My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 246


__ADS_3

"Assalamualaikum ma." sapa Vanya saat memasuki rumah dan mendapati mama Fara tengah membaca majalah di ruang tamu.


"Waalaikum salam, ehh menantu mama datang." balas mama Fara beranjak memeluk Vanya.


"Gimana nih keadaan babynya, sehat sehat aja kan?" lanjut mama Fara.


"Alhamdulillah sehat ma, kemaren kita habis cek up ke dokter." balas Vanya mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Assalamualaikum ma." sapa Vano dan menyalami mamanya.


"Waalaikum salam, kenapa tuh muka kusut amat?"


"Anak bontot mama tuh, cari gara gara sama Vano." adu Vano.


"Lah, emang Vino ngapain? Perasaan dari tadi Vino gak ada sengol kakak." tak terima Vino.


"Iya gak sengol kakak, tapi kamu pegang pegang punya kakak." balas Vano.


"Udah udah kalian ini kalau ketemu suka ribut mulu, Vino katanya kamu kangen sama kak Vano, kok gak di peluk kakaknya. Bukannya kemaren kamu merengek ke papa minta di anterin ke rumah kakak ya?" sela mama Fara menengahi perdebatan kedua anaknya.


"Dih mana ada aku kangen sama kakak, itu cuma alibeli Vino aja biar bisa ketemu kakak cantik." gengsi Vino tak mau mengakui apa yang mamanya ucapkan.


"Alibili Vino bukan alibeli." sahut mama Fara membenarkan apa yang Vino ucapan.


"Ya intinya sama aja kan." balas Vino.


"Dih, udah salah pakek gak mau di benerin lagi." cemoh Vano.


"Biarin." balas Vino.


Vanya yang melihat kelakuan kakak beradik itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Vanya suka melihat jika Vano dan Vino berantem, itu sangat lucu menurutnya.


"Udah stop, pusing mama dengernya." tegas mama Fara membuat kedua anaknya itu diam.


"Udah ya, kalian itu saudara jadi jangan berantem."


"Dia tuh ma ya mulai." tunjuk Vano pada Vino.


"Lah, kok aku, bukannya kakak yang mulai duluan." tak terima Vino.


"Udah stop, udah mama bilangkan jangan berantem, kenapa kalian masih berantem lagi." marah mama Fara.


"Maaf ma." cicit kedua laki laki berbeda usia itu sambil menundukkan kepalanya.


"Ayo sayang kita pergi, biarin mereka di sini." ajak mama Fara pada Vanya.

__ADS_1


Vanya pun menurut saja, tangannya di tarik oleh mertuanya ke ruang makan. Sepertinya mama Fara tahu kalau Vanya membawa makanan makanya dia membawa Vanya ke sini untuk meletakkan makanan yang Vanya bawa.


"Kamu bawa apa sayang?" tanya mama Fara setelah sampai di ruang makan.


"Oh ini Vanya bawa roti ma, soalnya bingung juga Vanya mau bawa apa." jawab Vanya menyodokkan bungkus roti yang berbentuk seperti tas kresek.


"Kamu repot repot aja, kamu datang ke sini aja mama udah seneng banget." menerima pemberian Vanya dan meletakkannya di meja makan.


"Ma." pangil Vano menghampiri mamanya di ikuti Vino yang mengekor di belakang Vano, sepertinya mereka sudah baikan.


"Ada apa Van?" tanya mama Fara.


"Vano mau dong makan masakan mama." jawab Vano mengatakan tujuannya ke sini tadi.


"Oooh kamu ke sini karena mau makan masakan mama, ya udah nanti mama masakin."


"Makasih mama sayang." seru Vano memeluk mama Fara dengan sayang.


"Tumben banget sih kamu kayak gini, lagi ngidam ya?" tebak mama Fara.


"Tau tuh ma, Vanya juga heran sama sikap Vano akhir akhir ini. Kata mama Vani sih katanya Vano ngidam." sahut Vanya.


"Apaan sih kalian orang aku cuma pengen aja kok." sanggah Vano.


