
Vano tidak langsung pulang ke apartemen, dia belum siap untuk menatap wajah Vanya. Vano memutuskan untuk pergi ke perusahaan karena dia sudah lama juga tidak ke sana.
Sampai di perusahaan dia segera pergi ke ruangannya dan Menganti pakaian santai dengan pakaian formal.
Setelah berganti pakaian Vano segera memfokuskan dirinya pada berkas berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Hufft, semangat Vano."
Vano fokus mengerjakan pekerjaannya hingga larut bahkan dia belum makan sebiji nasi pun.
Ceklek
Pintu ruangan Vano terbuka menampilkan tubuh tegap papanya yang sudah mulai ada keriput di wajahnya.
"Tumben kamu ke sini?" tanya papa William lantaran semenjak menikah Vano jarang sekali datang ke perusahaan.
"Pa, assalamualaikum." sapa Vano yang tak seperti biasanya.
"Waalaikum salam."
"Ada apa nih kok kamu tiba-tiba berubah jadi lebih sopan gini." tanya papa William heran dengan tingkah anaknya.
"Iisss papa nih, anaknya berubah bukan nya di puji."
"Iya iya iya, oh iya gimana kabar Vanya?"
Vano diam, dia bingung harus menjawab apa.
"Van, kamu denger papakan." pangil papa William karena Vano diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Hah, apa pa?"
"Kamu kenapa sih, papa tanya gimana kabar Vanya?"
"Oh Vanya, eemm dia baik baik saja kok pa."
"Beneran kamu gak bohong kan?"
"Iya pa."
"Awas aja kalau sampai kamu bikin Vanya sedih."
"Ya gak bakal lah pa." jawab Vano bohong.
"Ya udah papa mau pulang, kapan kapan mampir ke rumah ajak Vanya makan malam di rumah." pamit papa William karena hari sudah sore.
"Iya pa."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, hati hati pa." jawab Vano.
__ADS_1
Papa William pun pergi meninggalkan perusahaannya.
"Hufft." Vano menghela nafasnya setelah kepergian papanya.
"Untung papa gak curiga."
Vano melanjutkan pekerjaannya hingga tanpa dia sadari hari sudah larut malam.
"Eemmhh capek juga kerja. Jam berapa nih?" Vano menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Udah malam ternyata."
Vano pun membereskan berkas berkas yang berserakan di meja kerjanya, setelah itu dia ganti baju dan pergi dari perusahaan.
-
Setelah menonton konser tadi Vanya mandi dan melaksanakan kewajiban seorang muslim yaitu sholat. Setelah sholat Vanya masak untuk makan malamnya.
Vanya memasak dengan porsi sedikit hanya untuk dirinya saja. Vanya sengaja tidak memasakkan makanan untuk Vano.
Setelah makan Vanya tidak langsung mencuci bekas dia memasak, karena dia yakin nanti malam Vano pasti akan ke dapur.
Di rasa semua rencana beres Vanya kembali ke kamar untuk belajar seperti biasa.
-
Vano di jalan bingung antara pulang ke apartemen atau menginap di apartemen Galang, tapi nanti kalau menginap di apartemen Galang pasti Galang bakal banyak tanya yang akan membuat Vano pusing.
Akhirnya Vano memutuskan untuk pulang ke apartemen. Saat sampai di apartemen Vano melihat keadaan lampu apartemen sudah padam, mungkin Vanya sudah tidur. pikir Vano.
"Vanya fokus banget belajarnya padahal dia udah pintar." gumam Vano sambil fokus menatap ke arah Vanya yang berada di meja belajar.
"Dua hari lagi olimpiade akan di laksanakan apa gw ngalah aja ya sama Vanya untuk menebus kesalahan gw."
"Kayaknya iya deh gw harus ngalah sama Vanya, biarin dia ikut olimpiade." Vano pun segera menutup pintu kamar Vanya dengan hati hati agar tidak ketahuan oleh Vanya.
Tapi Vano salah Vanya sudah mengetahui keberadaan Vano sedari tadi tapi Vano pura pura tidak tahu.
