
"Gimana?" tanya Vanya.
"Om William akan menyusul ke sini." balas Fira mengembalikan ponsel Vanya.
"Van bangun Van." teriak Farrel agar Vano terbangun.
Bug bug bug bug...
Farrel terkena pukulan yang membabi-buta juga dari lawan. Hingga Farrel terjatuh ke lantai.
"Farrel." teriak Fira khawatir tapi Fira juga tidak bisa keluar karena dirinya harus menjaga Vanya.
"Cepat dia ke mobil, dan tinggalin mereka di sini." perintah Aaron lagi karena anak buahnya belum juga membawa Vano dari sana.
Anak buah Aaron pun membawa Vano yang sudah tak berdaya ke dalam mobil. Dan segera pergi dari sana dan di ikuti Aaron di belakangnya.
"Kak Vano mau di bawa kemana?" panik Vanya yang melihat Vano di bawa pergi.
"Van, Vano sadar Van." teriak Farrel memangil manggil nama Vano.
"Kak ayo kita keluar kak." ajak Vanya dan di setujui oleh Fira.
"Apa tuan tidak apa apa?" tanya anak buah papa William yang masih bertahan.
"Hmm, tolong kamu sama yang lain kejar mobil yang bawa Vano." perintah Farrel.
"Baik tuan." anak buah papa William pun segera menuju mobil dan melajukan mobilnya untuk mengejar Aaron.
"Byy kamu gak papa kan?" tanya Fira khawatir.
"VANO, VAN VANO." teriak Vanya akan berlari tapi di tahan oleh Fira.
"Tahan Vanya tahan, lo lagi hamil jadi jangan bertindak gegabah." peringat Fira membuat Vanya terdiam.
"Udah kamu tenang aja, percaya sama Vano kalau dia bisa melindungi dirinya sendiri." ujar Farrel menenangkan Vanya.
"Kamu udah telefon om William?" tanya Farrel di angguki oleh Fira.
"Katanya mau berangkat ke sini." balas Fira.
"Ya udah kita kembali ke kamar aja, kita tunggu Om William ke mari." ajak Farrel menuntun Vanya yang tubuhnya lemas dan pucat.
"Mau ke kamar kamu atau ke kamar kakak?" tanya Farrel pada Vanya.
__ADS_1
"Kamar aku aja." balas Vanya dengan lesu.
Farrah dan Fira pun mengantar Vanya ke dalam kamarnya dan menemaninya di sana.
Vanya duduk di atas ranjang bersandar pada kepala ranjang sambil tangannya memegang ponsel yang menampilkan foto dirinya bersama Vano semalam.
Air mata Vanya terus menetes, memikirkan Vano yang entah sekarang keberadaannya di mana. Fira dan Farrel membiarkan saja Vanya menangis dari pada di tahan nanti lebih gak enak.
Fira menjaga Vanya juga sambil mengobati luka memar memar Farrel yang tidak hanya satu di wajahnya.
"Gimana Om William udah berangkat belum?" tanya Fira pada Farrel yang sedari tadi bertukar kabar dengan papa William.
"Udah dari lima belas menit yang lalu." balas Farrel sambil meringis akibat dari lukanya yang terkena obat.
"Semoga saja Vano tidak di apa apain." doa Fira.
"Aku yakin sih pasti Vano tidak sebodoh itu untuk menyerah. Pasti dia juga sudah ada rencana yang lain." balas Farrel.
"Ya semoga saja." balas Fira.
Mereka terus menemani Vanya dan membujuk Vanya saat waktunya makan tiba, tapi Vanya selalu menolak untuk makan ataupun minum susu ibu hamil, tapi Fira selalu mengingatkan Vanya kalau dirinya tengah hamil jadi akhirnya Vanya mau makan meskipun hanya sedikit.
