My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 149


__ADS_3

Sepulang sekolah Vano tidak langsung membawa Vanya ke psikiater, tapi dia membawa Vanya pulang dulu ke mansion agar mandi dan ganti baju dulu.


"Sayang udah belum?" teriak Vano karena sedari tadi Vanya belum selesai aja dandannya.


"Iya bentar lagi." jawab Vanya sambil teriak juga.


"Cepat."


"Iya."


Setelah beberapa saat pintu kamar terbuka menampilkan Vanya yang memakai dress selutut dan rambut yang di hiasi japit.



"Dah ayok." ajak Vanya pada Vano yang tengah memandangi istri itu.


"Van, ayok!" ucap Vanya lagi agak keras karena Vano bengong.


"Kenapa kamu cantik banget sih yank, kita gak jadi pergi aja ya. Aku gak rela kalau kamu di pandang sama laki laki lain selain aku." ujar Vano.


"Mana bisa gitu, aku udah capek-capek dandan masak gak jadi pergi sih. Udah pokoknya ayo berangkat." menarik lengan Vano.


"Iya iya ayo."


Mereka pergi mengunakan mobil sport yang baru Vano beli lagi kemaren.


Biasalah orang kaya, kalau kita kan gabut belinya seblak, tapi kalau Vano yang gabut dia belinya mobil.😂


"Yank kita cari makan dulu yuk, kan sedari tadi kita belum makan." ajak Vano di tengah perjalanan.


"Terserah kamu aja, aku mah ngikut aja." jawab Vanya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Vano.


"Terserah kamu aja."


Tuh kan Vano lupa, seharusnya Vano gak perlu pakai tanya tapi langsung aja ajak makan di mana gitu.


"Mau makan di restoran atau di warung pinggir jalan aja?" tanya Vano lagi, berharap jawaban Vanya berbeda dari yang tadi.


"Terserah." Dahlah Vano nyerah kalau kayak gini.


Vano pun tak mau bertanya lagi, dia memutuskan membawa Vanya ke restoran bintang lima. Karena Vano jarang ngajak Vanya makan di sana, kan biasanya di pinggir jalan.


"Kita makan di sini aja ya." ucap Vano saat menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran bintang lima.

__ADS_1


"Iya, ya udah yuk turun, aku udah lapar." Vanya keluar duluan dari mobil tanpa menunggu Vano membukakan pintu mobil untuknya.


Vano pun segera mengikuti Vanya yang sudah masuk ke dalam duluan.


Mereka makan dengan tenang di dalam, meskipun ada beberapa pasang mata yang melihat ke arah mereka, tapi bagi mereka itu hal biasa. Jadi mereka mah bodo amat yang penting perut kenyang.


Setelah selesai mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit yang sudah Vano hubungi untuk membuat janji bertemu dengan Vano.


"Yuk turun." ajak Vano setelah membukakan pintu mobil untuk Vanya.


"Kamu seriusan bawa aku ke sini Van?" tanya Vanya.


"Menurut kamu, apakah aku becanda?" balas Vano.


"Tapi aku takut Van." resah Vanya.


"Gak usah takut, sini aku peluk biar gak takut." modus Vano.


"Yee itu mah mau kamu."


"Beneran loh, biasanya kalau orang gugup atau takut itu di peluk biar enggak takut."


"Ya tapi gak di depan umum juga Vano sayang." greget Vanya.


"Lah emang kenapa kalau di sini."


"Ya biarin toh kita udah halal, lagian kita juga gak kenal mereka."


"Tauk ahh, sebel aku ngomong sama kamu itu. Masak aku selalu kalah kalau debat sama kamu." kesal Vanya memalingkan wajahnya dari arah Vano.


"Atututu... bibinya pano cebel nih ya, cini aku peyuk." goda Vano akan memeluk Vanya.


"VANO." tegas Vanya dengan suara yang keras sehingga membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian orang yang ada di parkiran rumah sakit.


