My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 258


__ADS_3

Vano ingin maju menghampiri mereka yang membicarakan Vanya, tapi di tahan oleh Vanya.


"Ingat kata kamu, jangan hiraukan apapun yang mereka katakan." bisik Vanya.


"Hufft...." hela nafas Vano.


"Kita ke sana yuk." ajak Sisil menunjuk luar ruangan yang sepertinya ada kolam renang.


"Yuk."


Mereka berenam pun pergi ke sana, ternyata di sana sudah ramai banyak orang. Seperti saat mereka baru pertama kali masuk tadi, sekarang mereka menjadi pusat perhatian orang orang lagi. Terutama Vanya.


"Ehh, itu Vanya sama Vano bukan sih?" ucap salah satu orang yang ada di sana pada temennya.


"Mana, oh iya itu mereka. Ehh lihat deh, kok perut Vanya besar gitu ya kayak orang hamil." balas temennya.


"Wah iya, jangan jangan Vanya pindah sekolah daring gara gara dia hamil lagi." tambah teman yang satunya lagi.


"Jangan jangan dia juga hamil di luar nikah." tambah teman yang satunya lagi.


"Sstt... jangan sembarang kamu kalau ngomong, nanti bisa bisa itu jadi fitnah." balas yang satunya yang otaknya masih bener.


"Bener tuh, apalagi di samping Vanya ada Vano. Takutnya nanti Vano malah marah dan buat perhitungan sama keluarga kita." timpal yang lain.


Sebenarnya Vanya merasa risih jika di bicarakan seperti itu, toh udah lama juga dirinya sudah tidak menjadi pusat perhatian orang orang gak kayak dulu. Semenjak kehamilan Vanya semakin membesar, Vano membatasi pergerakan Vanya. Vano melarang Vanya pergi kemana mana kecuali bersama dirinya. Itu pun nanti pasti tempatnya sangat sepi, karena Vano menyewa tempat itu agar tidak ada yang menggangu mereka berdua.


"Udah Van, lo gak usah dengerin apa yang mereka bicarakan. Nanti juga kalau mereka tahu yang sebenarnya mereka bakalan iri sama Lo." bisik Sonya pada Vanya.


"Bener tuh Van, mendingan kita cari makan." timpal Sisil yang otaknya berisi makanan.


"Otak lo tuh isinya makanan mulu heran gw." balas Sonya.


"Biarin yang penting perut gw kenyang." balas Sisil.


"Udah udah kalian jangan ribut, nanti kita malah makin menjadi perhatian orang orang." lerai Galang.


"Kita cari makan yuk beb." ajak Rangga pada Sisil.


"Yuk."


Rangga dan Sisil pun pergi meninggalkan pasangan Vano Vanya dan Galang Sonya.


"Dasar tuh mereka berdua otaknya sama aja, isinya makanan mulu." decak Sonya.


"Ya udah sih yank biarin aja, kamu mau? Kalau kamu mau aku juga mau kok di ajak borong makanan kayak gitu." ujar Galang.

__ADS_1


"Ogah banget, kayak orang gak pernah makan aja."


"Kamu mau makan apa?" tanya Vano pada Vanya.


"Eemm...." Vanya berfikir sambil melihat beberapa deretan makanan yang sudah tersaji di beberapa meja.


"Aku mau itu boleh?" tunjuk Vanya pada sebuah kue coklat yang sangat mengiurkan untuk di santap.


"Boleh dong, ya udah kamu tunggu di sini dulu biar aku ambilin." balas Vano.


Vano menunggu Vano sambil berdiri menatap pantulan air kolam renang yang sangat jernih. Di tambah lagi ada cahaya lampu yang keluar dari dalam kolam renang membuat suasana semakin indah untuk di pandang mata.


"Kita ke sana yuk." ajak Galang pada Sonya menunjuk panggung tempat untuk musisi bernyanyi.


"Yuk." setuju Sonya.


"Van kamu mau ikut kita gak?" tanya Sonya.


"Enggak deh kalian pergi aja, aku mau nungguin Vano." tolak Vanya.


"Ya udah kalau gitu kita ke sana dulu." pamit Sonya.


Sonya dan Galang pun meninggalkan Vanya sendirian di sana.


