sama aku, trus di sayang sayang gitu." ucap Vanya merajuk.
"Ya udah nanti kalau sampai di rumah aku sayang sayang, sekalian kita olahraga." ucap ambigung Vano.
"Maksudnya?" tanya Vanya.
__ADS_1
"Enggak, gak jadi." alih Vano.
Saat mereka sedang enak berbincang bincang tiba-tiba saja handphone Vano yang ada di dasbor mobil berbunyi.
Drrtt drrtt drrtt..
"Van ada telfon." ucap Vanya.
"Angkat aja yank, palingan juga si Lucas yang marah marah gara gara kita tinggal di kantin." ucap Vano.
"Oh iya Lucas tertinggal di sana, terus sekarang dia gimana?" Vanya baru ingat jika tadi mereka meninggalkan Lucas yang tengah memesankan bakso untuk dirinya.
"Ya mangkanya angkat sayang ku... biar kita tahu sekarang dia ada di mana."
"Ya udah aku angkat dulu."
'Halo.' sapa Vanya.
'Halo, kok kalian tinggalin gw sendiri di sini sih.' cerocos Lucas dari sebrang sana.
"Yank sini biar aku yang ngomong." pinta Vano.
Vanya pun mendekatkan handphone Vano yang ada di tangannya kepada Vano.
'Halo.' sapa Vano.
"Halo Van, lo kok tega banget sih ninggalin gw sendiri di sini. Lo kan tahu gw belum ngerti daerah sini." cerocos Lucas.
"Ya itu hukuman buat lo, karena lo udah berani gangguin istri gw.'
'Halah gak usah bohong lo, gw tahu akal bulus lo yang mau bikin gw panas kan.'
'Udah nikmati aja hukumannya, nanti gw kirim lokasi di mana apartemen gw yang akan lo tempati.'
'Percuma lo kirim lokasinya kalau gw aja gak tahu gimana cara pakai kendaraan umum di sini.'
'Ya sekalian ini sebagai pelatihan pertama lo setelah mendarat.'
'Tauk ahh, lo ngeselin.'
Tut.
Lucas menantikan sambungan telepon secara sepihak yang membuat Vano mengumpati Lucas.
"Sial*n nih anak, berani beraninya dia matiin sambungan telepon dari gw." umpat Vano.
"Udah sabar, sini handphonenya biar aku kirimin alamatnya ke Lucas." ucap Vano.
"Apartemen yang dulu kita tempati itu kan?" tanya Vanya memastikan.
"Iya, sebenarnya mau aku belikan yang baru buat Lucas, tapi kan sayang apartemen ku yang itu gak ada yang nempatin." balas Vano.
Vanya pun segera mengirimkan di mana lokasi apartemen Vano berada kepada Lucas.
"Udah?" tanya Vano.
"Udah." jawab Vanya.
__ADS_1
Seolah lupa dengan ancaman yang Vanya berikan tadi pagi, Vanya berbicara biasa saja sama Vano. Tapi meskipun Vanya tidak lupa, ancaman tersebut tidak akan pernah berlaku untuk Vano, karena Vano punya seribu cara agar Vanya mau memaafkan dirinya.
-
"Gimana rencana lo Van?" tanya Farrel.
Ya, sekarang Vano, Farrel dan Lucas sedang berada di markas WD untuk membahas rencana yang sudah Vano rancang jauh jauh hari.
"Seperti rencana awal gw waktu itu, kita gunakan Vanya sebagai umpan agar mereka keluar." jawab Vano.
"Apakah ini tidak berbahaya, mengingat Vanya yang baru sembuh dari rasa traumanya." tanya Farrel.
Sedangkan Lucas hanya diam menyimak saja, karena dia harus mengerti masalah apa yang mereka hadapi saat ini.
"Justru karena itu, Vanya harus mengetesnya dengan mengulangi masa itu lagi. Apakah Vanya bisa bertahan atau tidak itu urusan Vanya dengan dirinya sendiri, kita di sini hanya berusaha agar dia tidak celaka itu saja udah. Tapi gw yakin sih, istri gw pasti bisa melewati ini nanti." jelas Vano.
"Trus caranya gimana kita mancingnya?" tanya Farrel lagi.
"Nanti saat weekend, gw bakal suruh Vanya buat pergi ke mall di temani bodyguard cewek yang gw suruh nyamar jadi pembantu di rumah gw. Dan setelah itu kita lihat apa yang terjadi nanti."
"Tapi gimana nanti kalau mereka gak tahu di mana Vanya berada di sana."
"Mereka tahu semua tentang Vanya, bahkan apa yang lo gak tahu dari Vanya, mereka semua tahu itu. Karena mereka sudah mengikuti Vanya sejak lama." ucap Vano.
"Maksud lo, Vanya di awasi gitu?"
"Iya, dan gw baru tahu akhir akhir ini saat gw sering nemani Vanya joging di taman."
"Trus tugas gw apa?" tanya Lucas yang sedari tadi diam.
"Lo nanti ikut gw lawan mafianya." jawab Vano.
"Wih, seru tuh lama gw gak lihat darah." celetuk Lucas semangat.
"Ya udah gw mau pulang dulu, udah di tungguin bini di rumah. Nanti gw kabarin lagi info info selanjutnya." ucap Vano dan bangkit meninggalkan Lucas dan Farrel.
"Latihan menembak yuk." ajak Lucas yang di setujui Farrel.
Mereka berdua pun latihan memakai senjata tajam terbaru yang baru saja Vano beli.
-
"Malam sayang." ucap Vano saat memasuki kamar miliknya dan Vanya.
"Lah kok sepi." gumam Vano karena tidak mendapati Vanya di sana.
"Yank." pangil Vano sambil membuka pintu kamar mandi tapi hasilnya tetap sama aja.
"Pasti di sana." Vano membuka walk in closed dan...
"Subhanallah." kagum Vano melihat pemandangan di depannya.
Di dalam sana Vanya memakai baju haram yang sangat transparan dan sexy yang memperlihatkan lukuk tubuh Vanya dari atas sampai bawah.
Dengan pelan pelan Vano mendekati Vanya yang tidak menyadari kehadirannya dan...
...***...
__ADS_1