
Ruangan OSIS
Vanya sedang memimpin rapat bulanan OSIS yang akan di adakan setiap akhir bulan untuk merekap data data yang ada.
"Baik untuk bagian bendahara gimana keadaan keuangan bulan ini?" tanya Vanya kepada bendahara OSIS.
"Keuangan bulan ini rumayan lancar, pengeluarannya juga tidak terlalu banyak seperti bulan kemarin dan masukannya juga meningkatkan 5 persen dari sebelumnya." jelas bendahara OSIS.
"Ok, kamu rekap seperti biasanya nanti kumpulkan ke pak Bandi selaku pembina OSIS."
"Baik Van."
Mereka terus membahas masalah lainnya hingga selesai setelah itu mereka semua kembali ke kelas masing-masing.
Tok tok tok
Vanya mengetuk pintu ruang kelasnya karena sepertinya di dalam sudah ada guru yang mengajar.
Clek
"Oh Vanya silahkan masuk." ucap guru yang mengajar.
"Assalamualaikum buk, maaf Vanya telah tadi ada rapat OSIS." sapa Vanya sambil mencium punggung tangan guru dan setelah itu berjalan mengikuti guru masuk ke dalam kelas.
"Waalaikum salam."
Vanya duduk di bangkunya yang di sambut ocehan Sonya.
"Ehh Van, nanti pulang sekolah gw nebeng lo ya." ucap Sonya.
"Emang mobil lo ke mana?"
"Mobil gw tadi mogok di jalan waktu berangkat sekolah."
"Ppfftt.. mobil seorang Sonya ternyata bisa mogok juga ya." canda Vanya.
"Yeee lo pikir mobil gw apaan, manusia aja bisa sakit apalagi mobil."
"Bener juga sih."
"Ehh trus tadi lo ke sekolahnya naik apa?" tambah Vanya.
"Emmm gw, gw tadi dapat tumpangan."
"Emang siapa yang ngasih lo tumpangan kok sampai lo gugup gitu?"
"Eemm.. itu si- si Galang."
"WHAT, Galang." teriak Vanya yang mendapat teguran dari guru.
"Vanya kenapa kamu teriak teriak. Kamu baru masuk sudah buat masalah ya."
"Maaf buk keceplosan."
"Sekarang kamu ke depan tuliskan pelajaran hari ini yang perlu di catat ini bukunya." suruh guru itu terhadap Vanya.
Mau tidak mau Vanya harus menerima hukuman itu. Vanya pun berjalan ke depan kelas dan segera melaksanakan perintah guru.
"Ehh kalian emang tadi ngomongin apa sih?" tanya Sisil kepo yang sedari tadi diam saja.
"Kepo." jawab Sonya sambil mengejek.
wlekk
"Iiih Sonya kok gitu sih sama Sisil."
"Sisil kamu mau membantu Vanya?" ucap ibu guru sambil menatap Sisil tajam.
Sisil yang mendengar itu pun segera mengalihkan pandangannya dari menghadap belakang di mana tempat duduk Sonya ke arah depan kelas.
"Ehh ibuk, cantik banget sih hari ini." ucap Sisil saat melihat tatapan tajam itu.
"Masak sih?"
"Bedak ibu ketebalan gak?" tanya ibu guru yang mengundang gelak tawa murid satu kelas.
__ADS_1
Hahahaha.
"Ibu mau aja di kibulin Sisil."
"Bedak ibu gak rata tuh."
"Buk lipstik nya jombrot."
"Buk eyeliner nya luntur tuh."
Dan banyak lagi ucapan para murid kepada ibu guru yang dandanannya rumayan menor.
"Kalian semua diam."
"Dan kamu Sisil, ibu maafkan sekarang karena kamu sudah memuji ibu tadi." ucap ibu guru dengan tegas.
"Lah di kira gw muji tadi." ucap lirih Sisil yang tidak dapat di dengar oleh semua orang yang ada di dalam kelas.
Mata pelajaran pun berlanjut dengan jahilan jahilan lainnya dari para murid.
-
"Ehh gaes nanti anterin gw ke ruang kepsek ya." ucap Vanya sambil berjalan menuju kantin karena ini sudah waktunya istirahat.
"Ogheey." jawab kompak Sonya dan Sisil.
"Emang lo mau ngapain ke kepsek?" tanya Sonya.
"Jangan bilang lo mau godain pak kepsek dia kan duda." tuduh Sisil yang hampir sama dengan Rangga kelakuannya.
"Heh lo kalau ngomong jangan sembarang."
"Gw mau ke kepsek karena gw mau nanya in masih ada gak olimpiade lainnya yang bisa gw ikutin." jelas Vanya sambil menoyor jidat Sisil.
"Aduh sakit t*lol." keluh Sisil sambil mengelus jidatnya.
Mereka pun sampai di kantin yang keadaannya masih agak sepi karena sebagian murid mungkin masih ada di dalam kelas.
