
"Nih minumnya." ucap Vanya saat meletakkan segelas air putih di meja.
Vano memakan obatnya setelah itu dia bersandar sambil memejamkan matanya tak lupa pula tangan nya yang memijit pelipisnya.
"Masih sakit Van?" tanya Vanya khawatir.
"Hmm."
"Mau aku pijitin?"
Vano membuka matanya dan menatap ke arah Vanya, setelah itu dia mengangguk kan kepalanya.
Melihat persetujuan itu pun Vanya dengan antusias membantu memijat pelipis Vano.
"Gimana udah enakan?" tanya Vanya di sela sela aktivitas memijatnya.
"Hmm rumayan." jawab Vano sambil menikmati pijatan Vanya.
"Kamu tadi ngapain sih, kenapa sampai bisa sakit lagi kepalanya?"
"..." diam Vano tidak menjawab pertanyaan Vanya.
Vanya yang tidak mendengar jawaban dari Vano itu pun diam tidak bertanya lagi.
Hening menyelimuti ruang televisi di mana posisi Vano duduk di kursi sedangkan Vanya berdiri di belakang sambil memijat pelipis Vano.
"Udah." ucap Vano.
Vanya yang mendengar itupun menghentikan pijatan nya.
"Makasih." ucap Vano datar dan segera beranjak pergi ke kamarnya.
Vanya diam sesaat setelah mendengar ucapan Vano, setelah itu Vanya beranjak mematikan televisi dan lampu lampu yang ada di apartemen. Setelah selesai Vanya beranjak menuju kamarnya untuk melanjutkan acara tidurnya yang terusik oleh Vano tadi.
-
Keesokkan harinya di sekolah semua murid sedang berbondong-bondong pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sudah demo minta isi bensin.
"Ehh Van kok hari ini gw blm liat Vano ya?" tanya Sonya sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang.
"Mana gw tau di kira gw emaknya kali." Bohong Vanya, padahal mah aslinya tau kalau Vano gak masuk hari ini.
"Yee gak gitu juga kali jawabnya."
"Ehh gw denger denger tadi dari anak anak yang lagi ngegosip katanya sih salah satu anak geng black Crow ada yang meninggal." ucap Sisil.
"Hah, serius lo Sil!" tanya Sonya.
"Iya bener kalau kalian gak percaya tanya aja sama anak anak yang lain."
'Pantesan aja kemaren Vano pulang malam, ternyata temennya ada yang meninggal toh.' ucap Vanya dalam hati.
"Van, VANYA WOY. Lo kok bengong sih, jangan bilang kalau lo lagi mikirin si Vano." ucap Sonya.
"Tau tuh, lo denger gak apa yang gw bilang barusan?" tanya Sisil.
"Apaan sih kalian siapa juga yang mikirin Vano kurang kerjaan banget. Iya gw denger kok apa yang lo bilang." jawab Vanya.
"Emang kenapa kok bisa meninggal?" tanya Vanya kemudian.
__ADS_1
"Katanya sih di keroyok sama anak geng motor lainnya." jawab Sisil.
Vanya dan Sonya hanya mengangguk kan kepalanya pertanda mengerti.
"Permisi non ini makannya." ucap anak mang Agus.
"Oh iya makasih ya." ucap Vanya.
"Iya sama sama non."
Mereka pun makan makanan nya dengan tenang tanpa ada yang menggangu.
-
Di tempat Vano, dia baru saja bangun dari alam mimpinya.
"Hoamm."
"Jam berapa sih ini?" tanyanya sambil melihat jam yang ada di atas meja samping ranjang.
"Jam 11, enak bener bolos sekolah. Kalau ada di rumah mama mana bisa aku bangun jam segini yang ada udah di siram air seember."
Vano pun bangun dan segera mandi setelah itu dia akan pergi ke basecamp untuk membicarakan masalah yang ada.
Vano menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan yang di sana sudah tersaji makanan yang telah di masak oleh Vanya.
"Kalau setiap hari gw makan masakan Vanya bisa hilang nih roti sobek gw, enak banget masakan nya." ucap Vanya saat menyantap masakan Vanya.
