
Malam harinya Vano beneran tidak bisa tidur, dia membolak-balikkan badannya untuk mencari tempat ternyaman buat tidur, tapi tak menemukannya. Hingga posisi tidur Vano kaki di atas ranjang dan kepala di bagian bawah, tapi tetap saja gak bisa tidur. Hingga membuat Vano kesal sendiri.
"AGRRR..." teriak Vano frustasi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Karena sudah merasa capek sendiri, Vano pun memutuskan untuk bangun dan pergi ke ruang kerjanya untuk melihat ada berkas yang di antar asisten Rudi atau enggak. Ya, setiap hari kalau ada pekerjaan yang harus di kerjakan Vano, asisten Rudi selalu mengantarkan berkas itu ke mansion Vano kalau Vano gak sempat ke kantor.
Vano masuk ke dalam ruang kerjanya dan melihat ada beberapa berkas yang ada di atas mejanya. Vano menatap jam dinding yang ada di ruangan itu, jam menunjukkan pukul setengah satu tengah malam.
"Hufft mending ngerjain ini dah, dari pada gak bisa tidur." gumam Vano dan mulai mengerjakan berkas satu persatu.
Vano tadinya mau telfon Vanya, tapi dia takut ganggu momen istrinya bernama teman temannya. Karena Vano juga pernah ada di posisi Vanya yang ingin menikmati momen momen kebersamaan bersama sahabat. Jadi Vano tahan keinginan itu, biar lah dia gak bisa tidur dari pada harus ganggu istri nya. Palingan besok Vano cuma gak masuk sekolah.
Waktu terus berlalu hingga pagi hari pun tiba, Vanya pulang ke mansion sehabis subuh. Dia membuat alasan kepada temannya kalau dia mau belajar dulu di rumah, padahal mah mau melihat keadaan suaminya.
Sebenarnya dari semalam Vanya sudah kepikiran Vano terus karena Vano tidak ada menghubungi dirinya. Vanya berfikir positif, mungkin Vano sudah tidur. pikir Vanya.
"Selamat pagi nyonya." sapa kepala pelayan Sri yang membukakan pintu untuk Vanya.
"Pagi juga mbak, oh iya Vano semalam pulang kan?" tanya Vanya.
"Iya mbak, tuan Vano pulang di antar tuan Farrel." jawab kepala pelayan Sri.
"Ya udah kalau gitu aku ke atas dulu." pamit Vanya dan segera berjalan menuju kamarnya.
Vanya membuka pintu kamarnya pelan pelan agar tidak membangunkan Vano, tapi Vanya di buat bingung dengan keadaan ranjang yang tak karuan bentuknya dan tidak ada penghuninya di sana.
"Van." pangil Vanya tapi tak ada sahutan dari sang pemilik nama.
Vanya mencari keberadaan Vano di seluruh sudut kamarnya, baik di kamar mandi,walk in closed tapi tidak menemukan keberadaan Vano juga.
"Vano kemana sih, katanya semalam sudah pulang, lah ini kok gak ada." Heran Vanya.
Vanya berfikir harus mencari Vano kemana, karena ini masih pagi banget, masak iya Vano sudah keluyuran di luar, kan itu gak mungkin. pikir Vanya.
"Atau di ruang kerjanya.." pikir Vanya.
__ADS_1
Vanya pun segera pergi ke ruang kerja Vano untuk melihat apakah ada Vano di sana. Dengan pelan pelan Vanya membuka pintu ruang kerja Vano dan di sana dia melihat Vano yang tertidur dengan posisi kepala yang ada di meja kerja dan tubuh yang duduk di kursi kerjanya dengan banyak berkas yang berserakan di meja.
"Ya Allah Vano, kok malah tidur di sini sih." gumam Vanya.
Flashback on:
Vano terus membaca berkas dan membubuhkan tanda tangan di kertas yang membutuhkan tanda tangannya, hingga dia tak menyadari bahwa waktu sudah hampir subuh. Karena saking lelahnya Vano sampai tertidur dengan posisi seperti itu.
Flashback off.
