My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 209


__ADS_3

Setelah kepergian Farrel Fira memutuskan untuk pergi ke dapur yang entah di mana tempatnya. Fira keluar dari kamar dan turun menuju lantai satu.


"Selamat datang nyonya." sapa seseorang dari belakang Fira membuat Fira terkejut, dan menengok ke belakang.


"Maaf sudah bikin nyonya terkejut." ucap seorang laki laki itu lagi.


"Iya gak papa, maaf sebelumnya anda siapa ya?" tanya Fira formal karena melihat pakaian orang itu yang formal dengan jas berwarna hitam.


"Perkenalkan saya Dodi orang yang di tugaskan oleh tuan Farrel untuk menjaga anda selama beliau keluar sekaligus asisten tuan Farrel di kantor." jawab Dodi memperkenalkan dirinya.


"Oooh, saya kira siapa tadi."


"Oh iya, di rumah ini gak ada orang kah, kok sepi?" tanya Fira heran.


"Di sini cuma ada beberapa penjaga saja nyonya, kalau untuk asisten rumah tangga akan datang nanti sore." jawab Dodi.


"Oooh gitu." Fira bingung harus ngomong apa lagi.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Dodi.


"Eemmm boleh gak saya minta tolong sama kamu?"


"Tentu boleh nyonya, apa yang bisa saya bantu?"


"Tadi saya di larang sama Farrel agar tidak keluar rumah. Jadi saya minta tolong sama kamu untuk membelikan saya sayuran untuk di masak. Di dapur belum ada kan?" pinta Fira.


"Belum ada nyonya, di dapur cuma ada peralatan memasak saja karena tuan Farrel bilang mau pindah ke sini secara mendadak jadi kami belum menyiapkan segala keperluan dapur. Kalau begitu saya pamit pergi ke supermarket dulu."


"Oh iya sekalian sama bumbu bumbu buat masak, kamu tahu kan?"


"Iya nyonya saya tahu."


Dodi pun pergi untuk mencarikan apa yang Fira perintahkan padanya. Sedangkan Fira dia berjalan mencari letak dapur, setelah ketemu Fira segera menyiapkan peralatan yang akan dia gunakan setelah ini.


-


"Gimana dok apakah saya boleh pergi perjalanan jauh?" tanya Vanya setelah di periksa oleh dokter.


"Kondisi kandungan anda sangat kuat jadi aman untuk melakukan perjalanan jauh. Tapi tetap harus jaga kesehatan juga jangan terlalu lelah. Dan ini saya resepkan vitamin untuk anda konsumsi satu kali setiap hari." jelas dokter itu.


"Baik dok terima kasih." ujar Vano sambil tangannya menerima resep vitamin yang dokter itu berikan.


"Sama sama tuan, tolong selalu di perhatikan pola makan nyonya."


"Baik dok, kalau begitu kami permisi dulu." pamit Vano dan membawa Vanya keluar dari sana.

__ADS_1


"Tuh kan boleh, berarti kita jadi dong ke Koreanya." senang Vanya dalam perjalanan menuju rumah.


"Iya, nanti biar aku suruh asisten Rudi untuk menyiapkan semuanya." balas Vano.


"Makasih sayang." senang Vanya memeluk lengan Vano.


"Mang kita mampir di restoran depan ya." perintah Vano pada mang Udin yang setia sedari tadi menyetir mobil.


"Baik tuan." jawab mang Udin.


"Mau ngapain?" tanya Vanya mendongakkan kepalanya menatap Vano yang posisinya lebih tinggi dari Vanya.


"Kita makan dulu, udah waktunya kamu makan siang." jawab Vano mengelus rambut Vanya.


"Aku gak mau." ucap Vanya merajuk.


"Loh kok gak mau, katanya mau nonton konsernya suami suami kamu. Nanti kalau kamu gak mau makan terus sakit gimana, gak jadi ke Korea dong." ucap Vano lembut.


"Iisss aku bukan gak mau makan." balas Vanya.


"Terus mau apa hmm, katanya gak mau?"


"Iiiiihhh aku tuh gak mau makan di restoran itu."


