
"Bisa kamu beri saya contoh?"pinta Vano mengabaikan rasa malunya.
"Bi-bisa tuan." gagap bodyguard itu, kapan lagi coba di mintai contoh oleh tuan Vano.
Vano pun memberikan satu buah kedondong pada bodyguard itu. Dan bodyguard itu pun memberikan contoh sekaligus menjelaskannya pada Vano. Vano yang orangnya cepat tanggap pun mengerti dan segera mempraktekkannya saat itu juga di hadapan kedua bodyguardnya.
"Kretes." bunyi buah kedondong yang hancur akibat di jepit pintu oleh Vano.
"Yes berhasil." senang Vano.
"Kalian berdua silahkan pergi dari sini, nanti kalian akan saya kasih bonus." usir Vano.
"Baik tuan, terima kasih."
"Hmm."
Kedua bodyguard itu pun segera pergi dari sana meninggalkan Vano yang di tangannya terdapat satu buah kedondong.
Dengan pelan pelan Vano mencoba mengigit remahan daging buah kedondong dan...
"Emmmm....ini enak banget." seru Vano merasakan perpaduan antara asem dan sedikit manis di dalam mulutnya.
Vano menghabiskan satu buah kedondong dengan lahap hingga hanya tersisa isinya saja.
"Yah kok abis sih." gumam Vano.
"Oh iya di dalam kan masih banyak." lanjut Vano dan segera berlari menuju meja makan.
"Gimana bisa gak?" tanya Vanya yang sudah menghabiskan setengah porsi sate kambing.
"Biasalah, rasanya enak tau yank. Kamu nanti harus coba in biar aku jepitkan di pintu. Oh iya tolong kamu bilangin ke Rangga sama Galang dong suruh ke sini, aku mau ajak mereka berdua makan kedondong." ujar Vano.
"Iya nanti aku bilangin." balas Vanya.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Vanya yang melihat Vano akan pergi sambil membawa keranjang buah yang berisi buah kedondong.
"Mau ke pintu belakang jepit buah kedondong." jawab Vano dan segera pergi dari sana.
"Emang seenak itu apa, sampai sampai Vano suka kayak gitu." gumam Vanya.
Vanya pun menjadi penasaran dan menyudahi acara makan sate kambingnya.
"Sri tolong simpan satenya lagi, nanti akan aku makan lagi." teriak Vanya dan segera pergi menghampiri Vano.
"Kretes kretes kretes..." Vano terus menjepit buah kedondong satu persatu hingga banyak.
"Pegel juga ya lama lama." gumam Vano yang merasa tangannya rada nyeri.
"Aha, pasti kalau di pintu yang lebih besar bakalan lebih mudah." ide Vano.
__ADS_1
Vano pun segera pergi dari sana menuju pintu depan yang ukurannya paling besar di mansion ini.
"Lah kok udah gak ada." Heran Vanya saat tidak mendapati Vano di pintu belakang.
"Oooh pasti sudah naik ke atas." lanjutnya.
Vanya pun memutuskan untuk pergi ke kamar dulu untuk mengambil ponselnya guna menghubungi teman temannya serta teman Vano.
Setelah selesai dan mendapatkan jawaban iya dari teman temannya, Vanya pun pergi ke lantai paling atas tempat nongkrong untuk mencari Vano. Karena Vanya mengira Vano ada di sana.
"Kretes kretes kretes..."
"Tuh kan lebih mudah di sini." ujar Vano saat melihat buah kedondong nya yang belum dia jepit tinggal sedikit.
Vano tak memikirkan keadaan pintu yang berwarna putih itu sudah kotor akibat perbuatan Vano, yang dia pikirkan hanya makan kedondong dengan puas.
-
"Permisi tuan, nyonya ini ada paket." ujar pak satpam menghampiri Fira dan Farrel yang tengah bersantai di ruang televisi.
"Hah, paket?" bingung Farrel pasalnya dia belum ada pesan barang.
"Oh itu punya saya pak." celetuk Fira setelah mengingat pesanannya tadi.
"Oh iya ini nyonya." memberikan paket itu pada Fira.