-
Vano yang masih setengah sadar pun mencoba untuk meninggalkan jejak agar kalau orang orangnya mencari dirinya bisa mudah. Sebenarnya tubuh Vano masih kuat bila melawan mereka tadi, tapi kaki Vano yang tidak bisa di ajak kerjasama. Alhasil Vano ngalah saja dari pada nanti dirinya semakin terluka.
"Cepat bawa dia masuk dan kita pergi dari negara ini." perintah Aaron.
"Baik tuan." jawab anak buah Aaron.
Mereka segera memasukkan Vano ke dalam jet pribadi milik Aaron dan segera terbang meninggalkan kota Seoul.
-
Beberapa jam kemudian akhirnya jet pribadi papa William pun mendarat dengan sempurna di bandara internasional Incheon Korea Selatan. Papa William pun segera pergi menuju hotel tempat di mana menantunya berada.
Papa William tadi pergi tanpa mengabari istri terlebih dahulu karena dia takut istri itu akan syok mendengar kabar Vano yang hilang di culik.
"Vanya sayang." pangil papa William saat memasuki kamar hotel Vanya.
"Papa." balas Vanya dan segera berhambur ke dalam pelukan papa William.
"Vano pa, Vano hiks hiks hiks..." tangis Vanya pecah lagi dalam pelukan papa William.
__ADS_1
"Udah ya jangan sedih nanti babynya ikutan nangis loh. Papa janji akan segera menemukan Vano dan membawanya menemui kamu." ujar papa William agar Vanya tidak terlalu kepikiran.
"Papa janji?"
"Iya sayang papa janji, sekarang kamu istirahat dulu ya. Tuh mata kamu udah sembab kebanyakan nangis." menghapus air mata Vanya.
"Iya pa." balas Vanya.
Papa William menuntun Vanya untuk berbaring di atas ranjang, setelah itu dia menyelimuti tubuh Vanya dan menemani Vanya hingga Vanya tertidur lelap. Setelah itu dia pergi menghampiri Farrel dan Fira.
"Gimana kamu ada kabar dari anak buah saya?" tanya papa William pada Farrel.
"Belum Om, malah mereka bilang kalau mereka di jebak oleh anak buah Aaron." balas Farrel.
"Huh, saya sudah mengira kalau ini akan terjadi. cepat atau lambat pasti dia akan segera melakukan ini."
"Terus gimana Om sama Vano?" Tanya Fira.
"Itu yang harus kita cari sekarang. Ponsel Vano mana?" tanya papa William mendapatkan gelengan kepala dari Fira dan Farrel.
"Rudi siapkan laptop saya." perintah papa William yang segera di laksanakan oleh asisten Rudi.
Asisten Rudi memberikan laptop pada papa William, dan papa William pun segera melacak keberadaan Vano melalui ponsel Vano.
"Nah, ketemu." seru papa William.
"Di mana Om?" antusias Fira dan Farrel.
"Lokasi ponsel Vano ada di bandara, jadi kemungkinan mereka sudah tidak ada di negara ini lagi." jawab papa William.
"Terus kita?"
"Kamu kemasi semua barang barang kalian, kita pulang ke Indonesia." perintah papa William.
"Baik Om." Fira pun segera mengemasi pakaian serta perlengkapan Vanya dan Vano, sedangkan Farrel mengemasi barang-barang dirinya serta Fira.
Setelah selesai mereka segera pergi meninggalkan Seoul dengan keadaan Vanya yang tertidur. Mungkin saking capeknya Vanya sampai sampai dirinya di gendong Farrel sampai tidak terbangun.
Mereka pulang menggunakan jet pribadi milik keluarga William agar lebih cepat sampainya.
Sedangkan papa William sekarang tengah berada di dalam kamar pribadi nya di dalam jet miliknya sambil memikirkan teori teori apa yang akan dia gunakan untuk menyelamatkan Vano.
Sampai di Indonesia, papa William membawa Vanya pergi menuju rumahnya agar Vanya ada temannya. Mungkin saja nanti kalau ada Vino dengan tingkah absurt nya bisa menghibur Vanya walaupun hanya sebentar.
__ADS_1
...***...