
"Jam berapa sih?" tanya Vanya dengan mata yang setengah terpejam.
"Jam setengah delapan."
"APA." kaget Vanya mendengarkan ucapan Vano.
"Kok kamu gak bangunin aku sih, kita kan harus sekolah." lanjut Vanya ngomel-ngomel.
"Gak ada sekolah sekolahan, kamu lagi sakit jadi aku izinin tadi. Sekalian hari ini aku mau ajak kamu jalan jalan."
"Jalan jalan?"
"Iya, mangkanya ayo cepat mandi setelah itu kita sarapan, aku udah masakin makanan buat kita." suruh Vano.
Vanya pun mengangguk patuh, dia mandi sambil keramas karena merasa rambutnya sangat lepek. Setelah itu dia keluar memakai pakaian dan sekarang dia berada di depan cermin untuk merias wajah nya dengan make up yang sangat natural.
"Sini aku bantu keringkan." tawar Vano.
Vanya pun terima saja, malah enak menurutnya ada yang bantu jadi dia gak perlu repot-repot keringin rambut sendiri.
Vano mengeringkan rambut Vanya dari belakang tubuh Vanya dengan hairdryer di tangannya.
"Emang kamu mau ajak aku jalan jalan ke mana?" tanya Vano kepo sambil menikmati pemandangan wajah Vano yang makin tampan dari kaca cermin.
"Ada deh, nanti kamu juga tahu sendiri."
"Iiiss." decak Vanya.
"Dah selesai." meletakkan hairdryer di tempatnya setelah itu Vano menghampiri Vanya dengan salah satu tangannya membawa sesuatu.
"Nih." menyerahkan paper bag berukuran kecil kepada Vanya.
"Apa ini?"
"Udah kamu buka aja."
Vanya pun menerima pemberian Vano dan segera membukanya. Vanya tercengang ternyata Vano beneran membelikannya handphone seperti punya Vano dengan warna yang sama juga.
"Ini seriusan." ucap Vanya tak percaya.
"Sejak kapan aku pernah bohong hmm." balas Vano.
"Makasih baby." seneng Vanya.
"Tapi itu gak gratis loh yank." ucap Vano tiba tiba yang membuat Vanya menatap wajah Vano penuh selidik.
__ADS_1
"Maksud kamu, kamu minta ganti rugi gitu?" tebak Vanya.
"Benar 100 nilai buat kamu." canda Vano.
"Apaan sih, aku serius Vano. Kamu minta ganti rugi berapa emangnya nanti aku ganti." sungut Vanya mulai keluar.
"Becanda becanda yank, jangan serius serius napa."
"Udah yuk kita ke bawah sarapan setelah itu kamu harus minum obat." lanjut Vano, Vano tak jadi meminta ganti rugi pada Vanya ya meskipun itu hanya sekedar ciuman, karena melihat Vanya yang akan marah nanti malah gak jadi acara jalan jalan mereka.
Mereka pun turun menuju ruang makan, Vanya tak percaya jika masakan yang ada di meja makan itu hasil kerja Vano. Pasalnya Vanya tak pernah melihat Vano memasak selama ini.
"Ini seriusan kamu yang masak?" tanya Vanya gak percaya.
"Kamu gak percaya, tanya aja sama Sri."
"Mbak Sri ini beneran Vano yang masak?" tanya Vanya pada kepala pelayan Sri yang kebetulan berada di sana.
"Bener nyonya." Jawab kepala pelayan Sri.
"Tapi gak seratus persen hasil kerja kamu sendiri kan?" tebak Vanya.
"Hehehe tadi di bantu Sri sedikit." sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal akibat salah tingkah.
Vanya mengambil sendok dan mencoba untuk mencicipi tumis kangkung yang ada di meja makan.
"Rumayan." jawab Vanya.
Vanya mengambil nasi dan memasukkan ke dalam piringnya serta memasukkan beberapa macam masakan Vano ke dalam piring nya juga. Ada tumis kangkung, ayam bakar, brokoli tepung krispi, capcay dan susu coklat kesukaan Vanya.