Vano menghabiskan nasi goreng buatan Vanya dengan lahap tanpa ada sisa sebutir pun nasi di atas piring bekas makan nya.
Setelah itu Vano pergi mengunakan motor kesayangannya dengan tenang tanpa terburu buru.
Saat dalam perjalanan Vano melihat ada seorang kakek kakek yang jualan martabak dan Vano pun memutuskan untuk membelinya.
"Waalaikum salam nak, mau beli yang rasa apa?" jawab kakak itu.
"Martabak sepesial nya sepuluh kek."
"Alhamdulillah ya Allah, beneran nak kamu mau beli sebanyak itu." tanya kakek itu tidak percaya.
"Iya kek, mau di bawa ke tongkrongan soalnya."
"Kakek buatkan dulu, silahkan duduk sambil menunggu martabak nya jadi."
"Iya kek."
Vano duduk di salah satu bangku yang telah di sediakan untuk para pembeli sambil memainkan ponselnya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesanan Vano sudah jadi.
"Berapa kek?" ucap Vano sambil menerima bungkusan kresek besar yang berisi martabak.
"250 ribu nak." jawab si kakek.
Vano merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet setelah itu Vano mengambil lima lembar uang 100 ribuan dan menyerahkannya ke kakek penjual martabak.
"Ini kebanyakan nak." ucap kakek saat menerima uang dari Vano.
" Udah ambil saja kek, mungkin itu rezeki buat kakek dari Allah."
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih nak semoga kamu selalu dalam lindungannya dan lancar selalu rezekinya." ucap syukur kakek itu.
"Aamiin." jawab Vano.
"Ya udah kek saya mau pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Vano pun melanjutkan motornya bukan ke arah basecamp melainkan ke arah jembatan yang biasanya banyak anak-anak jalanan di sana.
"Hai adik adik sini deh kak Vano bawa sesuatu nih." ucap Vano saat sampai di kolong jembatan.
"Yeee kak Vano datang." ucap anak anak jalanan sambil berdiri menghampiri Vano.
"Kalian kangen gak sama kakak?"
"Kangen banget kak." jawab serentak anak anak jalanan.
"Maaf ya kakak baru kesini, selama kakak gak kesini ada yang gangguin kalian gak?" tanya Vano dengan menyamakan tingginya dengan anak anak jalanan itu.
"Tidak kak, setelah dulu kakak habisin preman preman yang sering malak kita sekarang mereka sudah tidak berani lagi gangguin kita." terang salah satu dari mereka yang tubuhnya paling tinggi diantara yang lainnya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ini kakak ada sedikit makanan kalian bagi yang rata agar semua kebagian." ucap Vano sambil menyerahkan 5 box martabak yang di belinya tadi.
"Baik kak Vano." jawab serentak semua anak jalanan itu.
" Ya udah kak Vano pergi dulu ya, nanti kapan-kapan kak Vano kesini lagi."
"Daa.." pamit Vano.
"Hati hati kak Vano."
-
Vano sampai di basecamp terlihat di parkiran sudah banyak motor motor yang terparkir. Vano segera masuk sambil menenteng bungkus martabak tadi.
"Wee bos kita udah datang nih, bawa apaan tuh?" sambut Rangga saat melihat kedatangan Vano.
"Datar amat pak mukanya kayak triplek." timpal Galang.
Vano tidak merespon ucapan kedua sahabatnya yang membuat Rangga berdecak kesal.
"Gini amat punya ketua di ajak ngomong tapi gak di jawab, sakit mak sakit hati abang." ucap Rangga mendramatisir.
"Ehh btw makasih kuotanya Van." tambah Rangga lagi.
"Hmm." jawab Vano.
"Nih martabak tadi gw beli di jalan." ucap Vano sambil menyodorkan martabak yang di taruh di meja depan tadi kepada anak black Crow.
"Wee gini dong, kalau ke tongkrongan tuh bawa makanan. Tau aja kalau nih perut belum makan." ucap Ical.
"Yee lo mah kalau soal makanan cepat banget." balas Rangga.
"Kayak lo enggak aja." jawab Ical.
"Oh ya Van gimana rencana lo setelah ini." tanya Galang.
Vano diam beberapa saat untuk berfikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
"Kalau menurut gw sih..."
...***...