"Kalian mau pesen apa biar gw pesenin." tawar Sisil.
"Gw seperti biasa aja bakso gak pakai seledri trus minumnya es teh." ucap Sonya.
"Gw soto aja minumnya sama kayak Sonya."
"Ok kalian tunggu sebentar."
Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang mendengar obrolan Mera dan tersenyum simpul.
"Ki, sini deh!" pangil Cindy.
Kia pun mendekat dan Cindy membisikkan sesuatu kepadanya. Mereka tersenyum penuh arti.
"Oke, biar gw yang urus." ucap Kia dan beranjak pergi.
"Ehh Kia mau kemana?" tanya Tasya.
"Udah lo di sini aja sama gw, kita pantau disini bentar lagi ada tontonan yang menarik." jawab Cindy menatap ke arah lain sambil menaikkan sebelah bibirnya.
Tasya pun bergidik ngeri melihat muka Cindy dan memutuskan untuk memainkan ponselnya yang ada pesan dari Kia.
"Bilangin ke Cindy kalian mau pesan apa biar gw pesenin."
"Cin, ini Kia tanya kita mau pesen apa biar sekalian di pesenin." ucap Tasya.
"Samain aja sama Lo."
"Oke."
Tasya pun membalas pesan Kia, setelah itu dia kembali memainkan ponselnya.
"Sony, gw ke toilet bentar ya." ucap Vanya.
"Mau gw temenin."
"Udah gak usah nanti kasian Sisil kalau kita tinggalin."
__ADS_1
Tiba-tiba Sisil datang dan segera duduk di sebelah kiri Vanya.
"Loh mana makannya?" tanya Sonya.
"Tar di bawain kesini sama mang Agus."
"Oh." jawab Sonya.
"Ya udah gw pergi dulu." pamit Vanya.
"Mau kemana tuh anak?" tanya Sisil pada Sonya.
"KM." jawab Sonya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Hah. KM, apaan tuh?" bingung Sisil.
"Kamar mandi Sisil sayang." jawab Sonya ngegas.
"Ya gak usah ngegas juga Sony." ucap Sisil yang sudah tak di respon oleh Sonya.
Setelah beberapa menit makanan sudah tersaji di hadapan mereka.
"Aduh Vanya lama banget sih padahal gw udah laper banget." ucap Sisil.
"..."
"Sony."pangil Sisil karena tidak di respon oleh Sonya.
"Hmm."
"Aduh, lo sekarang kok gini banget sih ngeselin."
Hening tak ada jawaban dari Sonya yang tengah fokus dengan ponsel.
Tiba-tiba kantin heboh oleh kedatangan beberapa orang, siapa lagi kalau bukan Vano dkk.
Seperti biasa mereka duduk di meja paling pojok kantin dan kebetulan itu bersebrangan dengan meja Vanya dkk di sebelah kanan dan di depannya meja Cindy dkk.
"Hai beb." sapa Cindy menghampiri tempat duduk Vano.
"Kamu mau pesan apa biar aku pesenin?" tanya Cindy yang telah duduk di sebelah Vano.
Rangga dan Galang yang melihat kelakuan Cindy pun menatap dengan jijik Cindy.
"Ehh Ngga lo tau gak?" ucap Galang.
"Enggak." jawab Rangga.
"Ya mangkanya jangan suka memotong omongan orang be**."
"Hehehe ya maap. Tau apa emangnya?"
"Kemaren tuh mama gw nonton FTV di Indosiar azab."
"Trus?"
Sementara Vano hanya memandang ponsel pintarnya tanpa berniat untuk merespon Cindy atau mendengarkan omongan yang pastinya bakal ada nada sindiran dari teman-temannya.
"Judulnya tuh AZAB WANITA YANG SUKA GODAIN COWOK MAYATNYA KECEBUR DI GOT " ucap Galang mendramatisir.
"Wah serius lo Lang. Kok ngeri ya dengernya." Rangga yang peka akan ucapan Galang pun mendukung aksi Galang sambil menambah nambahkan ucapannya.
"Iya apalagi tuh muka mayatnya tuh rusak dan membusuk."
"Waduh kita harus hati hati nih Lang jangan sampai kita di deketin sama cewek yang model nya kayak begitu."
"Bener banget tuh."
Cindy yang merasa bahwa dirinya disindir pun pergi dari sana. Toh percuma juga Vano tidak merespon ucapannya. pikir Cindy.
"Buahahahaha.." tawa pecah Rangga dan Galang saat di rasa sindirannya berhasil membuat Cindy KO.
"Kalian ini ada ada aja." ucap Vano setelah meletakkan ponselnya.
"Rumayan juga Van buat hiburan ngeliat ekspresi nya yang bikin ngakak." jawab Rangga.
__ADS_1
"Udah mendingan lo pesenin gw makanan, kalian gw traktir hari ini." ucap Vano yang segera di laksanakan oleh Rangga dengan semangat saat mendengar kata traktir.
...***...