
Mereka semua asik dengan kegiatannya masing-masing hingga tiba waktunya makan siang, Vano dan Vanya mengajak temen temennya untuk makan siang di sana. Dan mereka pun dengan senang hati menerima tawaran itu, kapan lagi coba makan gratisan.
"Kamu harus makan yang banyak biar babynya sehat di dalam perut." ucap Vano sambil menambahkan lauk di piring Vanya.
"Iiih Vano ini udah banyak tau..." kesal Vanya, pasalnya sedari tadi Vano terus terusan menambah makan yang ada di piringnya.
"Gak papa, makin banyak makin bagus." balas Vano dengan senyum tak berdosa.
"Sil habis ini kita jadi berangkat ke mars kan?" tanya Sonya tiba tiba.
"Ke mars? Emang mau ngapain."
Nah lo, Sisil kok di ajak ngobrol ya gak bakalan konek.
"Iiss lo mah gak asik." Sonya kesal sendiri di buatnya.
"Kenapa sih yank, jangan cemberut gitu aku cium loh nanti." ucap Galang pada Sonya.
"Apaan sih cium cium, tuh sana tembok kamu cium." sinis Sonya.
"Lah kok gw ikutan kena sih." heran Galang.
"Hahahaha lo berdua tuh emang cocok dah, Lang cepet lo urus surat nikah keburu di embat orang." sahut Vano.
"Bener tuh, biar nanti kalau punya anak umurnya bisa samaan." timpal Vanya.
"Apaan sih kalian berdua, kita berdua ini masih mau ngejar karir masing-masing dulu baru nanti nikah." balas Sonya.
"Yakin lo berdua tahan liat yang beginian."
Cup.
Vano mengecup bibir Vanya di hadapan teman-temannya.
"VANO." sentak mereka semua yang melihat apa yang Vano lakukan barusan, sedangkan Vanya di buat malu oleh kelakuan Vano.
"Apa, iri? bilang bos." balas Vano.
"Ini kenapa jadi bahas masalah ginian sih, bukannya kita mau makan ya?" sela Sisil menengahi pembicaraan mereka.
"Tau tuh yank, emang yang waras cuma kita berdua di sini." timpal Rangga.
"Enak aja, lo tuh yang gak waras." tak terima Vano.
__ADS_1
"Udah udah kalian ini, ayo habisin dulu makanannya habis itu di lanjut lagi ngobrolnya." ucap Vanya yang di angguki oleh mereka semua.
Mereka pun makan dengan tenang dan pasangan suami istri itu juga sering kali mempertontonkan kemesraan mereka di hadapan teman-temannya. Seperti contohnya Vano yang menyuapi Vanya, Vano yang menghapus caos yang ada di pinggir bibir Vanya dan lain sebagainya yang membuat teman-teman enek melihatnya.
"Assalamualaikum orang ganteng datang." teriak seseorang dari ruang tamu yang tak lain dan tak bukan adalah Lucas.
"Waalaikum salam." balas mereka semua yang ada di meja makan.
"Wih kebetulan nih, mumpung ada acara makan makan gw ikut dong." seru Lucas saat sampai di tempat makan dan segera mengambil tempat duduk di sebelah Sisil tanpa di persilahkan terlebih dahulu.
"Siapa yang nyuruh lo duduk?" tanya Vano dengan ekspresi tajam yang tak membuat Lucas takut.
"Gak ada, gw aja yang mau duduk di sini." balas Lucas sambil mengambil nasi serta lauk tanpa menghiraukan tatapan dari orang orang yang ada di sana.
"Sana lo keluar ganggu orang makan aja." usir Vano.
"Kalau gw gak mau gimana?" balas Lucas tak ada rasa takut.
"Sayang... udah biarin." ujar Vanya pada Vano.
"Tuh, bini lo aja gak ngelarang. Bumil cantik emang paling the best deh." mengedipkan sebelah matanya ke arah Vanya yang membuat darah Vano mendidih.
"Lo..." Vano akan berdiri tapi segera di tahan oleh Vanya.