Vano berjalan masuk ke kamar nya dan segera membersihkan tubuhnya karena merasa lengket semua.
Sedangkan Vanya dia sedang tersenyum simpul setelah kepergian Vano.
"Kita lihat saja Van apa yang bakal aku lakuin setelah ini." ucap Vanya membayangkan sikap apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Vanya pun melanjutkan kegiatan belajarnya dia mencoba rumus rumus baru yang dia dapatkan dari pencariannya.
-
Vano tiduran di kamarnya sambil memainkan saham saham yang dia tanam di perusahaan perusahaan ternama.
"Kok gw laper ya." keluh Vano saat merasakan perutnya perih.
__ADS_1
"Oh ya gw belum makan ya seharian ini."
"Pasti Vanya sudah masak tadi." ucap Vano dengan yakin.
Vano pun berjalan keluar dan menuju dapur untuk mengisi perutnya.
Tapi saat sampai di meja makan Vano tidak melihat adanya makanan di atas meja.
"Kok gak ada."
"Oh pasti ada di dapur."
Dengan yakin Vano melangkah ke arah dapur dan yang dia dapat adalah bekas tempat memasak yang hanya menyisakan sehelai daun kangkung yang warnanya sangat menggoda.
"Masak iya Vanya tidak masakin buat gw sih. Mana perut gw udah laper banget, mau cari makan di luar udah malam banget lagi."
Dengan rasa ingin yang tinggi Vano mencicipi sehelai daun kangkung itu.
"Emmmhh enak banget lagi." Vano pun menjilati jarinya yang terdapat bumbu masakan Vano dengan rakus.
"Gw harus makan apa nih." Vano melihat keadaan dapur pandangannya jatuh pada laci yang ada di atas kompor, Vano membukanya dan yang dia dapat adalah mie ramen yang masih mentah.
"Apa iya gw harus makan mie." bimbang Vano sambil membolak-balik bungkus mie ramen pedas itu.
"Ya udah gw masak ini aja." Vano pun menyiapkan peralatan yang akan dia gunakan untuk memasak mie.
Sedangkan Vanya menatap Vano dari kejauhan sambil menahan tawa saat melihat Vano yang kesusahan.
Tadi saat Vanya akan bersiap untuk tidur dia mendengar derap langkah seseorang yang dia yakini adalah Vano lewat di depan kamarnya, karena jiwa kepo Vanya yang tingkat tinggi akhirnya Vanya memutuskan untuk keluar untuk melihat apa yang akan Vano lakukan.
Dan betapa senangnya Vanya saat melihat apa yang Vano lakukan waktu melihat sisa masakannya yang tinggal sedikit itu, sebenarnya ada rasa kasian tapi Vanya menahan ego nya itu untuk memberikan pelajaran kepada Vano.
"Auw, panas panas." ucap Vano sambil meniup jarinya yang kecipratan air panas.
Vanya akan beranjak menghampiri Vano saat melihat Vano yang kesakitan tapi dia segera menahannya agar tetap berada di tempat.
"Shitt panas banget." keluh Vano.
Vano mengelap tangan yang kepanasan dengan kaos lengan pendek warna putih yang sedang ia kenakan untuk mengurangi rasa panas cipratan air.
"Gini aja udah panas apalagi di neraka nanti ya." ucap Vano sambil melanjutkan kegiatan masaknya.
"Udah tau api neraka panas masih aja nyakitin istrinya." geruntu Vanya saat mendengar ucapan Vano.
Vanya pun beranjak pergi ke kamarnya untuk menidurkan tubuhnya.
Sedangkan Vano menyantap mie ramen masakan yang membuat dapur berantakan.
"Akhirnya makan juga."
"Srupp." Vano menyeruput mie ramen dengan sangat menikmatinya.
__ADS_1
"Eemm dah lama gak makan ramen rasa enak banget."
Vano terus menikmati mie yang dia buat dengan penuh perjuangan setelah merasa kenyang Vano pergi ke kamar tanpa mencuci peralatan dan merapikan keadaan dapur yang dia buat berantakan.