
Vano beneran membawa Vanya ke mansion mereka tidak membawa Vanya ke rumah sakit.
Sampai di mansion Vano segera keluar dari mobil Sonya dan segera membuka pintu belakang membopong tubuh Vanya masuk ke dalam mansion.
"Pelayan." teriak Vano.
"Iya tuan, astaghfirullah nona kenapa tuan?" kaget kepala pelayan yang bernama Sri.
"Cepat hubungi dokter keluarga yang perempuan suruh periksa Vanya." perintah Vano sambil berlalu memasuki lift menuju kamarnya.
Meskipun dalam keadaan panik, jiwa cemburuan Vano masih ada bahkan kayaknya gak akan pernah terlepas.
Mendengar perintah tuannya, kepala pelayan itu pun dengan cekatan melaksanakan perintah Vano, karena kalau sampai terlambat bisa marah tuannya.
Sampai di kamar Vano meletakkan Vanya di atas ranjang dan melepaskan sepatu serta dasi yang melingkar di leher Vanya tak lupa Vano menyelimuti tubuh Vanya hingga perutnya. Setelah itu dia mencari sesuatu di kamar yang bisa membantunya untuk membangunkan Vanya dari kondisi tak sadarnya.
Vano mengambil minyak kayu putih dan segera mengarahkan tutup botol yang sudah dia buka ke hidung mancung Vanya.
"Sayang bangun dong, jangan buat aku khawatir kayak gini." ucap Vano memohon agar Vanya membuka kedua matanya.
Vano terus melakukan tindakannya bahkan Vano sampai mengoleskan minyak kayu putih itu ke bawah hidung, pelipis juga perut Vanya berharap Vanya cepat sadar.
"SRI." pangil Vano dengan berteriak, bahkan dia melupakan telepon yang bisa terhubung ke seluruh rumah saking paniknya melihat keadaan Vanya.
"Iya tuan." Sri datang dengan tergesa-gesa.
"Mana dokternya kenapa belum sampai?" tanya Vano tetap fokus pada Vanya.
"Masih di jalan tuan, mungkin sebenar lagi sampai." jawab Sri.
Jari jari tangan Vanya bergerak dan kelopak matanya perlahan membuka dan itu membuat Vano lega.
"Sayang kamu sudah sadar?" ucap Vano.
"Minum." ucap Vanya pertama kali setelah sadar.
"Kamu mau minum, minum mana minum." bingung Vano saking hebohnya sampai sampai dia jadi orang yang linglung.
"Itu di nakas tuan." kepala pelayan Sri menunjukkan air minum dalam gelas yang ada di nakas meja samping tempat tidur.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi." omel Vano dan segera memberikan kepada Vano minuman air putih itu.
Vano membantu Vanya bangun untuk memudahkan Vanya dalam meminum air putih itu.
"Udah." lirih Vanya.
Vano pun meletakkan kembali gelas yang isinya tinggal setengah itu kembali ke atas nakas.
Tok tok tok.
Ketukan pintu kamar berhasil mengalihkan perhatian Vano dari Vanya, dengan isyarat mata Vano menyuruh kepala pelayan Sri untuk membukakan pintu kamar.
"Selamat datang dokter." sambut kepala pelayan Sri pada seorang dokter perempuan yang ada di depan pintu.
Kepala pelayan Sri mempersilahkan dokter perempuan itu masuk ke dalam kamar.
"Siapa yang mau di periksa Van?" tanya dokter perempuan itu yang bername tag Ririn.
"Tolong kamu periksa keadaan istri aku Rin."
Dokter Ririn pun memeriksa keadaan Vanya dari denyut nadi tekanan darah juga detak jantung dan tak lupa pula suhu tubuh Vanya.
"Kondisi istri mu tidak ada yang perlu di khawatirkan, perbanyak konsumsi air putih dan jangan sampai telat makan. Di lihat dari gejalanya sepertinya istrumu telat makan, apakah begitu nona?" tanya dokter Ririn setelah menjelaskan kondisi Vanya.
"Ini saya resepkan obat silahkan di tebus ke apotek." memberikan selembar kertas yang sudah ada tulisannya.
"Sri suruh mang Cecep tebus obatnya nanti uangnya saya ganti. Sekalian kamu ambilkan makanan untuk nyonya." perintah Vano yang langsung di laksanakan oleh kepala pelayan Sri.
"Baik tuan." jawab Sri.
Mang Cecep adalah sopir yang baru saja Vano rekrut untuk menjadi sopir di kediamannya.
"Sayang." Vano duduk di sisi ranjang tempat Vanya berbaring.
"Maafin aku ya, gara gara aku kamu jadi kayak gini." permintaan maaf Vano dengan tulus.
"Kamu gak salah kok, seharusnya aku yang minta maaf. Aku siap kok kalau kamu mau punya anak secepatnya aku mau kok." ucapan Vanya membuat Vano lagi lagi merasa bersalah.
"No no sayang, udah kamu jangan pikirin itu lagi ya. Maafin sikap aku yang kekanak-kanakan tadi pagi, maaf, maaf, maaf." Vano terus mengulang kata maafnya.
__ADS_1
"Kita sama sama salah di sini, jadi kita saling memaafkan. Gak seharusnya aku bilang seperti itu tadi pagi, seharusnya aku omongin ini sama kamu baik baik gak kayak tadi." ujar Vanya dengan sikap dewasanya.
"Aku bahagia banget bisa dapetin istri yang dewasa seperti kamu, makasih sudah memaafkan aku yank." memeluk tubuh Vanya.
Mereka berdua berpelukan, menyalurkan rasa sayang dan rasa cinta satu sama lain.
Tok tok tok.
Mendengar ada yang mengetuk pintu Vano melepaskan pelukan Vanya dan beranjak untuk membukakan pintu.
"Maaf ganggu tuan, ini makanan untuk nyonya." ucap kepala pelayan Sri membawa nampan di tangannya.
Vano mengambil nampan itu dan menyuruh kepala pelayan Sri untuk kembali dengan isyarat.
"Sayang kamu makan dulu ya."
"Sini aku suapin." lanjut Vano menyendok kan nasi serta lauk pauk untuk Vanya makan.
"Aaaa." menyuapi Vanya ala ala menyuapi anak kecil.
Vanya pun menerima suapan Vano dengan senang hati.
"Pinternya, istri siapa sih ini." puji Vano setelah menyuapkan suapan terakhir pada Vanya.
"Istli vannou." jawab Vanya sambil mengunyah makanan sehingga membuat suaranya tidak jelas, tapi hal itu malah membuat Vano gemas.
"Telen dulu makanannya baru ngomong." merapikan anak rambut Vanya yang ke depan.
"Nanti kalau obatnya udah sampai, kamu harus minum obatnya ya." perintah Vano yang di jawab dengan anggukan oleh Vanya.
"Mau minum?" Vanya menganggukkan kepalanya lagi.
Vano pun memberikan segelas air minum pada Vanya dan di terima Vanya.
Setelah itu Vano membereskan barang-barang bekas makan tadi dan memanggil kepala pelayan Sri untuk mengambilnya.
...***...
Segini dulu ya, untuk besok aku gak tahu bisa up apa enggak, soalnya badan aku lagi gak enak.
__ADS_1
Oh iya tadi aku baca baca komentar kalian banyak yang bilang kalau Vanya itu hamil. Kan Vanya nya lagi datang bulan jadi mana mungkin hamil.๐ Tapi aku gak tahu juga sih, soalnya belum ngerti begituan ๐.
Tapi makasih banyak loh buat kalian yang udah komen bikin aku jadi makin semangat buat menghalu๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