My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
Part 59


__ADS_3

Vanya belajar dengan serius, dia mencoba menghafalkan rumus-rumus.


"Sin,cos,tan. Demi,sami,desa. Yang lainnya kebalikannya." hafalan Vanya sambil memejamkan matanya.


Ceklek


Mendengar pintu terbuka Vanya menatap ke arah pintu yang menampilkan tubuh tegap papa Wijaya.


"Papa." Vanya berjalan menghampiri papanya dan mencium punggung tangan papa Wijaya.


"Vanya kangen banget sama papa." ucap Vanya.


"Papa juga kangen banget sama anak papa yang cantik ini." sambil mencubit hidung Vanya.


"Iiih papa sakit tau..." sambil mengelus hidungnya yang memerah.


"Gimana, kata mama kamu ikut olimpiade nanti lusa."


"Iya pa, Vanya ikut olimpiade. Nanti kalau Vanya menang Vanya bisakan bertemu Dia." tanya Vanya antusias.


Papa Wijaya mengelus rambut anaknya dengan sayang.


"Iya nanti kalau Vanya yang menang Vanya boleh menemui Dia."


"Beneran pa?"


"Iya sayang.."


Vanya langsung memeluk papanya dengan erat dan tanpa dia sadari air matanya menetes, bukan karena sedih tapi Vanya sangat bahagia.


"Makasih pa." ucap Vanya dalam pelukan papanya.


Papa Wijaya merasakan ada yang basah di dadanya pun mengurai pelukannya dengan Vanya dan memegang pipi anaknya yang berderai air mata.


"Kenapa nangis hmm?" sambil menghapus air mata Vanya.


"Vanya bahagia pa, karena Vanya mau ketemu dengan kakak." jawab Vanya sambil menatap wajah papa Wijaya dengan tersenyum manis.


Papa Wijaya pun hanya tersenyum sambil menatap Vanya.


'Sepertinya kamu sangat merindukan kakak mu nak. Maafkan papa yang selama ini memisahkan kalian.' Suara hati papa Wijaya.

__ADS_1


"Ya udah sekarang kamu belajar lagi sana, jangan lupa sholat. Papa mau ganti baju dulu." Papa Wijaya memang langsung ke kamar Vanya setelah pulang dari kantor saat istrinya bilang bahwa anaknya berada di rumah dan lusa bakal mengikuti olimpiade.


Vanya menganggukkan kepalanya setelah itu papa Wijaya segera pergi meninggalkan kamar anaknya.


Vanya menghapus sisa air matanya dan segera kembali melanjutkan belajarnya.


-


Sementara di posisi Vano, dia tidak langsung pulang ke rumah keluarga Wijaya melainkan pergi ke kantor. Karena tadi saat di tengah perjalanan Vano mendapatkan telepon dari papanya katanya ada seseorang yang berani merentas sistem keamanan kantor dan hampir saja mereka bisa mencuri dokumen penting kantor.


Sampai di kantor Vano segera berjalan ke arah ruangannya untuk menganti seragam sekolahnya dengan pakaian formal.


"Bagaimana pa?" tanya Vano setelah ganti baju tadi Vano segera menuju ruangan papanya untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Kamu sudah sampai." Sambut papa William.


"Bagaimana ini bisa terjadi, bukannya keamanan perusahaan sudah papa buat dengan sistem sistem terbaru. Kenapa mereka bisa mau membobol keamanan perusahaan." bukannya menjawab sapaan papanya, Vano malah mencecar papa William dengan berbagai pertanyaan.


"Entahlah papa juga heran kenapa mereka bisa melakukannya. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan." Jawab papa William.


"Oh iya, Rudi apakah kamu sudah menyiapkan apa yang saya minta." tambah papa William bertanya pada asisten sekaligus orang kepercayaannya di perusahaan yang bernama Rudi.


"Italia, maksud papa apa?" tanya Vano bingung.


"Papa berencana mengirim kamu ke Italia supaya kamu bisa belajar menguasai dunia gelap karena sepertinya mereka sudah mulai keluar dari persembunyiannya." Jelas papa William.


"Mereka?" beo Vano.


