My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 233


__ADS_3

"Assalamualaikum." teriak Vano saat memasuki rumah mertuanya dengan jalan yang cepat melupakan kakinya yang baru sembuh.


"Waalaikum salam." balas mama Vani yang kebetulan ada di ruang tamu.


"Rujak Vano mana ma?" tanya Vano dan main nyelonong pergi ke dapur.


"Lah tuh anak, baru dateng langsung cari rujak bukannya jelasin keadaan kakinya." tak habis pikir mama Vani.


"Assalamualaikum." ucap Farrel dan papa Wijaya yang baru saja memasuki rumah.


"Waalaikum salam." balas mama Vani.


"Vano mana ma?" tanya Farrel yang tidak mendapati kebenaran Vano.


"Tuh di dapur." jawab mama Vani.


Mendengar itu Farrel pun segera berlalu menuju dapur untuk mencari Vano.


"Astaga Vano." kaget Farrel saat melihat penampilan Vano yang wajahnya banyak keciprat bubu rujak yang tengah di makan.


"Ehh kak, mau?" tawar Vano sambil tangannya mengangkat satu potong mangga muda yang sudah di hiasi bubu.


"Boleh, aaa.." Farrel minta di suapi Vano karena Farrel males jika tangannya kotor terkena bubu rujak.


Huek.


Farrel berlari dan memuntahkan mangga muda itu di wastafel dapur.


"Gilak asem banget." umpat Farrel menghampiri Vano.


"Van lo kok doyan banget sih, gw aja keaseman?" heran Farrel yang menatap Vano makan rujak buah dengan lahapnya.


"Enwak." balas Vano dengan mulut yang penuh dengan rujak buah.


"Keknya lidah lo harus di bawa ke dokter hewan deh."


Vano menaikan sebelah alisnya seolah bertanya kenapa.


"Iya soalnya lidah lo bermasalah, siapa tahu kan nanti bisa di ganti dengan lidah sapi." lanjut Farrel.

__ADS_1


Mendengar itu Vano tak ambil pusing, yang penting baginya rujak di hadapannya ini harus habis.


"CK." decak Farrel kesal karena tak di hiraukan oleh Vano.


"Loh kalian udah pulang?" tanya Fira saat memasuki dapur bersama Vanya.


"Kalau tanya tuh yang bagusan dikit napa tank, orang kita udah di sini berarti ya kita udah pulang." balas Farrel di balas cengiran oleh Fira.


"Kaki kamu gimana, gak papa kan?" tanya Vanya berjongkok di samping Vano mengamati kaki Vano.


"Iya kaki aku gak papa kok, bahkan sekarang aku sudah bisa jalan." balas Vano menuntun istrinya agar berdiri dan mendudukkannya di sampingnya.


"Cih sok manis, udah yuk yank kita ke kamar aja." sinis Farrel merangkul pundak Fira dan mengajaknya pergi dari sana.


Vano tak ambil pusing dengan perkataan Farrel, Vano menganggap perkataan Farrel adalah angin yang numpang lewat jadi tak perlu di hiraukan. Buang buang waktu saja.


"Beneran kaki kamu gak papa?" tanya Vanya lagi memastikan.


"Iya sayang ku, nih buktinya aku udah bisa jalan." berdiri dari tempat duduknya dan berjalan di hadapan Vanya.


"Alhamdulillah aku seneng lihatnya." syukur Vanya.


"Kamu kok doyan banget sih?" heran Vanya yang sama seperti Farrel di balas anggukan oleh Vano.


Vano tetap makan rujak dengan nikmat apalagi sekarang di temani istri makin nikmat rasanya. Hingga tak terasa Vano sudah akan menghabiskan satu piring buah yang tadi sudah di potong potong oleh Vanya.


"Suami kamu itu ngidam." ucap mama Vani tiba tiba yang baru datang dengan papa Wijaya mengekor di belakangnya.


"Ngidam? Maksud mama?" tanya Vanya.


"Iya suami kamu itu sama kayak papa kamu dulu waktu mama hamil kamu. Dulu waktu mama hamil kamu papa yang ngidam bahkan papa juga yang mual mual." jelas mama Vani.


"Beneran ma papa dulu gitu?" tak percaya Vano yang sudah menghabiskan rujak buahnya.


"Iya, tanya aja sama orangnya kalau gak percaya."


"Beneran pa?" tanya Vano.


"Hmm." balas papa Wijaya malas, bisa bisanya istrinya ini membuka aibnya dulu waktu istrinya hamil.

__ADS_1


"Wah bisa tanya tanya nih nanti sama papa jikalau ada yang Vano gak ngerti."


"Iya bagus itu, kalau kamu ada yang kurang ngerti masalah kehamilan dan masa masa ngidam kamu bisa tanya papa, papa itu ahlinya." setuju mama Vani, sedangkan papa Wijaya hanya diam saja.


"Oke lah nanti aku akan sering sering telfon papa, papa gak keberatan kan?"


"Hmm." balas papa Wijaya.


"Udah yuk ma kita pergi biarin mereka menikmati momen berdua." ajak papa Wijaya pada istrinya.


"Mama sama papa ke kamar dulu ya, nanti kalau ada apa-apa kamu panggil mama." pamit mama Vani.


"Iya ma." balas Vano dan Vanya.


"Kamu gak ada yang pengen kamu makan apa?" tanya Vano setelah kepergian kedua mertuanya.


Vanya mengelengkan kepalanya sebagai tanda tidak.


"Masak sih, jalan jalan ke mall gitu?"


"Gak ada Vano sayang, kenapa cerewet banget sih kan jadi gemes aku." mencubit kedua pipi Vano.


"Kamu gimana sih tadi makannya kok bisa comot kayak gini?" ujar Vanya saat baru menyadari kalau wajah Vano tepatnya di pinggir bibir terdapat percikan bubu rujak.


Vanya pun membersihkan wajah Vano mengunakan tisu yang ada di atas meja, sedangkan Vano memanfaatkan momen itu memeluk pinggang istri sambil menikmati wajah cantik istrinya hingga Vanya selesai membersihkan wajahnya.


"Dah." seru Vanya setelah memastikan tidak ada noda rujak lagi di wajah Vano.


"Yank ke kamar yuk!" ajak Vano.


"Mau ngapain sih, siang siang gini?"


"Aku mau bobo, tapi maunya sambil peluk kamu." manja Vano.


"Ya udah ayo." setuju Vanya.


Dengan hati yang berbunga-bunga Vano menarik tangan istrinya menuju kamar guna untuk tidur siang sekaligus peluk pelukan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2