"Papa mana ma?" tanya Vano pasalnya sedari sampai di kediaman orang tuanya dia belum melihat penampakan papanya.


"Papa pergi ke kantor, kan kamu sekarang udah gak bisa seratus persen bantu papa jadi ya papa sekarang sering ke kantor." jawab mama Fara.


"Ooh."


"Maaf gara gara Vanya Vano jadi gak bisa bantu papa." ujar Vanya merasa bersalah.


"Kamu ngomong apa sih, ini bukan salah kamu tapi ini sudah jadi kewajiban Vano buat jagain kamu. Jadi kamu gak perlu merasa bersalah, lagian juga Vano masih bisa bantuin papa kok dari rumah meskipun gak sesering dulu." ujar mama Fara menenangkan Vanya agar tidak merasa bersalah.


"Tuh dengerin apa kata mama, aku gak bantu papa itu karena kemauan aku sendiri bukan karena kamu kok." timpal Vano agar istrinya tidak berfikir yang tidak tidak.


"Udah yuk aku antar kamu ke kamar." ajak Vano.


"Vanya ke atas dulu ma." pamit Vanya.


Mereka berdua pun pergi menuju kamar Vano. Sedangkan Vino yang sedari tadi sebagai penonton hanya menatap heran pada mereka semua.


"Emang ya, orang dewasa itu ribet." ujar Vino tiba tiba yang hampir membuat mama Fara jantung.


"Astaghfirullah mama kaget tau, mama kira di sini sudah gak ada orang lagi selain mama."

__ADS_1


"Gak usah lebay deh ma."


Setelah mengatakan itu Vino buru buru pergi dari sana sebelum sendal sang mama melayang.


"Ya Allah kenapa anak anak hamba semuanya gak ada yang bener." keluh mama Fara dan berlalu menuju dapur untuk membuatkan pesanan Vano.


-


"Sayang kamu sudah sadar?" kaget Farrel saat baru memasuki ruang rawat Fira.


Tadi Farrel pergi ke luar meninggalkan Fira sendiri di ruangannya untuk mengurus biaya administrasi Fira. Dan setelah kembali dia di kagetkan dengan keberadaan Fira yang tengah duduk dengan posisi ranjang bagian kepala agak ke atas.


"Mana yang sakit, aku minta maaf gara gara aku kamu jadi gini." ucap Farrel merasa bersalah.


Fira hanya diam saja tak merespon ucapan Farrel. Farrel tahu pasti Fira masih marah kepadanya, dan dia akan berusaha mendapatkan maaf dari istrinya.


"Kamu mau makan apa biar aku cariin?" tanya Farrel lembut.


Tetap diam tak ada jawaban dari Fira yang membuat Farrel harus ekstra sabar dalam menghadapi kemarahan istrinya ini agar dia tidak kepancing emosi juga.


"Yank." pangil Farrel.


"Kamu tahu gak, kalau di sini." menunjuk perut Fira.


"Sekarang sudah ada isinya." lanjut Farrel yang membuat Fira bingung.


Meskipun Fira tak merespon ucapan Farrel, tapi telinga Fira tidak budek, dia tetap mendengarkan ucapan Farrel. Dan pada kalimat terakhir Farrel, Fira di buat bingung dalam mengartikan maksud dari ucapan Farrel.


Isi? Bukannya memang perut Fira sedari dulu memang sudah ada isinya ya? bingung Fira dalam hati.


"Kamu gak senang?" tanya Farrel karena Fira tak menunjukkan reaksi apa apa.


"Buat?" akhirnya mulut Fira terbuka mau berbicara pada Farrel.


"Ya buat ini." tunjuk Farrel pada perut Fira.


"Maksud kamu apa sih, gak jelas banget." sinis Fira memandang ke arah jendela kamar tak menatap wajah Farrel.


"Kamu gak ngerti?" greget Farrel.


"Ngerti apa sih, orang dari tadi kamu ngomongnya gak jelas." balas Fira.


"Kamu hamil sayang, sebentar lagi kita akan jadi mama papa."


...***...

__ADS_1


__ADS_2