My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 187


__ADS_3

"Ehh gak gitu yank." Vano pun segera mengikuti Vanya yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Apa." Garang Vanya setelah Vano duduk di jok kemudi.


"Eng-gak." Gugup Vano.


"Kok aneh ya, kan seharusnya gw yang marah. Kenapa sekarang dia yang marah sih." Batin Vano.


Vano pun segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah orang tuanya menuju mansion miliknya dan Vanya.


Dalam perjalanan Vanya hanya diam saja tak berbicara sepatah kata pun, dan Vano juga tak mau banyak tanya, nanti yang ada dia malah mendapatkan semburan kata kata yang nyelekit di hati.


Sampai di mansion, Vanya langsung turun dan masuk meninggalkan Vano di luar.


"Hufft...sabar Vano sabar, orang sabar di sayang tuhan." Gumam Vano.


Vano keluar dari mobil mengikuti istrinya yang sudah masuk ke dalam mansion.


-


Sampai malam hari Vanya masih tetap mendiamkan Vano. Hingga membuat Vano kelimpungan sendiri.


"Sayang..." Pangil Vano menghampiri Vanya yang tengah duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.


Vanya diam saja tak menjawab panggilan Vano.


"Yank." Pangil Vano lagi dan masih sama saja seperti tadi tidak ada jawaban.


"Ayang..." Tak kehabisan akal, Vano malah semakin menjadi. Dia berbaring di samping Vanya dan memeluk pinggang Vanya yang tengah duduk.


"Apaan sih, lepasin gak!" Garang Vanya.


"Gak mau."


"Aku bilang lepas Vano."


"Gak mau." Tolak Vano kekeh.


"Kamu lepasin atau kamu tidur di luar." Ancam Vanya.


Mendengar itu seketika Vano melepaskan pelukannya pada pinggang Vanya.


Vano berbalik membelakangi Vanya dan menutup dirinya dengan selimut sampai ujung kepalanya.


"Hufft... ganggu orang baca novel aja." Gumam Vanya dan melanjutkan membaca novel di handphonenya lagi.


Hening, satu kata yang dapat menggambarkan keadaan di dalam kamar yang super mewah itu. Hanya dentik jarum jam yang mengisi suasana malam ini, hingga Vanya mendengar suara orang yang sedang menangis.


"Hiks hiks hiks..." Samar samar Vanya mendengar tangisan seseorang, dia pun menghentikan baca novelnya dan mencari arah sumber suara tersebut.


"Siapa sih malam malam gini nangis." Gumam Vanya hendak beranjak dari ranjang untuk mengecek keluar kamar siapa yang menangis.


Sekilas Vanya memandang punggung Vano yang bergetar seperti orang menangis, dan Vanya pun mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sana.


"Van..." Pangil Vanya.


"Hiks hiks hiks..." Tak ada jawaban yang ada hanya suara isakan Vano.


"Kamu nangis?"


Pakai tanya lagi, udah tahu suaminya lagi nangis. Nih lama lama Vano gw karungin.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks..." Tak ada respon dari Vano, dan Vano pun tetap menangis sesenggukan di bawah selimut yang menutupi tubuhnya.


"Van."


Vanya menarik punggung Vano hingga Vano sekarang tidur terlentang, dan Vanya pun segera menarik selimut yang menutupi tubuh Vano hingga terpampang lah wajah sembab Vano yang penuh dengan air mata.


"Kamu kenapa kok nangis gini, ada yang sakit?" Khawatir Vanya karena Vano tiba-tiba menangis tanpa sebab.


Kan lo Maimunah yang bikin Vano nangis. Nih lama lama Vanya aku karungin juga.


Vano mengelengkan kepalanya pertanda kalau tubuhnya tidak ada yang sakit.


"Terus kamu kenapa nangis gini hmm?" Tanya Vanya sambil menghapus air mata Vano.


"Ayang hiks marahin hiks Vano, ayang hiks suruh Vano hiks tidur di luar hiks." Jawab Vano sambil sesenggukan.


"Lah, cuma gitu doang udah nangis. Biasanya juga malah makin menjadi." Gumam Vanya yang masih di dengar oleh Vano.


"Tuh kan ayang nya hiks marah hiks marah." Ucap Vano.


"Udah ya nangisnya, aku minta maaf deh karena tadi marahin kamu. Udah ya jangan nangis, masak udah gede masih suka nangis, malu dong sama Vino." Bujuk Vanya agar Vano tidak menangis lagi.


