
"Hah." kaget Vanya dan Vano.
"Kalian gak lagi becanda kan?" tanya Vanya curiga.
"Ngapain becanda, orang kita serius kok. Ya gak yank?" jawab Farrel meminta dukungan dari Fira.
Seketika Vanya menatap Fira dengan penuh selidik dan di balas cengiran oleh Fira.
"Kamu seriusan mau nikah sama kak Farrel?" tanya Vanya.
"Hehehe iya." jawab Fira
"Kamu di ancam apa sama kak Farrel, bilang sama aku biar aku kasih pelajaran dia."
"Enggak kok enggak, aku gak ada di acam sama Farrel."
"Noh dengerin." sahut Farrel.
"Kok bisa kalian tiba tiba mau nikah, bukannya kalian baru kenal ya?" tanya Vano.
"Sebenarnya kita berdua udah lama saling kenalnya, tapi gw baru sadar setelah gw donorin darah ke Fira waktu itu." jawab Farrel.
"Kalian udah kenal lama, kok aku gak tahu?" tanya Vanya.
"Sebenarnya kamu tahu kok, waktu kecil dulu kakak sering cerita sama kamu tentang gadis kecil yang selalu kakak temui sepulang sekolah. Nah itu Fira, cuma karena ada sebuah masalah makanya kita gak pernah ketemu lagi." jelas Farrel.
"Oooh gitu."
"Trus nanti kalian mau resepsi di mana?" lanjut Vanya bertanya.
"Untuk resepsinya kita belum kepikiran, yang penting akad dulu aja sama nanti makan bersama keluarga udah gitu aja. Resepsi bisa belakangan." jawab Fira.
"Kok gitu, nikah itu sekali seumur hidup loh. Jadi kalian harus adain resepsi semewah mungkin. Biar gak nyesel nanti." nasehat Vanya.
"Bukannya kalian berdua dulu juga gak mewah mewah banget ya?"
"Itu kan beda, waktu itu ada masalah di antara kita berdua. Kalau kalian kan sudah saling suka."
"Gampang lah itu nanti, yang penting kan nikah dulu...ya gak Van?" menaik turunkan alisnya menatap Vano.
"Yoi, apalagi kalau pas malam pertama." balas Vano.
"Dahlah, semua cowok sama aja." ucap Vanya.
"Bener aku juga heran, kenapa pada m*sum sih." timpal Fira.
"Permisi tuan." ucap salah satu anggota WD dengan nafas ngos-ngosan seperti habis berlari.
"Ada apa?" datar Vano.
__ADS_1
"Itu, tawanan yang ada di ruangan paling ujung minum racun yang tuan tinggalkan di sana tadi." ucap orang itu.
"APA." kaget Vanya sedangkan Vano biasa saja. Sedangkan Fira dan Farrel bingung karena mereka tidak tahu apa apa.
"Jangan lari." tekan Vano saat melihat Vanya beranjak akan berlari kembali ke ruangan bawah tanah.
Vanya pun seketika berhenti dan menatap Vano.
"Jalan di sampingku, atau tidak usah ke sana." pilihan yang Vano berikan pada Vanya.
Vanya pun memilih berjalan di samping Vano aja sambil menggenggam tangan Vano.
Mereka pun kembali pergi ke ruangan bawah tanah dengan Fira dan Farrel yang ikut ke sana juga.
Sampai di sana Vanya meneteskan air matanya melihat Marvel yang sudah tidak bernyawa dengan mulut yang penuh dengan busa putih.
"Urus mayatnya, kasih ke buaya di kandang." ucap Vano pada orang orang anggota WD.
"Baik tuan." patuh mereka.
"Van..." pangil Vanya menarik lengan Vano.
"Hmm." jawab Vano karena dia tahu apa yang akan di minta oleh Vanya.
"Jangan kasih ke buaya ya, kasian. Aku mohon sama kamu, mayatnya di kubur aja ya..." mohon Vanya.
"Gak usah anah aneh deh, kalau di kubur nanti bakal meninggalkan jejak." tolak Vano.