"Gak bayar kan?" tanya Fira.
"Kalau begitu saya permisi ke depan lagi tuan, nyonya." pamit pak satpam.
"Hmm." balas Farrel.
"Kamu pesan apaan?" tanya Farrel kepo setelah kepergian pak satpam.
"Oh ini, aku pesan pakaian lusa lalu tapi baru sampai hari ini." bohong Fira, karena mana mungkin dia jujur pada Farrel, bisa bisa nanti ketahuan.
"Ooh Pakaian, kalau mau pesan apa apa lagi bilang ya sama aku biar aku yang bayar." ucap Farrel.
"Iya byy, nanti aku kalau mau beli sesuatu bilang sama kamu. Ya udah aku ke kamar dulu ya mau taruh ini." ijin Fira dan di setujui Farrel.
Fira pun segera pergi ke kamar dan mencobanya di kamar mandi.
"Gilak gw sexy banget kalau pakai kayak gini. Serasa jadi jal*ng gw." gumam Fira menilai penampilannya sendiri.
Setelah du rasa pas, Fira pun melepaskannya kembali dan pergi menyimpan di dalam lemari agar tidak di ketahui oleh Farrel.
-
"Hai Van, lagi ngapain lo?" tanya Rangga dan Galang yang baru sampai di di belakangnya di ikuti Sonya dan Sisil.
__ADS_1
"Ehh, kalian udah sampai. Ini gw lagi jepit kedondong biar tidak terlalu asam." jawab Vano dan melanjutkan acara menjepit buah kedondongnya yang tinggal satu buah lagi.
"Dah, akhirnya selesai juga." seru Vano.
"Lo gak salah Van?" tanya Galang refleks saat melihat keadaan di pintu yang Vano gunakan tadi yang sudah kotor.
"Salah, emang gw punya salah apa?" balik tanya Vano.
"Ehh, kalian udah sampai ternyata. Yuk masuk." ajak Vanya tapi tak ada pergerakan dari teman temannya yang tengah fokus memandang pintu rumahnya.
"Kenapa sih..." seketika mata Vanya melotot melihat apa yang terjadi di hadapannya.
"VANO..."
"Aduh sakit yank lepasin." keluh Vano karena Vanya menjewer telinganya.
"Apa yang kamu lakuin HAH, sampai sampai pintu jadi kotor kayak gitu." marah Vanya tetap mempertahankan jewerannya pada kuping Vano.
"Aduh yank, sakit yank lepasin." mohon Vano.
"Jawab dulu, apa yang kamu lakuin sama pintu ini Hah."
"itu aku buat jepit kedondong." jawab Vano sambil meringis kesakitan.
"Kamu sudah gila Hah." melepaskan telinga Vano.
"Udah benar benar di pintu belakang kenapa malah pindah ke sini. Lihat nih jadi kotor kan." omel Vanya.
"Ya kan aku cari pintu yang lebih besar agar lebih mudah." bela Vano.
"Udah lah terserah kamu, mau kamu ganti atau kamu cuci tuh pintu. Ayo silahkan kalian masuk." mempersilahkan teman temannya dan teman Vano masuk.
"Makannya jangan banyak tingkah, kena semprot kan." ejek Rangga.
"Sial*n lo." balas Vano.
"Vano pun mengikuti teman temannya yang di bawa Vanya ke lantai atas. Setelah sampai di sana tak ada rasa bersalah sama sekali dalam diri Vano, dia malah asik asikan makan kedondong mengabaikan teman temannya.
"Enak banget ya Van?" tanya Galang yang sudah ngiler ludahnya.
"Enak banget malah." jawab Vano.
"Gw boleh minta satu gak Van?" pinta Sonya.
"Oh tentu boleh, nih silangkan di ambil. Gw masih punya banyak di belakang."
Sonya pun mengambil satu dan mencobanya.
"Asem banget." ujar Sonya setelah mengigit buah kedondong sambil matanya menyipit karena saking asemnya.
__ADS_1
...***...
Gak ada niatan kasih vote atau apa gitu, ini udah up part ke empat untuk hari ini dan aku masih mau lanjut satu part lagi.