My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 95


__ADS_3

"Dia itu kakak sepupu aku." jawab Vanya yang membuat Vano melotot.


'Dam it' umpat Vano dalam hati.


"Kenapa matanya, sakit?" tanya Vanya pura pura tak tahu kalau Vano tengah malu.


"Hah, apa?" cengoh Vano.


"Enggak itu loh tadi ada kecoa lewat." ucap Vanya ngasal, dan itu pun Vano percaya saja.


Vanya memanfaatkan momen ini untuk kabur dari kukungan Vano, dengan perlahan Vanya memindahkan tangan Vano hingga akhirnya dia berhasil bebas dari sana.


Vano sekarang tidur terlentang menatap atap kamar.


'Kok kayak ada yang aneh ya.' Batin Vano.


Vanya akan beranjak dari ranjang tapi dengan secepat kilat kesadaran Vano kembali dan menarik tangan Vanya yang sudah berdiri siap melangkah pergi meninggalkannya.


"Auw." keluh Vanya karena Vano membanting di atas ranjang big size nya lagi.


"Mau kemana hmm?" tanya Vano dengan senyuman misterius.


"Ma-mau bu-ang air kecil, iya aku mau buang air kecil." ucap Vanya gugup dan di akhiri dengan senyuman terpaksa.


"Mau buang air kecil atau mau kabur hmm."


"Mau buang air kecil kok gak kabur." ucap Vanya.


Vano mendekatkan tubuhnya pada Vanya hingga tubuh mereka saling menempel.


"Kamu mau ngapain Van?" tanya Vanya takut.


"Bersenang-senang baby." jawaban Vano berhasil membuat kupu kupu di dalam perut Vanya berterbangan.


"Ma-maksud kam... hmpppp." kebeberapa kalinya Vano mencium bibir Vanya dengan tiba-tiba yang membuat Vanya kaget.


"Hmmtt." suara itu keluar dari mulut Vanya yang membuat Vano makin mendalamkan ciumannya.


Vano mencoba memasuki mulut Vanya tapi Vanya malah merapatkan mulutnya. Akhirnya Vano pun mengigit bibir bawah Vanya.


"Auw." momen ini di manfaatkan Vano untuk memasukkan lidahnya kedalam mulut Vanya.


Vano merubah ciumannya dari yang menuntut menjadi sangat lembut yang membuat Vanya terbuai dan membalas ciuman Vano.


Vano tersenyum saat merasa ciumannya di balas oleh Vanya, itu artinya lampu hijau sudah menyala.


Vanya memukul dada Vano saat merasa oksigen di tubuhnya mulai habis, dan Vano yang mengerti pun melepaskan ciumannya dan menatap Vanya.


"Huh huh huh." nafas Vanya sedangkan Vano hanya biasa saja seperti sudah pro dalam hal ciuman.


"Boleh lanjut gak?" tanya Vano dengan tatapan memohon.


"Ini masih siang Van." jawab Vanya yang mengerti apa maksud Vano.

__ADS_1


"Tapi aku udah gak tahan. Dia sudah bangun dari tadi." ucap Vano dengan tatapan memohon.


Melihat wajah Vano yang seperti tengah menahan sesuatu dan setelah Vanya pertimbangan akhirnya Vanya pun menyetujuinya, meskipun terbesit dalam pikirannya kenapa sikap Vano berubah setelah pulang dari luar negeri, apakah Vano ketempelan jin di sana. pikir Vanya.


Dengan rasa ikhlas dan cintanya kepada Vano akhirnya Vanya menganggukkan kepalanya pertanda boleh.


"Beneran." ucap Vano dengan ekspresi gembira.


Vanya menganggukkan kepalanya lagi.


Dengan secepat kilat Vano bangun dan melepaskan kaos putih yang melekat pada tubuhnya. Setelah itu dia tanpa ba-bi-bu langsung melompat ke arah Vanya.


"Auw." teriak kesakitan Vano sambil memegangi itunya. (kalian ngerti kanπŸ˜‚)


"Kamu kenapa Van?" tanya Vanya dan melihat keadaan Vano.


"Adik gw sakit." keluh Vano.


"Hah adik? Adik siapa? Vino?" bingung Vanya, karena setahu Vanya Vino gak ada di sini.


"Bukan Vino."


"Trus siapa, bukannya adik kamu cuma Vino aja ya, oh atau kamu punya adik tiri." aduh Vanya polos banget deh jadi pengen cubit.πŸ˜‚


"Itu loh yang di bawah." tunjuk Vano pada benda keramat miliknya.


