
"Orang enak gini kok di bilang asem." balas Vano tak terima.
"Gw minta juga dong Van." pinta Galang dan Rangga juga.
"Gw juga mau dong." timpal Sisil.
"Nih ambil aja sesuka kalian." balas Vano.
"Yang kamu gak mau nyobain juga?" tanya Vano pada Vanya yang hanya diam memperhatikan.
"Enggak." jawab Vanya cuek.
"Kenapa sih hmm, masih marah?" lanjut Vano.
"Tauk ahh."
"Udah gak usah di pikirin, nanti aku ganti sama yang baru." balas Vano santai seolah harga pintu berukuran besar dan terbuat dari kayu yang bagus itu seperti harga permen.
"Sini coba in deh rasanya enak tauk." ajak Vano menuntun Vanya yang sedari tadi berdiri untuk duduk di sampingnya.
"Breee..." Rangga, Galang dan Sisil kompak menyemburkan kedondong yang sudah masuk ke dalam mulut mereka.
"Kalian kenapa sih?" heran Vanya.
"Tau tuh, lebay." timpal Vano.
"Lo cobain deh Van, rasanya asem banget." Sisil menyodorkan satu buah kedondong yang baru dia ambil dari tempatnya kepada Vanya.
"Masak sih." Vanya pun mencoba mengigit dengan ukuran yang sangat kecil karena takut keasaman.
"Gimana asam kan?"tanya Sonya.
"Enggak biasa aja, malahan enak." balas Vanya dan mengigit lagi kedondong itu dengan ukuran yang lebih besar.
"Hah." kaget mereka sekaligus heran.
"Kalian berdua sehat kan?" tanya Rangga heran pada Vanya dan Vano.
"Iya kami sehat sehat aja kok." jawab Vanya sambil mengunyah kedondong.
"Ini asam Vano, Vanya... lidah kalian mati rasa ya?" greget Sonya.
"Enggak kok lidah kita baik baik aja, iya kan yank?" balas Vano bertanya pada Vanya.
"Iya lidah kita sehat sehat aja." Balas Vanya.
"Kalian aneh." celetuk Galang.
"Kalian kali yang aneh, orang enak gini kok." balas Vano mengambil lagi satu buah kedondong.
"Keknya ada yang aneh deh dari mereka berdua." bisik Sisil pada Rangga.
"Kayaknya sih emang iya." balas Rangga berbisik.
"Oh iya aku mau tanya dong sama kalian, gimana di sekolah, gak ada yang ngomongin kita kan?" tanya Vanya.
"Beuhh kalau soal itu mah parah banget. Belum selesai mendengar pengunduran diri lo dari ketua OSIS trus di tambah lagi lo keluar dari sekolah bersamaan dengan Vano membuat seluruh sekolah heboh." jelas Sonya.
"Iya bener banget, apa lagi itu si temennya Tante girang pakai acara nyebarin kalau lo tuh hamil di luar nikah sama Vano." timpal Sisil yang tumben otaknya jalan.
__ADS_1
"Wah ada yang mau main main nih." ucap Vanya dingin.
"Yank jangan mulai deh, ingat kamu lagi hamil." peringat Vano pada Vanya.
"Oh iya lupa." cengir Vanya.
"Kamu gak usah banyak mikirin hal hal yang tidak penting, terserah apa kata mereka nanti gak usah kamu pikirkan." ujar Vano.
"Iya sayang..." balas Vanya.
"Tuh kan mulai, sebenarnya lo berdua nyuruh kita ke sini buat apa sih? Buat liat lo berdua mesra mesraan gitu?" ucap Sonya gedeng.
"Hehehe maaf kelepasan, gw cuma kangen aja sama kalian. Kita kan sekarang jarang ketemu." ujar Vanya melow.
"Emmmm kita juga kangen sama Lo." balas Sonya.
"Yuk peluk." ajak Sisil.
"Huuwaaaa..." heboh mereka bertiga sambil berpelukan ala Teletubbies.
"Kita pelukan juga yuk." celetuk Rangga.
"Ogah." tolak Galang dan Vano mentah mentah.
"Yah kok kalian gitu sih, kan jadi sedih aku." dramatisasi Rangga.
"Gak usah lebay, kita bukan cewek yang apa apa harus pelukan." balas Galang.
