
"Anak paling ganteng datang..." teriak Vino saat berjalan menuruni tangga yang membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Itu adik lo Van?" tanya Farrel yang melihat Vino di tangga.
Vano menggangukkan kepala pertanda iya.
"Gilak ganteng banget, itu bulu mata napa lentik banget sih jadi iri gw." kagum Farrel.
"Cih awas aja lo nanti kalau udah tahu gimana sifat aslinya." Vano membatin.
"Ya gelas ganteng lah orang bibit siapa dulu." ucap papa William pede.
"Bibit Om emang ungul ungul, tapi cuma Vano yang gak bener sifatnya. Boleh dong Om minta resepnya."
" Cih, dia belum tahu aja kalau adik gw lebih parah dari pada gw." Batin Vano lagi.
"Boleh ntar Om kasih tahu, mau liat prakteknya langsung atau cuma mau teorinya aja?"
"PAPA." bentak mama Fara dari tempat makan yang masih dapat mendengar pembicaraan mereka, dan teriakkan itu seketika membuat papa William kicep diam.
Sedangkan Vano hanya menggelengkan kepala, papanya ini kalau soal bisnis memang pintar, tapi kalau sudah di rumah sepertinya salah satu dari orang yang takut sama istri.
"Mama jangan teriak teriak ini bukan hutan." ucap Vino yang sudah gabung dengan Vano, Farrel dan papa William.
"Kayak situ gak pernah aja." gumam papa William yang masih di dengar Vino.
"Enggak ya, Vino itu anak baik baik, Vino gak pernah teriak teriak kayak orang hutan." balas Vino.
"Lah denger dia." heran papa William, perasaan dia tadi ngomongnya udah kecil banget gak keras keras.
"Vino gak budek kalau papa lupa." balas Vino lagi.
"Udah udah ayo kita berangkat, keburu siang nanti." ajak Vano.
"Papa pakai itu?" meneliti pakaian yang di pakai papa William dari atas hingga bawah seperti tengah merendahkan papa William.
"Enak aja, ya kali papa joging pakai baju tidur." bantah papa William karena dia sekarang masih memakai setelan tidurnya.
"Trus?"
"Papa gak ikut, kalian cuma pergi bertiga aja."
"Hah, Berti..gaa.." seketika Vino sadar ternyata di sini ada anggota baru, wah sepertinya mata Vino mulai buram.
__ADS_1
"Kok Vino baru sadar ya kalau di sini tadi ada orang." menggaruk tengkuknya sambil menatap Farrel yang tengah duduk di sofa singel samping Vano.
"Hai adik manis, kita belum kenalan loh, nama kakak Farrel, kakaknya kak Vanya. Kalau kamu namanya pasti Vino, iya kan." sapa Farrel pada Vino.
"Ngapain ngajak kenalan kalau udah tahu nama Vino." mulai menampakkan sifat aslinya.
"Aduh kamu pinter banget sih kalau ngomong kan aku jadi gemes."
Entah Vano yang salah menilai adiknya atau Farrel yang belum terlalu mengenal Vino, mana ada Vino ngeselin kayak gini di bilang gemes. pikir Vano.
"Dih, SKSD." judes Vino.
"Yuk kak kita berangkat, nanti kalau siang siang cewek cewek di taman udah ganti dengan ibu ibu." menyeret tangan Vano tanpa permisi.
"Ma, pa kita berangkat dulu Assalamualaikum." pamit Vano tak sempat salim karena tubuhnya yang sudah di seret keluar rumah.
"Saya juga mau nyusul mereka dulu Om, TANTE FARREL PERGI DULU. Assalamualaikum." pamit Farrel juga dengan agak berteriak kepada mama Fara.
"Waalaikum salam kalian hati hati." balas mama Fara.
"Waalaikum salam." balas papa William.
Mereka bertiga pergi ke taman menaiki mobil Vano dengan Vano juga yang memegang kemudi dan di sebelahnya ada Farrel, sedangkan Vino dia milih duduk di jok belakang.
"Kita mau joging Vino, bukan mau jalan jalan." ujar Vano melirik adiknya dari kaca spion mobil.
"Lah kan joging juga jalan jalan, emang kakak mau lari terus gitu?"