"Hah." kaget Vanya setelah mengetahui apa adik yang Vano maksud.


"Gara gara heels sia*an itu." menunjuk heels yang masih melekat di kaki Vanya.


"Huh selamat." ucap Vanya.


"Kok malah selamat sih, bukannya di kasihanin." omel Vano.


"Lah siapa juga yang ngasih selama sama kamu, orang aku ngasih selamat pada diriku sendiri kok, karena bebas dari kamu." senang Vanya.


Vano bangun melupakan adiknya yang masih rada nyeri. Dia melepaskan heels Vanya dan melemparnya ke dalam tempat sampah yang ada di dalam kamar.


"Loh kok di buang sih." ucap Vanya saat melihat sepatu yang baru dia pakai sekali masuk ke dalam tempat sampah.


"Heels itu pembawa sial, dan jangan harap kamu bisa selamat dari aku. Aku mau hukum kamu sampai kamu gak bisa jalan." menerjang Vanya yang membuat Vanya kualahan.


skip.


Jam menunjukkan pukul 4 sore, Vano mengerjapkan matanya. Pemandangan pertama yang Vano lihat adalah wajah cantik seseorang yang tengah tertidur dalam pelukannya tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.


Cup.


Vano mencium kening Vanya sayang, setelah itu dia memandangi wajah Vanya yang damai di alam mimpinya.


"Cantik banget sih istri aku." merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Vanya.


Vanya pun terusik tidurnya dan bangun. Tapi dia tidak membuka matanya, dia ingin tau apa yang akan di lakukan Vano kepada dirinya.

__ADS_1


Cup.


Vano mengecup bibir pink Vanya, yang membuat Vanya yang sudah bangun pun deg deg kan karena takut di makan Vano lagi.


"Manis banget sih bibirnya, jadi pengen cium terus."


"Kamu tahu gak ingatan aku udah balik loh, kamu pasti nanti senang dengernya. Maafin aku ya yang selama ini selalu nyakitin perasaan kamu, terutama tentang kejadian malam itu. Aku bingung gimana cara bilangnya sama kamu kalau ingatan aku udah balik, aku takut nanti kamu sudah gak cinta aku lagi karena sikap aku selama ini yang kasar." ucap Vano pada Vanya yang Vano kira masih tidur.


Vanya yang mendengar ucapan Vano pun kaget sekaligus senang, dia senang akhirnya Vano bisa mengingatnya kembali, tapi dia juga kesal karena Vano sudah mengempurnya tanpa ampun sehingga membuat badan dia sakit semua terutama bagian itunya.


'Enak aja habis bikin gw nangis nangis malah minta enak enak. Gw kerjain lo.' Batin Vanya tersenyum.


Cup.


"Sayang bangun yuk, udah sore ini." ucap Vano lembut membangunkan Vanya dengan mencium pipi Vanya.


"Emmhh." Vanya pura pura baru bangun tidur.


"Hoamm." Vanya menguap selebar lebarnya yang membuat Vano terkekeh.


"Kalau nguap mulutnya di tutup." ucap Vano.


"Aku di mana?" pura pura lupa.


"Kamu di mansion baru kita sayang." jawab Vano.


"Mansion baru? sayang?" cengoh Vanya pura pura.


"Iya, mansion baru yang aku persembahkan untuk kamu."


"Sejak kapan kamu manggilnya jadi aku kamu?"


"Sejak kemarin." jawab Vano dengan tersenyum manis yang membuat Vanya gemas tapi Vanya tetap stay cool agar rencananya dapat berjalan mulus.


"Oh." jawab singkat Vanya.


Vanya akan beranjak pergi dari ranjang tapi tidak jadi saat merasa selangkangannya sakit.


"Auwss.." ringis Vanya.


"Kenapa sayang, mana yang sakit?" panik Vano.


"Minggir, ini semua ulah kamu." menyingkirkan tangan Vano dari tubuhnya.


"Kok aku."


"Trus siapa, setan gitu?" kesal Vanya.


"Atututu jangan ngambek gitu dong jadi pengen makan deh." mencubit pipi Vanya gemas.


"Vano. Kamu kenapa sih, aneh banget." pancing Vanya agar Vano ngomong kalau ingatannya sudah balik.


"Aku aku ...

__ADS_1


...***...


Selamat datang di dunia perbucinan yang akan segera di mulai.


__ADS_2