My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 197


__ADS_3

Farrel membawa Fira memasuki taman dan terus berjalan ke tengah tengah taman hingga sampai di rumah kecil yang sangat bersejarah dan banyak kenangannya bagi Fira.


"Ini..." kaget Fira melihat rumah di harapannya.


Rumah masa kecil Fira dulu, dia sangat terharu melihat itu. Fira tidak menyangka kalau Farrel akan mengajaknya ke sini. Apalagi di tambah rumah itu sekarang sudah di kelilingi taman bunga yang indah, bukan lagi rumah rumah kecil seperti dulu.


"Iya aku sengaja membeli tempat ini agar kalau aku kangen kamu bisa ke sini.' ujar Farrel.


"Kita masuk yuk." ajak Farrel mengandeng tangan Fira memasuki rumah.


Fira semakin terharu lagi setelah melihat keadaan dalam rumah itu yang masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah sama sekali. Yang berubah hanya ketambahan beberapa foto masa kecil Fira dan Farrel yang sepertinya di ambil dari jarak jauh tanpa sepengetahuan Fira.


"Kamu yang buat semua ini?" tanya Fira tidak percaya.


"Iya aku lakuin semua ini demi kamu, karena aku tahu rumah ini banyak kenangannya buat kamu." jawab Farrel yang semakin membuat Fira terharu.


Fira berjalan dan memegang foto dirinya bersama mendiang ibunya saat dirinya masih kecil dulu.


"Ibu..." lirih Fira.


Farrel berjalan menghampiri Fira dan memeluk pundak Fira.


"Kamu jangan sedih ya, habis ini kita ke makam ibu kamu." ujar Farrel.


"Makasih udah buat aku bahagia beberapa hari ini." ucap Fira tulus.


Farrel melepaskan pelukannya pada pundak Fira dan berganti menggenggam tangan Fira.


"Kamu gak perlu bilang makasih sama aku, aku akan ngelakuin apapun agar kamu bisa bahagia lagi kayak dulu."


"Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Dari kecil dulu hingga sekarang perasaan ini gak pernah berubah. Aku selalu berdoa agar kamu kembali lagi dan semua doa itu sudah terkabul sekarang. Aku bisa menemukan kamu lagi, aku gak mau buang buang waktu lagi. Mau kan kamu menikah denganku, menjadi ibu dari anak anak kita nanti?" lanjut Farrel dengan serius menatap wajah Fira penuh harap.


"Maksud kamu?"


"Aku tahu kamu masih bingung dengan maksud aku, tapi yang pasti aku serius ingin menjadikan kamu istri aku."


Fira diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia harus menerima Farrel? Bingung Fira.


"Fir..." pangil Farrel menunggu jawaban dari Fira.


"Aku, aku..." jeda Fira.


"Kalau kamu belum siap gak papa, aku akan menunggu kamu sampai kamu siap. Tapi aku sangat berharap kalau kamu bisa menerima aku secepatnya."


"Iya aku mau." jawab Fira yang membuat Farrel diam mematung.

__ADS_1


"Rel." pangil Fira sambil melambaikan tangannya di hadapan mata Farrel.


"Hah, seriusan kamu mau?" kaget Farrel sekaligus gak percaya.


"Iyah..."


Grep.


"Makasih sayang, nanti kita urus surat surat ke KUA ya." ujar Farrel sambil memeluk tubuh Fira dengan erat.


"Hah, seriusan secepat itu?" kaget Fira, Fira kira masih ada waktu beberapa bulan lagi. Ehh tau taunya malah gercep banget.


"Iya dong lebih cepat lebih baik." Memegang kedua pipi Fira dan memandangi wajah Fira.


"Tapi kan menyiapkan semuanya perlu waktu Rel."


"Kamu gak usah khawatir soal itu, yang penting kita sah dulu. Urusan resepsi belakangan."


"Ya udah terserah kamu aja, tapi aku kok kepikiran kalau kita gak usah pakai acara resepsi ya. Cukup akad dan acara makan bersama keluarga itu aja udah cukup deh." usul Fira.