"Oooh bilang dong dari tadi, biar akunya gak salah tangkap.


"Eemmm... aku mau makan sate kambing." ujar Vanya dengan mata yang berbinar membayangkan makan sate dengan bumbu kacang yang banyak.


"Ya udah kita cari, Mang gak jadi ke restorannya. Kita cari sate kambing aja."


"Baik tuan."


"Tuh udah, ada yang lain lagi yang mau kamu makan?" tanya Vano.


"Kayaknya gak ada deh, anak kamu cuma mau makan sate." jawab Vanya sambil tangannya berada di perutnya.


"Atututu anak Daddy udah mulai minta sesuatu ya." sambil tangannya mengelus perut Vanya.


"Iya Daddy, Daddy kalau kerja yang semangat ya agar bisa beliin baby makanan yang buanyuak." balas Vanya menirukan suara anak kecil.


"Tanpa aku kerja juga anak kita udah kaya sendiri. Buktinya masih dalam perut aja udah dapat warisan yang berjibun."


"Tapi kalau kamu gak kerja harta itu juga bakalan habis." garang Vanya yang mulai keluar sungutnya.


"Iya iya nanti Daddy bakalan kerja dengan serius agar bisa beliin mommy mu album." ngalah Vano.

__ADS_1


"Nah gitu dong."


Setelah itu mereka diam dengan pemikiran masing-masing. Hingga mang Udin menghentikan mobil Alphard milik Vano di depan sebuah warung makan pinggir jalan yang menjual sate.


"Mang tolong beliin dua bungkus ya, mang Udin kalau mau beli juga silahkan sama Sri juga beliin." perintah Vano.


"Loh kok cuma dua?" sela Vanya.


"Kan kita cuma berdua, aku satu kamu satu." jelas Vano.


"Gak mau, aku maunya tiga. Terus bumbunya juga harus yang banyak."


"Kok banyak banget, emang siapa yang mau makan?" tanya Vano.


"Ya aku lah."


"Emang perut kamu muat?"


"Ya, ya.... pokoknya aku mau tiga titik gak pakai koma. Kalau kamu gak mau beliin ya udah aku bisa beli sendiri." ngambek Vanya karena mengira Vano tidak mau membelinya banyak.


"Iya iya, kamu tiga aku satu. Mang satenya jadi empat ya, sama bumbunya minta yang banyak." ngalah Vano lagi.


Vanya yang permintaannya di turutin pun senangnya bukan main, langsung saja dia memeluk dan bersandar di dada depan Vano dengan nyaman.


"Baik tuan." jawab mang Udin yang sedari tadi mau turun tapi tidak jadi, dan akhirnya jadi turun juga.


"Udah, seneng?" tanya Vano sambil tangannya memainkan rambut Vanya.


Entahlah kenapa sekarang Vano jadi sering memegang rambut Vanya yang panjang dan halus itu, mungkin sudah jadi candu buat Vano.


"Seneng banget." melepaskan pelukannya dan...


Cup.


"Makasih sayang, makin cinta deh." ucap Vanya setelah memberikan ciuman di bibir Vano.


"Kok cuma sebentar?" protes Vano.


"Maksud kamu?" bingung Vanya.


Tanpa menjawab pertanyaan Vanya, Vano segera menarik tengkuk Vanya dan mel*mat bibir Vanya dengan rakus. Vano menggigit kecil bibir Vanya agar Vanya mau membuka mul*tnya, merasa ada kesempatan Vano pun memas*kkan lid*hnya ke dalam mul*t Vanya dan mengabsen setiap jengkal yang ada di dalam mul*t Vanya. Vano terus mel*mat b*bir Vanya tanpa memperdulikan mereka berada di mana saat ini. Hingga Vano merasa pasokan nafas Vanya hampir habis, baru Vano melepaskan l*matannya.


Vano menempelkan dahi mereka berdua dengan nafas yang masih maik turun.


...***...

__ADS_1


Aku kasih banyak sensor di akhir part, agar tidak di tahan oleh pihak NT 😂


__ADS_2