
"Aaa..." teriak Vano saat kakinya yang keseleo di urut.
"Tenang tuan bentar lagi selesai." ucap tukang urut itu.
"Dari tadi bentar lagi bentar lagi mulu gak selesai selesai." sewot Vano pasalnya sedari tadi tukang urut itu selalu bilang bentar lagi selesai tapi gak selesai selesai.
"Kalau ini beneran tuan." balas tukang urut itu.
"Ya udah cepet."
Vano di dalam sendirian bersama tukang urut itu, papa Wijaya dan Farrel hanya menunggu di luar saja. Mereka berdua enggan menemani Vano karena mereka berdua sudah menduga kalau Vano nanti akan teriak teriak gak jelas.
"Silahkan tuan berbalik, biar saya pijat dari depan." pinta tukang urut pada Vano.
Vano pun menurut saja agar pijatnya cepat selesai dan dia bisa segera pulang.
Tukang urut itu tersenyum simpul, dia bohong sama Vano. Katanya mau mengurut dari depan tapi nyatanya dia tengah memegang kaki Vano dan mengangkatnya ke udara dan setelah itu...
Kretek.
"Aaaaa ..." teriak Vano kencang karena tukang urut itu mengkretek kaki Vano tanpa aba aba terlebih dahulu.
"Vano." ucap papa Wijaya saat mendengar teriakkan melengking Vano.
"Farrel kamu yakin yang di dalam itu tukang urut, kamu gak salah tempat kan?" takut papa Wijaya.
"Iya pa ini benar kok tempatnya, tuh liat ada palangnya." sambil menunjuk palang bener yang bertuliskan tukang urut.
"Tapi kenapa Vano sampai teriak teriak kayak gitu. Kita masuk aja yuk, papa khawatir sama Vano." ajak papa Wijaya.
"Udah deh pa kita di sini aja, tunggu sampai urutnya selesai. Lagian papa kayak gak thu Vano aja, mulutnya kan paling gak bisa diem." cegah Farrel.
"Tapi papa khawatir sama Vano, bagaimana nanti kalau dia kenapa kenapa."
__ADS_1
"Udah papa gak perlu khawatir, papa lupa siapa menantu papa itu. Dia kan anak dari ketua mafia pasti bisalah jaga diri."
"Hufft...ya udah lah terserah kamu aja." duduk kembali di tempat duduk yang di gunakan untuk orang orang yang menunggu saudaranya kalau lagi di urut di sini.
Sementara di dalam Vano tengah terdiam tidak bergerak sama sekali seperti patung.
"Tuan, tuan gak apa apa?" tanya tukang urut memangil Vano karena Vano hanya diam saja.
"Hmm." balas Vano.
Vano menetralkan nafasnya yang masih ngos ngosan dan tak lupa pula keringat yang membanjiri tubuhnya.
"Urutnya sudah selesai tuan, sekarang coba tuan gerakkan kakinya." pinta tukang urut itu.
Vano diam saja tak merespon ucapan tukang urut itu, dirinya masih syok dengan apa yang terjadi barusan.
"Tuan." pangil tukang urut itu lagi.
"Lo apain kaki gw Hah, sampai sampai rasanya mau putus." bukannya mengerakkan kakinya, Vano malah marah marah pada tukang urut itu.
"Bagaimana kalau nanti saya mati gara gara serangan jantung, kamu pasti akan di tangkap."
"Ya gak bakalan tuan, buktinya aja tuan gak mati kan." balas tukang urut itu seolah lupa dengan siapa pasiennya kali ini.
"Kamu nyumpahin saya mati Hah." garang Vano dan berdiri.
"Bu-bukannya begitu tuan, saya..."
"Tunggu dulu deh kok kayak ada yang aneh." potong Vano.
"Apa tuan yang aneh?" tanya tukang urut itu kepo.
"Aku udah bisa berdiri, aku udah bisa berdiri." senang Vano memeluk tukang urut itu.
__ADS_1
Tukang urut yang di peluk Vano pun bingung, bukannya sedari tadi dirinya menyuruh Vano untuk mengerakkan kakinya untuk mengecek keadaan Vano, tapi tadi Vano malah menolaknya. Dan sekarang setelah tahu baru dah tertawa.
"Makasih makasih karena kamu sudah menyembuhkan kakiku, aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dari tarif biasanya." ujar Vano saking senengnya.
"Terima kasih tuan, terimakasih." terharu tukang urut itu.
"Ya udah kalau gitu aku sudah boleh pulang kan?"
"Iya tuan anda sudah di perbolehkan untuk pulang, nanti kalau ada yang di keluhkan lagi silahkan datang ke sini."
"Nanti soal bayaran akan ada anak buah saya yang akan membayar."
"Kalau gitu saya permisi pergi dulu, assalamualaikum." pamit Vano.
"Waalaikum salam." balas tukang urut itu.
Ceklek.
Vano keluar dengan berjalan kaki sendiri tanpa di bantu oleh seseorang.
"Vano." ucap papa Wijaya saat melihat Vano keluar.
"Kamu udah bisa jalan?" tanya papa Wijaya.
"Iya pa, ya udah yuk kita pulang aku udah gak sabar mau makan rujak." balas Vano.
Vano berjalan duluan dan masuk ke dalam mobil bagian depan samping kemudi.
"Mentang mentang udah bisa jalan aja ninggalin gw, tadi aja minta minta untuk di bantuin jalan." gerutu Farrel kesal.
"Udah sabar, yuk susul Vano."
Mereka berdua pun pergi menyusul Vano masuk ke dalam mobil, dan setelah itu mobil pun melesat meninggalkan halaman rumah tukang urut tadi.
__ADS_1
...***...