"Iya deh terserah kamu, kakak malas debat sama kamu, ini masih pagi."
"Yang bilang siang siapa?" balas Vino.
"Kamu lah, tuh barusan." balas Vano tak mau kalah dengan adiknya. Dan tanpa Vano sadari dia sudah mulai berdebat dengan adik kesayangannya itu.
"Hahahaha.... Sumpah kalian lucu banget." tawa Farrel.
Seketika Vano dan Vino saling pandang dan memandang Farrel sambil mengedihkan bahunya, yang dalam isyarat seolah mereka saling bertanya 'dia kenapa?' dan di jawab 'gak tahu.'
"Vino tenang aja nanti biar kak Farrel yang beliin Vino makanan semua yang Vino mau." ucap Farrel setelah tertawa dan dia tidak tahu kalau sedari tadi orang yang ada di samping juga belakangnya tengah membicarakan dirinya dengan isyarat.
"Wah beneran Kak." antusias Vino.
Si Vino gak malu apa ya, tadi kan udah ngejek Farrel. dasar Vino 😂
__ADS_1
"Iya, bahkan kalau kamu mau beli mainan sekalipun nanti kakak beliin."
"Asyik makasih kakak ganteng, kak Farrel emang the best deh pokoknya, gak kayak kak Vano yang sukanya ngancem mulu." mengadukan sikap Vano pada Farrel.
"Seriusan kakak kamu suka ngancem, wah kalau aku sih gak mau ya jadi adiknya." kompor Farrel.
"Aku aja terpaksa, kalau seandainya kak Vano gak kaya, mana mungkin aku mau jadi adiknya." timpal Vino.
Citt...
Tiba tiba Vano mengerem mendadak mobil yang dia kendarai di pinggir jalan.
"Kok berhenti sih, perasaan ini masih jauh deh kak. Oh atau jangan jangan mobil kak Vano bensinnya abis. Mangkanya kak jadi orang itu jangan suka ngancem ngancem jadi habiskan uangnya, buat beli bengsin aja sampai gak punya." cerocos Vino yang membuat kuping Vano semakin panas.
"Kalian berdua turun dari sini." ucap Vano datar tanpa memandang Farrel dan Vino.
" Ehh kak Vano ganteng banget deh, pasti kakak cantik makin cinta deh. Jalanin mobilnya yok, nanti Vino beliin permen deh janji." rayu Vino seperti merayu anak kecil yang lagi ngambek.
"Saya bilang turun dari mobil." tegas Vano lagi.
"Van, Van, Van udah ya jangan marah, kita dari tadi cuma becanda kok. Ya gak Vin?" menoleh pada Vino.
"He'em."jawab Vino.
"Jalanin mobilnya ya Van, ini di jalan loh, tuh di belakang masih banyak mobil yang ngantri." lanjut Farrel.
Tanpa menjawab apa apa Vano langsung menancapkan gas dengan kencang, sehingga membuat mobil melaju dengan kencang di jalan yang rumayan padat sebab ini weekend.
"Kak Vano, Vino takut." teriak Vino ketakutan di belakang.
"Van, udah Van, kasian adek Lo." Farrel berusaha merayu Vano agar mengurangi laju mobilnya.
Bukannya mengurangi kecepatan mobilnya, Vano malah makin menambah kecepatan mobil, bahkan dia menyalip nyalip kendaraan yang ada di depannya. Baik kendaraan besar maupun kecil.
"Kak Vano, hiks hiks Vino takut." Tangis Vino pecah sambil berpegangan erat pada sabuk pengaman dengan memejamkan mata.
"Sini kedepan duduk sama kakak." ajak Farrel karena merasa kasian sama Vino.
Mau merayu Vano pun percuma, jadi yang bisa Farrel lakukan hanya menenangkan Vino dengan membawanya ke pangkuannya. Farrel mengambil Vino dari jok belakang dengan hati hati, walaupun agak kesusahan karena kecepatan mobil yang sangat tinggi, akhirnya Farrel berhasil juga.
Mereka sudah mendekati taman yang ramai akan orang orang yang berlalu lalang, dan...
Ciiitttt...
__ADS_1
...***...