"Hiks Vano hiks mau maafin hiks, tapi ada syaratnya hiks."


"Apa syaratnya hmm?"


"Vano mau hiks n*n."


Tuh kan, barusan apa yang Vanya bilang kejadian juga. Vano makin menjadi.


"Lah, mana bisa gitu."


"Ya udah kalau hiks gak mau hiks Vano mau hiks nangis aja." Akan membalikkan badannya lagi tapi segera di tahan oleh Vanya.


"Makasih ayang." Senang Vano yang entah mengapa nangisnya langsung hilang.


"Hmm." Balas Vanya.


Vano segera membuka kancing baju tidur Vanya dan segera mengeluarkan benda kesayangannya dari sangkar yang sangat sempit menurut Vano.


"Yank, ini kok makin besar?" Tanya Vano sambil memegang benda itu.


"Ya itu semua ulah kamu, kan kamu yang suka mainin." Jawab Vanya.


"Ooh gitu, ya udah aku mainin terus aja biar makin gede."


DASAR VANO GILA.


"Kamu ngomong apa barusan." Garang Vanya.


"Hehehe gak kok, itu tadi aku bilang mau mainin sepeda motor." Kilah Vano.


"Ini jadi gak, kalau gak aku masukin aja." Ancam Vanya yang melihat Vano hanya mengamati kedua benda miliknya.


"Ya jadilah." Dengan semangat empat lima, Vano segera melahap benda itu rakus bak bayi.


Dan Vanya pun membiarkan hal itu, dia melanjutkan membaca novel yang lagi seru serunya tapi terganggu oleh tingkah Vano tadi.


Sekarang posisinya Vano memeluk Vanya yang sama tidurannya dengan dirinya. Mereka berdua berhadapan dengan kepala Vano yang ada di dada Vanya. Dan Vanya pun memeluk leher Vano.


-

__ADS_1


Pagi hari mereka berangkat sekolah seperti biasa, sekarang Vano mengunakan mobil barunya lagi. Karena yang kemarin katanya sudah tidak layak pakai.


Tapi di tengah perjalanan menuju sekolah tiba tiba Vanya meminta agar Vano menepikan mobilnya sebentar, katanya dia mau beli sesuatu.


Vano banyak banyak berdoa dalam hati, semoga saja istrinya ini tidak berbuat hal seperti kemarin lagi. Bisa berabe kalau sampai iya, mana ini mobil masih baru lagi.


"Dah yuk lanjut." Ajak Vanya setelah masuk ke dalam mobil.


"Kamu bawa apa tuh yank?" Tanya Vano yang melihat Vanya membawa satu kantong kresek penuh.


"Rujak buah." Jawab Vanya.


"Hah, gak salah tuh. Kemaren kan udah." Kaget Vano.


"Kemaren kapan? Perasaan aku baru beli sekarang." Heran Vanya.


"Itu kamu yang kemarin buat sama mama."


"Itu kan rujak mangga muda."


"Kan mangga muda itu juga buah sayang..." Greget Vano.


"Tapi kan beda rasanya beli sama buat sendiri." Alasan yang Vanya berikan kali ini.


"Enakan mana, beli atau buat sendiri?"


"Ya beli lah." Jawab Vanya mantap.


"Katanya kemaren yang beli itu enggak enak?"


"Kata siapa?" Tanya Vanya.


"Kamu lah." Jawab Vano.


"Aku? Perasaan aku gak pernah bilang begitu." Sanggah Vanya.


"Gak pernah bilang seperti itu ya, oh iya aku lupa, kan kemarin yang ngomong kayak gitu itu istri aku."


"Nah itu, makanya kalau ngomong itu jangan asal nuduh orang."


"Iya nyonya maaf."


"Iya di maafin."


"Ehh tunggu." Lanjut Vanya setelah menyadari sesuatu.


"Kamu tadi ngomong apa? Istri?"


Vano menggangukkan kepalanya.


"Istri kamu aku kan?"


"Menurut kamu, emang ada lagi selain kamu?" Jawab Vano balik bertanya.


"Berarti...."


"VANO..."


...***...


Makasih buat reader sumua yang udah kasih vote, hadiah dan like komennya. Makasih juga buat yang masih setia baca sampai sini. Semoga kalian bisa tetap setia lanjut sampai cerita ini tamat.😊

__ADS_1


Lop lop buat kalian semua 🥰🥰❤️❤️❤️


__ADS_2