"Van." pangil Vanya membangunkan Vano sambil menguncang tubuh Vano dengan lembut agar Vano terbangun.
"Van bangun." pangil Vanya lagi karena Vano tidak merespon nya.
"Hah." kaget Vano segera duduk dengan tegap.
"Maaf aku ngagetin kamu ya." ucap Vanya merasa bersalah.
"Ooh enggak kok, kok kamu udah pulang bukannya ini masih malam ya?" tanya Vano yang belum melihat jam di dinding.
"Lah iya, aku masih ngantuk banget soalnya. Ijinin aku ya gak masuk sekolah, aku mau tidur lagi." tanpa menunggu jawaban dari Vanya, Vano segera beranjak pergi menuju kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang kurang nyaman tadi lantaran tidur di kursi.
"Van." pangil Vanya tapi Vano sudah tidak mendengar ucapan Vanya karena saking ngantuknya.
"Vano marah ya sama aku." lirih Vanya merasa kalau Vano mengabaikan dirinya.
Vanya pun segera mengijinkan Vano tak lupa dirinya juga, karena Vanya sangat merasa bersalah sama Vano jadi Vanya berniat untuk meminta maaf sama Vano.
Padahal mah Vano kayak gitu karena ngantuk banget bukan karena marah, secarakan Vano tidur sudah mau subuh tadi jadi Vano ya sangat ngantuk banget.
-
Setelah membersihkan diri Vanya pergi ke dapur tanpa menggangu Vano yang tengah bergelung di bawah selimut, Vanya ingin masak menu sepesial sebagai permintaan maafnya pada Vano.
"Loh, nyonya gak pergi sekolah?" tanya kepala pelayan Sri yang melihat Vanya tidak memakai seragam.
__ADS_1
"Enggak, hari ini aku mau ijin dulu karena ada urusan sama Vano." jawab Vanya sambil memilih bahan masakan di kulkas.
"Ooh gitu, nyonya mau ngapain?" tanya kepala pelayan Sri lagi yang melihat Vanya sibuk dengan bahan masakan.
"Aku mau buat sarapan buat Vano."
"Biar saya aja Nya, mending nyonya ngurus tuan dulu."
"Enggak usah, Vanonya juga masih tidur. Mendingan kamu bantuin aku cuci ikannya aja."
"Ya udah kalau itu mau nyonya, sini biar Sri bantu." kepala pelayan Sri pun membantu Vanya memasak di dapur dan di bantu pula pelayan yang lain.
Setelah satu jam berkutat di dapur, akhirnya masakan yang Vanya masak di bantu dengan yang lainnya pun jadi juga. Vanya segera meminta mereka untuk menatanya di meja makan, dan dia naik ke atas untuk melihat keadaan Vano.
-
Masih sama seperti tadi, Vano sangat pulas dengan tidurnya. Vanya diam menatap wajah tampan Vano, setelah hampir setengah jam Vanya menatap Vano dan di rasa waktu udah terlalu siang untuk bangun, Vanya pun membangunkan Vano.
"Bee bangun yuk." menguncang tubuh Vano tidak kasar.
Ya seperti itu Vanya, jika ada kemauannya pasti manggil Vano dengan yang manis manis, coba kalau enggak.
"Vano sayang bangun yuk, udah siang loh ini." ucap Vanya lagi.
"Hmmm, aku masih ngantuk yank." gumam Vano dengan mata yang masih terpejam.
"Iya kamu bangun dulu mandi terus sarapan, nanti setelah itu kamu boleh deh tidur lagi. Kasian perut kamu belum di isi makanan."
"Hmm." gumam Vano tapi tak sedikit pun beranjak dari sana.
"Hufft..." Vanya menarik nafas agar tetap sabar menghadapi sikap Vano yang kayak gini.
"Ya udah aku siapin air buat kamu mandi dulu, nanti kalau aku kembali kamu sudah harus bangun ya." ujar Vanya yang tak mendapat jawaban dari Vano.
Tak mau berfikir panjang, Vanya pun pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air buat Vano mandi.
__ADS_1
...***...