"Sesayang itu kah kamu sama dia, sampai sampai kamu rela berjanji kayak gitu sama aku." kecewa Vano.
"Kalian kuburin mayatnya dengan layak di pemakaman." ucap Vano setelah itu dia melepaskan tangan Vanya dan pergi dari sana.
"Van..." pangil Vanya akan mengejar Vano tapi di tahan oleh Farrel.
"Udah biarin aja, dia butuh waktu buat sendiri." tahan Farrel.
"Kita keluar dulu yuk." ajak Fira merangkul pundak Vanya dan mengajaknya pergi dari sana.
"Kalian urus sesuai perintah Vano." ucap Farrel pada para anggota WD sebelum Farrel pergi dari sana.
Orang orang itu pun segera mengurus mayat Marvel dan akan menguburkannya dengan layak di pemakaman umum daerah yang paling dekat dari sana.
-
Vano menyendiri di sebuah ruangan yang khusus untuk dirinya. Di sana terdapat tempat tidur dan juga ada berbagai macam senjata yang tertata rapi di tempatnya.
Vano merenung di sana memikirkan semua masalah yang menimpa dirinya agar dia bisa melupakan masalahnya dengan Vanya tadi.
"Aarrrgg." teriak Vano mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
"Maaf aku gak bermaksud marah sama kamu tadi." monolog Vano merasa menyesal karena sudah meninggalkan Vanya tadi.
-
Sementara di lain tempat, Farrel dan Fira membawa Vanya ke kamar Fira agar Vanya bisa istirahat. Bumil tidak boleh terlalu lelah bukan?
😂
"Kamu istirahat dulu di sini, jangan terlalu di pikirkan ucapan Vano. Ingat di perut kamu sudah ada babynya. Kakak keluar dulu, kamu di sini sama Fira ya." ucap Farrel.
"Aku keluar dulu ya." pamit Farrel pada Fira di balas anggukan oleh Fira.
Cup.
Farrel mengecup kening Fira setelah itu dia keluar dari kamar Fira.
"Hiks hiks hiks..."
"Loh kok nangis." Fira bingung harus bagaimana mana saat melihat Vanya yang menangis.
"Hiks hiks hiks aku jahat sama Vano, aku udah sakiti hati Vano hiks hiks hiks.." ucap Vanya sambil menangis.
"Enggak kok kamu gak jahat, mungkin Vanonya tadi banyak pikiran jadi di marah. Udah ya jangan nangis, kan masih ada baby di sini yang temani mommy nya." hibur Fira sambil mengelus perut Vanya.
"Baby bilangin sama mommy dong agar tidak nangis lagi." Fira mengajak ngobrol perut Vanya.
Vanya tertawa mendengar apa yang Fira ucapkan barusan.
"Hahaha...kamu ada ada aja deh, babynya mana ngerti sama yang kamu ucapkan." ucap Vanya sambil tertawa.
"Ngerti kok, iya kan baby."
"Iya aunty." balas Fira sendiri dengan mengunakan suara anak kecil.
"Hahaha..." taw Vanya.
Entahlah semenjak Vanya hamil entah mengapa moodnya sering berubah ubah. Kadang gampang marah, kadang juga nangis dan kadang juga tertawa terus. Yang pasti Vano sebagai suaminya seharusnya peka akan hal itu.
"Nah gitu dong ketawa, bumil itu gak boleh sedih terus harus tertawa dan bahagia." ucap Fira.
"Makasih ya kamu udah mau menghibur aku." balas Vanya dengan tulus.
"Kita kan sebentar lagi akan jadi keluarga, jadi harus saling menghibur di saat salah satu dari kita ada yang merasa sedih." balas Fira.
"Aku senang banget kalau kami yang jadi kakak ipar aku, jadi aku ada teman buat curhat." senang Vanya sambil memeluk Fira.
"Aku juga senang kalau punya adik ipar kayak kamu." balas Fira.
Mereka berdua pun berpelukan hingga Vanya bisa tertidur dalam pelukan Fira. Dan Fira pun dengan hati hati membaringkan Vanya di atas ranjang miliknya.
__ADS_1
...***...