Vano lupa dengan ucapannya tadi saat di rumah. Padahal dia sendiri yang bilang ke Vanya untuk jangan jauh jauh dari dirinya, tapi apa sekarang Vano sendirilah yang meninggalkan Vanya di tempat yang ramai akan orang.


Sementara itu di posisi Cindy, dia tengah berbincang bincang dengan temen temennya yang lain, hingga sebuah kehebohan menghentikan pembicaraan mereka.


"Ada apa sih kok ribut banget?" tanya Cindy penasaran.


"Tau tuh, kayak ada artis Korea aja." sambung Tasya.


Mereka semua pun menoleh ke pintu masuk ke kolam renang hingga wajah Cindy yang tadinya ceria menjadi muram akibat melihat siapa yang datang.


"Vanya, Vano." udah mereka semua bareng kaget tapi tidak dengan Cindy.


"Cin lo lihat itu kan?" tanya Kia sambil menyengol bahu Cindy.


"Iya gw lihat." balas Cindy tanpa mengalihkan perhatiannya dari Vano dan Vanya.


"Lo gak papa kan?" tanya Kia lagi.


"Hmm." balas Cindy dingin.


Kia merasa ada perubahan dari sikap Cindy dan Kia memaklumi itu. Dulu dia juga sering begitu saat melihat kemesraan Galang dan Sonya, dan itu sangat sakit banget. Tapi sekarang dia sudah terbiasa akan hal itu.

__ADS_1


Cindy terus memperhatikan pergerakan Vanya dan Vano hingga sampai Vano berjalan menjauh dari Vanya membuat senyum licik terbit dari bibir Cindy.


"Ki." pangil Cindy tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Vanya.


"Iya ada apa?"


"Lo tahu kan apa yang akan gw lakuin?"


"Maksud lo?" bingung Kia.


Kia mengikuti arah pandangan Cindy dan dia mengerti apa yang ada di otak licik Cindy itu.


"Lo yakin mau lakuin itu?" tanya Kia khawatir nanti rencana Cindy malah akan berbalik kepada dirinya sendiri.


"Udah lama gw menantikan momen seperti ini, dan gw gak akan ngebiarin momen berharga seperti ini terbuang sia sia. Terlebih lagi sekarang Vanya lagi hamil, dan itu akan semakin memudahkan rencana gw, karena Vanya tidak lagi bebas bergerak seperti dulu." jelas Cindy yakin.


"Tapi gimana nanti kalau Vano tahu?"


"Itu urusan belakangan, yang penting bagi gw Vanya celaka dulu." balas Cindy.


Cindy melihat Sonya dan Galang juga pergi meninggalkan Vanya dan hal itu semakin membuatnya senang lantaran tak ada lagi nanti yang bisa mencegah rencananya.


"Gw ke sana dulu." pamit Cindy dan segera pergi dari sana tanpa menghiraukan panggilan dari Kia.


Kia takut rencana Cindy akan gagal, oleh karena itu dia juga mengikuti kepergian Cindy.


Tasya yang notabennya enggak tahu apa apa pun juga ikutan mengikuti Cindy di belakang Kia.


"Hai Vanya sayang, udah lama kita gak ketemu." sapa Cindy menghampiri Vanya.


"Ci-Cindy." kaget Vanya.


Vanya berjalan mundur hendak pergi menjauh dari jangkauan Cindy.


"Mau kemana hmm?" tanya Cindy yang menurut Vanya itu sangat mengerikan.


Kalau saja dirinya tidak hamil mungkin Vanya gak akan mungkin menghindar seperti ini, tapi ini beda. Vanya takut kalau anaknya kenapa kenapa. Apalagi beberapa waktu yang lalu Vanya sempet pingsan.


"Mau ngapain kamu?" tanya Vanya berusaha tetap tenang.


"Kenapa sih kok takut gitu, aku cuma mau sapa kamu loh." balas Cindy berjalan semakin mendekati Vanya.


Vanya pun juga berjalan mundur untuk mengindari Cindy. Vanya lupa kalau di belakangnya ada kolam renang, hingga beberapa langkah lagi Vanya akan tercebur ke dalam kolam renang.


"VANYA."

__ADS_1


Byur.


...***...


__ADS_2