"Udah habisin makanan kamu, gak usah di respon dia." cegah Vanya.
"Makan." tekan Vanya sambil matanya melotot yang membuat nyali Vano menciut.
"Jiahkk ada suami takut istri nih." ejek Lucas tapi tidak menatap ke Vano, melainkan menatap makanan yang ada di hadapannya.
"Udah gak usah kamu hiraukan dia." ujar Vanya yang melihat pergerakan Vano seperti akan menghampiri Lucas.
Vano pun menurut pada ibu negara dan melanjutkan makannya meskipun dengan perasaan yang susah untuk di jelaskan.
Lucas pun tersenyum senang karena berhasil menjahili Vano, kapan lagi coba dia berhasil menjahili Vano.
"Ahhh kenyangnya...." seru Lucas setelah menghabiskan makanannya hingga bersih kinclong.
"Ya iyalah orang lo nambah tiga kali." sahut Vano sinis.
"Suka suka gw lah." balas Lucas.
"Lo pergi aja deh dari sini, ganggu tau gak." usir Vano.
__ADS_1
"Ehh ada cewek cantik di sini, kok aku baru sadar ya. Gara gara Vano sih ngajak ribut mulu." ucap Lucas pada Sisil yang berada di sebelahnya tak menghiraukan ucapan Vano.
Sisil yang di ajak bicara pun hanya tersenyum kikuk saja, sedangkan Rangga langsung menarik Sisil dalam pelukannya dan memeluknya posesif.
"Kita ke depan aja yuk, biar bibi bersihin meja makan." ajak Vanya pada teman-temannya.
"Yuk." semangat Lucas.
"Siapa yang ngajak Lo?" sinis Vano.
"Apaan sih lo, gj tau gak." ujar Lucas dan segera berlalu dari hadapan Vano sebelum tangan Vano melayang di kepalanya.
"Yank...usir dia dong." rengek Vano pada Vanya.
"Apaan sih, gak boleh gitu. Dia itu juga temen kamu." balas Vanya dan berlalu menyusul Lucas.
"Hahahaha... gimana rasanya bini lebih bela orang lain dari pada Lo?" ejek Galang dan menyeret Sonya untuk menyusul Vanya dan di ikuti Rangga dan Sisil.
"Ih." kesal Vano menghentakkan kakinya di lantai dan berjalan cepat mengejar istrinya sebelum nanti otak Vanya di racuni Lucas.
Mereka ngobrol banyak hal di ruang televisi hingga sore menjelang, teman teman Vanya dan Vano pun pulang. Tapi tidak dengan Lucas, dia tetap stay di mansion Vano meskipun ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam seperti hendak menerkam Lucas.
"Aku ke atas dulu ya mau mandi, kamu temani Lucas di sini. Sepertinya dia mau ngobrol sama kamu." pamit Vanya dan segera berlalu menuju kamarnya.
Setelah kepergian Vanya, suasana di ruang televisi terasa sangat mencengangkan. Seperti obak air laut yang mengamuk saat hendak ada badai.
"Apa?" garang Vano.
"Apaan?" balas Lucas tapi dengan ekspresi yang sangat santai kayak di pantai.
"Lo kok ngeselin banget sih, kalau aja tadi gak ada Vanya udah gw lempar lo ke kandang buaya." kesal Vano mengeluarkan unek-uneknya.
"Yakin mau lempar gw ke sana, nanti kalau ada apa-apa siapa yang bakal bantu lo."
"Lo selalu bisa lawan gw."
"Baru tahu Lo."
Mereka saling diam dengan pemikiran masing-masing hingga Lucas membuka pembicaraan di antara mereka.
"Gw mau ngomong sesuatu sama Lo, tapi gak di sini." ucap Lucas dengan mode serius.
"Di ruang kerja gw."
__ADS_1
Vano pun beranjak di ikuti Lucas, mereka pergi ke ruang kerja Vano untuk membicarakan sesuatu kabar yang di bawa Lucas.
...***...