"Tau tuh, lo kalo mau sana ikut sama mereka." timpal Vano.
"Iiisss kalian jahat banget sih." dramatisasi Rangga.
"Yuk lah."balas Galang dan Rangga.
Mereka pun nongkrong di sana dengan kaum laki laki bermain PS sedangkan para ciwi ciwi nonton drama.
-
Malam pun tiba, saat ini Fira sudah bersiap dengan baju dinasnya yang berwarna hitam.
lekuk tubuh Fira sangat terlihat jelas, apa lagi bagian pay*d*r* nya yang sangat menonjol karena Fira tidak memaksa Br*.
"Kok gw jadi kek jal*ng ya." gumam Fira di depan cermin setelah memoleskan lipstik di bibir dengan warna merah menyala.
"Bodo amat lah, nih orangnya juga mana lagi kenapa gak balik balik."
"Gw nanti harus gimana ya posisinya, gini kali ya." bersandar di dinding sambil berpose ****.
"Gak gak gak, itu terlalu berlebihan. Gimana kalau gini aja." duduk di sofa sambil kakinya di silangkan.
"Ahh, gak gak gak, itu terlalu biasa." lanjutnya.
Fira terus mencoba gaya seperti apa yang akan di gunakan untuk menyambut Farrel nanti. Berbagai gaya telah di coba hingga dirinya merasa capek sendiri.
Ceklek.
"Hah." kaget Fira dan segera masuk ke dalam selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Sayang kamu udah tidur?" tanya Farrel menghampiri ranjang.
__ADS_1
"Hmm." balasan Fira bergumam.
"Kamu udah mau tidur?" tanya Farrel.
"Hmm." balas Fira lagi.
"Ya udah kami kalau udah ngantuk tidur duluan saja, aku masih mau kerjakan sesuatu."
"Tunggu." refleks Fira mencegah kepergian Farrel hingga dia tak menyadari kalau selimutnya sudah melorot ke bawah.
Glek.
Farrel menekan ludahnya kasar saat melihat pemandangan di hadapannya yang dapat menggoda iman.
"Kamu kenapa?" tanya Fira yang belum menyadari sesuatu.
Fira mengikuti arah pandangan Farrel dan...
"Aaaa... hmmtt" teriak Fira dan langsung di bekap oleh Farrel.
"Jangan teriak teriak ini udah malam nanti yang lain denger." ucap Farrel di balas anggukan oleh Fira.
Farrel pun melepaskan tangannya dari mulut Fira, dan Fira pun segera menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.
"Kenapa pakai baju kayak gitu hmm?" tanya Farrel lembut.
"Kamu gak suka?" balik tanya Fira.
"Bukannya aku gak suka, tapi aku takut aku gak bisa menahannya." jawab Farrel.
Mendengar itu nyali Fira yang tadinya menciut pun berubah menjadi besar. Fira menyingkirkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya dan beranjak duduk di pangkuan Farrel.
"Yank jangan mulai deh." peringat Farrel.
"Kenapa sih hmm?" balas Fira dengan nada yang menggoda.
Farrel diam saja menahan tubuhnya yang mulai bereaksi agar tidak memakan Fira.
"Ini apa sih." tanya Fira sambil memegang jakun Farrel yang sangat menonjol di lehernya.
"Yank." Farrel menahan tangan Fira yang semakin menjalar kemana-mana.
"Kenapa hmm?" Fira semakin menjadi.
Dia mengarahkan tangannya menyelusuri dada bidang Farrel.
"Yank." ucap Farrel lagi, tapi kali ini wajahnya sudah memerah.
"Muka kamu kenapa kok merah gitu?"
"Uuh." Des*h Fira saat dirinya tak sengaja mengerakkan pant*tnya di pangkuan Vano. Fira dapat merasakan bahwa benda pusaka Farrel sudah dalam mode on.
"Aku pergi dulu, ada yang mau aku urus." dengan sekali gerakan Fira sudah berdiri di lantai.
"Kamu berhenti atau aku akan pergi dari sini." ancam Fira pada Farrel yang sudah melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar.
Mendengar itu pun Farrel menghentikan langkahnya dan berbalik.
...***...
__ADS_1
Udah 5 part untuk hari ini. Masih yang sudah setia membaca cerita akuš„°