"Musuh papa, lebih tepatnya mantan pacar mama kamu dulu. Dia ingin menghancurkan apa yang papa punya tanpa terkecuali nyawa kamu dan adik kamu, bahkan bisa saja nyawa istri kamu yang jadi sasarannya."


Vano terdiam setelah mendengar apa yang papanya jelaskan. Apakah dia bisa melindungi keluarganya kalau dia tidak mengikuti saran papanya untuk belajar di Italia.


Vano memang bisa ilmu bela diri tapi jika di bandingkan dengan dunia gelap yang bersentuhan dengan senjata senjata tajam itu apakah dia bisa melawan.


"Kamu mau kan pergi ke Italia, gak lama kok hanya beberapa hari saja paling lama lima hari agar mereka tidak curiga kalau kamu sedang belajar menguasai dunia gelap. Nanti kita susun strategi seolah olah kamu ke Italia untuk urusan bisnis."


Vano berfikir sebentar sebelum mengambil keputusan apa yang akan dia ambil.


Vano teringat dengan kejadian malam itu di mana ada seseorang yang tengah menjebaknya di club, bisa jadi itu adalah salah satu rencana jahat musuh papanya.


"Baiklah Vano mau. Tapi jangan sampai ada yang mengetahui jika Vano akan terjun ke dunia gelap." putus Vano.

__ADS_1


"Papa juga berencana seperti itu, agar tidak ada yang celah untuk seseorang membocorkan rencana kita." Setuju papa William.


"Tapi nanti Vano tidak mau terjun seratus persen ke dunia gelap, Vano hanya mau di perusahaan saja." Ya memang papa William adalah salah satu mafia terbesar di Italia.


"Tapi mau sekeras apapun kamu menolak kamu juga bakal jadi pewarisnya, karena kamu anak pertama."


Asisten Rudi yang melihat bakal adanya perdebatan antara anak dan papa itu pun pamit, karena dia sudah kenyang dengan perdebatan antara mereka. Apalagi jika berdebat ngomongin siapa yang paling tampan rasanya asisten Rudi ingin tengelam dalam lautan saja.


"Maaf tuan saya izin kembali ke ruangan saya dulu karena ada yang perlu saya kerjakan."


"Hmm." Jawab papa William.


"Kan bisa Vino yang mewarisi mafia papa bukan Vano." Ucap Vano setelah melihat kepergian asisten papanya.


"Kalau Vino yang pegang Dark Read papa gak yakin bakalan bisa bertahan lama kelompok mafia yang sudah papa dirikan dengan susah payah." jawab papa William.


"Hhhhh papa benar yang ada nanti tuh muka anggota Dark Read di suruh operasi plastik semua biar tampan." tawa Vano mengingat kelakuan adiknya.


"Itu kamu tahu."


"Tapi papa jangan salah, kemampuan otak Vino itu sebelas dua belas sama Vano."


"Tapi kan setidaknya sifat kamu gak manja banget kayak Vino."


"Iya juga sih."


"Berarti aku jadi berangkat besok pa?" tanya Vano kembali ke mode serius.


"Iya lebih cepat lebih baik."


"Ya udah Vano kembali ke ruangan Vano dulu, mau menyelesaikan berkas berkas yang ada di meja."


"Iya sana pergi. Kerja yang bener biar kalau istri minta shopping tinggal gesek aja." canda papa William yang sudah tidak di hiraukan oleh Vano yang berjalan meninggalkan ruangan papanya menuju ruangannya.


"Hufft padahal niatan mau kabur keluar negeri buat liburan." keluh Vano saat sampai di ruangannya.


Pasalnya dia membuat alasan ke pak Anang bahwa dia mau ke luar negeri karena ada urusan bisnis itu padahal mau liburan menghilangkan penat yang ada di pikirannya, ehh ini malah beneran di suruh ke luar negeri dengan urusan yang lebih ribet dari pada bisnis. Fix sih pasti ia kena karma lantaran berbohong kepada pak Anang. pikir Vano.


Vano pun melanjutkan pekerjaannya agar segera selesai dan bisa cepat cepat pergi ke rumah mertuanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2