
Vanya jadi ikut ke dua orang tuanya, sekarang dia tengah melamun di dalam kamarnya sambil memandang foto pernikahan dirinya dan Vano yang berada di dinding kamarnya.
"Van, kamu gak papa kan, kamu udah makan kan?" ucap Vanya pada bingkai foto Vano.
"Aku kangen sama kamu, baby juga kangen banget sama Daddy nya."
"Kamu gak kasian sama aku, aku sendirian di sini."
"Kamu harus cepat pulang dan temuin aku di sini. Aku kangen kamu. Hiks hiks hiks..." akhirnya tangis Vanya pecah mengingat kondisi Vano yang tengah dalam bahaya.
Vanya menangis dalam kamar sendirian, kedua orang tuanya tidak ada yang tahu. Karena tadi saat sampai di rumah Vanya bilang mau istirahat dan gak mau di ganggu. Alhasil mereka tak menengok keadaan Vanya, karena mereka mengira kalau Vanya sudah tidur.
-
Sementara di tempat papa William, dia sudah menyuruh paman Leo melalui sambungan telepon untuk mencari keberadaan pesawat jet milik Aaron. Karena dia yakin pasti Aaron mengunakan pesawatnya untuk membawa Vano keluar dari Seoul.
'Gimana kamu sudah tau di mana letak pesawatnya?' tanya papa William melalui sambungan telepon.
'Menurut sinyal yang aku dapat, sepertinya mereka membawa Vano ke pulau daerah timur. Dia membawa Vano ke sana setelah dari Seoul.' jawab Leo yang sekarang tengah berada di Italia.
'Baiklah kalau gitu, kamu kirim titik lokasinya. Aku akan ke sana sekarang sebelum Aaron bertindak lebih jauh pada Vano.'
'Baiklah, kau hati hati. Siapkan anak buah yang kuat, dan perketat pertahanan.'
'Iya, ya udah aku tutup dulu.'
Tut.
Setelah melakukan panggilan itu, papa William akan menghubungi Farrel agar dia bersiap dan memberitahukan perintahnya pada para anggota WD.
'Halo Om.' sapa Farrel.
'Iya Rel, kamu persiapkan diri kamu dan juga bawa anggota yang paling kuat sebanyak banyaknya. Karena kita akan mencari keberadaan Vano.' perintah papa William.
'Vano udah ketemu Om?'
'Belum pasti, tapi kata asisten Om dia di bawa ke sebuah pulau di daerah timur Indonesia.'
'Oooh gitu, ya udah Om aku mau hubungi yang lain dulu.'
'Jangan lupa kasih tahu Lucas, biar kamu ada yang bantu.'
'Baik Om.'
__ADS_1
Tut.
"Semoga Lo bisa bertahan Van." gumam Farrel.
"Siapa byy?" tanya Fira yang baru dari kamar.
Saat ini mereka tengah berada di balkon kamar di rumah mewah Farrel. Keadaan sore hari yang di hiasi cahaya matahari yang akan menghilang di ujung barat, membuat langit jadi berwarna oren ke kuningan.
"Ini Om William ngabarin aku buat siapin para anggota untuk mencari keberadaan Vano." jawab Farrel.
"Om William udah tahu Vano di mana?" tanya Fira.
"Belum, tapi Om William tahu di mana titik keberadaan pesawat jet milik Aaron."
"Oooh, aku boleh ikut gak?"
"No, kamu di rumah aja. Aku gak mau ya sampai sesuatu buruk terjadi sama kamu." tolak Farrel.
"Yah, kamu mah gitu."
"Ini demi kebaikan kamu sayang, mendingan kamu di rumah temani Vanya di rumah mama."
"Loh, bukannya Vanya kemarin di bawa ke rumah Om William?" heran Fira.
"Ooh gitu, ya udah nanti kalau kamu mau ke markas aku ke rumah mama aja."
"Iya nanti sekalian aku anterin kamu ke sana sebelum ke markas." balas Farrel.
"Ehh gak usah, aku bisa ke sana sendiri kok." tolak Fira.
"Nurut atau tetap tinggal di rumah aja."
"Hufft.... iya deh iya." ngalah Fira.