"Tuh kamu sendiri tadi yang takut kalau jadi perhatian orang orang, ehh taunya malah kamu sendiri yang buat mereka memperhatikan kita."


Mendengar ucapan Vano, Vanya pun baru menyadari tingkah nya barusan. Vanya pun malu, rasanya ingin tengelam di lautan saja.


"Sayang hei, liat aku." pangil Vano agar Vanya melihat ke arah Vano.


"Tauk ahh, makin sebel aku sama kamu. Aku mau pulang aja." akan membuka pintu mobil.


"Ehh.. jangan dong, masak pulang sih kan kita baru aja sampai." cegah Vano.


"Aku minta maaf ya udah bikin kamu kesel. Aku suka banget liat wajah kamu kalau marah kayak gini, jadi jangan marah marah ya, nanti yang ada aku makin suka sama kamu." rayu Vano.

__ADS_1


Vanya tak merespon ucapan Vano, dia melipat tangannya di dada sambil menatap ke arah lain.


Cup.


"Udah ya jangan marah, kan aku tadi udah minta maaf." bujuk Vano sambil mencium tangan Vanya yang membuat Vanya luluh.


Siapa coba yang gak baper, di cium tangannya di depan banyak orang. Kan sweet banget.


"Iya aku maafin, tapi ingat jangan nyebelin lagi." ujar Vanya.


"Iya, ya udah yuk masuk. Kita udah di tunggu di dalam." ajak Vano mengandeng tangan Vanya memasuki rumah sakit.


"Dengan tuan Vano?" tanya perawat yang ada di depan ruangan dokter Aziz.


"Iya sus." jawab Vano.


"Mari silahkan masuk, anda sudah di tunggu di dalam." membukakan pintu untuk Vano dan Vanya.


Vano dan Vanya pun memasuki ruangan yang bernuansa putih dan yang pasti terdapat bau obat obatan yang menyengat di hidung.


"Selamat sore tuan Vano, mari silahkan duduk." sambut ramah dokter Aziz selaku psikiater yang Vano percaya bisa membantu Vanya menyembuhkan traumanya.


"Iya dok, terima kasih." balas Vano dan segera duduk di sana.


"Ini istrinya ya mas?"


"Iya dok ini istri saya, yang saya bilang punya trauma dengan kejadian masa lalunya." jelas Vano.


"Ooh iya, bisa di jelaskan kejadian yang membuat nona trauma, semampu nona saja tidak usah di paksa agar saya tahu sejauh mana trauma yang nona alami." pinta dokter Aziz.


Vanya memandang Vano, dia bertanya melalui pandangan matanya, apakah dia harus menceritakan hal itu. Dan di balas anggukan oleh Vano.


"Jadi waktu itu saya..." Vanya menceritakan kejadian yang menimpanya beberapa tahun yang lalu hingga membuat kakaknya koma dengan menggenggam tangan Vano sangat erat untuk menetralkan ketakutannya.


Vano membiarkan saja Vanya mencengkeram erat tangannya, meskipun itu terasa lumayan sakit tapi bagi Vano tidak apa apa asal Vanya sembuh.


"Nona tenangkan dulu diri anda, sampai di sini saja ceritanya, karena takut mengganggu mental anda." ujar dokter Aziz yang melihat tubuh Vanya sudah bergetar dan air mata yang terus menetes.


Vanya pun menghentikan ceritanya, tiba tiba saja tubuhnya merasa lemas dan pandangannya mulai kabur hingga lama kelamaan menjadi hitam pekat.


"Sayang ..." panik Vano lantaran Vanya pingsan.


"Dok, gimana ini." panik Vano.


"Tuan tenang, bawa nona Vanya ke atas brankar biar saya periksa." ujar dokter itu dengan tenang.

__ADS_1


Vano pun segera membawa Vanya ke brankar yang ada di ruangan dokter Aziz dan membaringkan Vanya yang tidak sadarkan diri di sana.


...***...


__ADS_2