"Aku gak di ambilin yank." ujar Vano, pasalnya setelah mengambil makanan untuknya, Vanya langsung menyuapkan ke dalam mulutnya tidak mengambilnya untuk Vano.
"Oh iya lupa. Gak usah deh, kita makan sepiring berdua aja. Sini aku suapin." mengarahkan sendok yang sudah berisi makanan ke mulut Vano. Dengan senang hati Vano menerima itu, mana mungkin kan Vano menolak rejeki.
Setelah selesai makan sekarang mereka dalam perjalan menuju tempat yang entah Vanya tidak tahu, hanya Vano lah yang tahu.
"Kita sebenarnya mau ke mana sih Van?" tanya Vanya kepo, pasalnya mobil yang di kendarai Vano berhenti di bandara.
"Rahasia, nanti kamu juga tahu. Yuk turun." membukakan pintu mobil untuk Vanya.
Dengan seribu pertanyaan yang ada di benaknya, Vanya pun mengikuti saja kemana arah Vano membawanya, siapa tau kan nanti tiba tiba Vano ngajak Vanya ke Korea ketemu pacarnya di sana. pikir Vanya sambil tertawa geli.
"Kamu mikirin apa kok ketawa ketawa gitu?" tanya Vano.
"Ada deh, kamu kepo." Vanya membalas Vano.
__ADS_1
"Oh gitu ya, mainnya bales dendaman. Oke siapa takut."
Mereka memasuki jet pribadi milik keluarga William dan segera lepas landas menuju tempat tujuan.
-
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,45 jam akhirnya pesawat yang mereka naiki sampai di tempat tujuan. Sekarang Vanya tahu kemana Vano akan membawanya jalan jalan, yaitu ke pulau Dewata Bali.
Meskipun Vanya anak salah satu orang kaya di negara ini, jujur dia udah lama gak jalan jalan ke sini lagi, terakhir dia ke sini waktu masih kelas 2 Sd dulu dan itu udah sangat lama.
"Oooh kamu mau ngajak aku ke Bali, bilang dong biar aku bawa baju yang sesuai." ucap Vanya setelah turun dari pesawat.
Vano mengeryit, baju apa yang Vanya omongin, kalau baju yang kurang bahan jangan pikir Vano akan ijinin.
"Emang kamu mau bawa baju apa?" tanya Vano sambil membukakan pintu mobil untuk Vanya dan dia segera duduk di samping Vanya di jok belakang dengan sopir yang ada di jok depan.
"Ya bikini lah, buat ke pantai nanti liat sunset." jawab Vanya sangat.
"Jangan harap kamu bakal lolos dari aku, aku udah sediain banyak baju kurang bahan di villa tapi itu bukan buat kamu jalan jalan ke pantai melainkan untuk kamu gunakan waktu di kamar bersama ku." ucap Vano panjang lebar tanpa sensor, bahkan pak sopir sampai menulikan pendengarannya agar tidak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh tuan dan nyonya nya.
"Lah kok gitu, kan emang bagusnya tuh kalau ke pantai pakai bikini." omel Vanya.
"Itu gak berlaku buat istri aku, aku gak rela tubuh indah kamu di nikmati para pria mata telanjang di pantai sana."
"Iiiss kamu nyebelin."
"Biarin, bahkan kalau kamu mau sebaiknya kamu pakai gamis saja bila di sana nanti."
Mendengar itu Vanya pun mencubit perut kotak kotak milik Vano, yang membuat Vano mengeluh.
"Aaawww sakit yank, kamu kasar banget sih."
"Biarin." Vanya menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap keluar jendela yang ada di sebelahnya tanpa mau menatap ke arah Vano.
"Yank." pangil Vano yang tak di gubris oleh Vanya.
"Yank." pangil Vano lagi.
Karena tidak mendapat respon akhirnya Vano tidak menggangu Vanya lagi, biarlah nanti kalau sampai di villa saja akan dia urus. pikir Vano.
...***...
Halo semua, maaf ya aku baru bisa update lagi 😁
Oh iya bagi pecinta genre Fantasy dengan bumbu romansa romansa gitu mampir yuk ke novel temen seperjuangan ku yang berjudul MAHA Sang Alkemis Kejam😁🙏
__ADS_1