"Aku bukannya ngekang kamu, tapi kondisinya sekarang lagi belum aman. Ini semua demi keamanan kamu." ujar Farrel.
"Iya aku ngerti kok, makasih ya udah mau setia jagain aku." balas Fira memandang Farrel.
"Itu sudah menjadi tugas ku yank." balas Farrel.
"Ya udah yuk kita siap siap." ajak Fira.
"Kamu duluan aja, aku masih mau kabarin Lucas dulu."
__ADS_1
"Ya udah aku kembali ke kamar dulu." pamit Fira dan pergi meninggalkan Farrel di sana.
Setelah itu Farrel menghubungi Lucas dan menjelaskan apa yang tadi papa William perintahkan kepadanya, dan mereka berdua akan ketemuan di markas sehabis ini.
-
Vano kini tengah berusaha membuka rantai besi yang mengikat tangannya menggunakan paku kecil yang dia cabut dari dinding, dan secara kebetulan posisi paku itu tidak terlalu tinggi jadi memudahkan Vano dalam mengambilnya.
"Susah amat sih, perasaan di sinetron sinetron mudah." greget Vano karena apa yang dia lakukan sekarang tidak semua dalam dunia sinetron.
Vano terus mencoba, tapi saat akan terbuka tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekati pintu gudang itu. Sehingga Vano pun menghentikan aksinya.
"Selamat malam tuan Vano yang terhormat, gimana di sini enak bukan?" ejek Aaron yang datang menghampiri Vano.
"Wah sepertinya anda sangat perhatian sekali kepada saya tuan Aaron. Sampai sampai anda menyiapkan ruangan VVIP yang sangat nyaman buat saya berteduh." balas Vano dengan pandangan liciknya.
"Cih." decih Aaron.
"Ada apa anda datang ke sini tuan Aaron, apakah anda sudah kangen dengan saya. Padahal baru tadi anda menemui saya." ucap Vano.
"Cih, gak usah sok kuat kamu. Bilang aja kalau kamu sudah kesusahan tinggal di sini." balas Aaron yang tak suka sikap Vano yang biasa biasa saja tak ada rasa takut sama sekali.
"Apakah anda tidak salah tuan, saya berkata jujur. Anda memang terlalu memanjakan saya di sini. Di tempatkan di ruangan yang mewah ini, di kasih makan makanan yang sangat bergizi." ucap Vano yang bertolak belakang.
Bagaimana mungkin gudang itu adalah tempat mewah, padahal gudang itu tempatnya saat sempit dan lantai yang masih tanah. Dan soal makanan, mana mungkin Vano di kasih makanan yang bergizi. Jangankan makanan, minum saja Vano gak di kasih selama dia ada di sana. Untung saja sebelum di culik Vano sempat sarapan waktu itu.
"PENGAWAL, ambilkan saya pisau. Biar saya potong lidahnya itu pandai sekali dalam berbicara itu." pinta Aaron.
"Ooh tuan Aaron yang terhormat, benarkah anda ingin memotong lidahku. Bukankah itu sangat menyeramkan, bagaimana nanti saya bisa merasakan rasanya racun yang akan anda berikan kepada saya. Dan juga bagaimana nanti kalau sampai mama saya tahu saya udah tidak punya lidah. Pasti mama saya akan sangat sedih dan merasa bersalah, dan sudah di pastikan mama saya akan semakin membenci anda." pancing Vano.
"Diam kamu, jangan bicarakan mama kamu di depan saya. Atau kamu akan saya bunuh sekarang juga." emosi Aaron mendengar ucapan Vano.
"Oh itu sangat sangat menakutkan tuan, bila anda ingin membunuh saya, saya mau nitip sesuatu buat mama saya. Apakah itu boleh tuan."
"Jangan sebut mama kamu di depan saya." marah Aaron.
"Tapi mama saya sangat sangat menyayangi saya, bagaimana nanti kalau dia sedih setelah kematian saya." pancing Vano lagi dan lagi tak menghiraukan ucapan Aaron.
"DIAM."
...***...
Dua hari ini aku agak sibuk jadi update nya tidak terlalu banyak seperti kemarin kemarin ya😁
__ADS_1