"Kita pikirkan itu nanti, yang pasti harus cepat cepat sah." sambil menarik turunkan alisnya dan memajukan wajahnya mendekati wajah Fira siap untuk mencium Fira.


"Gak usah ngawur, kita belum sah." Fira mendorong wajah Farrel ke belakang.


"Iihhh cuma cium doang."


Mereka pun pergi menuju makam kedua orang tua Fira untuk meminta restu untuk menikah.


-


Sedangkan di posisi Vano, dia tengah mengendarai mobilnya menuju markas dengan Vanya yang duduk di jok sampingnya.


"Yank kita ke mall aja yuk." rayu Vano. Karena Vano takut nanti Vanya akan jijik melihat banyak darah di ruang bawah tanah dan gak doyan makan.


"Gak mau, pokoknya aku mau ke sana." kekeh Vanya.


"Emang kamu tahu tempatnya?"


"Enggak, kan ada kamu yang tahu." jawab Vanya.


"Orang yang aku bahas sama kak Farrel semalam itu bioskop kok. Katanya dia mau nonton sama Fira terus dia nyuruh aku buat ajak kamu."


"Enggak, aku gak percaya."


"Dih, emang itu kok."

__ADS_1


"Aku tahu ya, yang kamu bicarakan sama kak Farrel semalam itu seputar dunia mafia kamu."


"Enggak deh beneran, yang kita bicarakan itu bioskop. Di bioskop ada film terbaru katanya tuh serem banget. Banyak darah darahnya gitu."


"Ya udah kamu turunin aku di sini." kesal Vanya.


"Mau ngapain?"


"Kamu nya ngeselin lagi, jadi aku mau pergi ke sana sendiri."


"Katanya gak tahu tempatnya." balas Vano dengan nada mengejek.


"Ya-ya ya tanya kak Farrel."


"Maaf ya aku selalu bikin kamu kesel, habisnya wajah kamu kalau lagi kesal gitu lucu." mengacak-acak rambut Vanya.


"Vano..."


"Hehehe maaf."


"Udah jangan marah marah kasian babynya. Aku ajak kamu ke sana, tapi kamu janji sama aku kalau kamu lihat sesuatu di sana nanti jangan kamu ingat ingat setelah keluar dari tempat itu." syarat Vano berikan pada Vanya.


"Iya, udah sana cepat." gak sabaran Vanya.


Sebenarnya semalam Vanya mendengar semua apa yang Vano dan Farrel bicarakan, tapi dia tidak tahu di mana tempat di sembunyikan nya bibinya Farrel sama Marvel. Makanya Vanya merengek agar Vano mau mengantarnya ke sana, Vanya juga mau dong kasih pelajaran dikit dikit. Enak aja mereka udah bikin hidup Vanya di bayang bayangi rasa trauma beberapa tahun, sedangkan mereka enak enakan hidup selama ini. Kan itu gak ada buat Vanya.


-


Mobil Vano memasuki halaman yang sepi seperti akan masuk ke pedalaman hutan. Banyak pohon pohon yang menjulang tinggi mengelilingi jalanan itu. Tak ada cahaya matahari yang menyinari jalanan itu karena saking lebatnya dedaunan yang ada pada setiap pohon.


"Kita mau kemana Van?" tanya Vanya.


"Lah, kan tadi kamu yang minta." jawab Vano yang heran dengan sikap istrinya. Bukannya dari semalam merengek minta di antar ke markas, ehh sekarang malah tanya mau kemana. Kan aneh.


"Tapi kenapa jalannya sepi begini?"


"Ya kalau rame namanya pasar."


"Vano aku serius."


"Aku juga serius." balas Vano.


"Tauk ahh, tadi udah minta maaf sekarang bikin aku kesel lagi. Kamu maunya apa sih?" kesel Vanya.


"Maunya kita olahraga tiap hari di kamar."

__ADS_1


Nah no, makan tuh olah raga.


...***...


__ADS_2