
"Siapa Van?" tanya Farrel ingin tahu.
"White Devil."jawab Vano dengan pandangan yang tajam ke arah layar komputer.
"White Devil, bentar deh gw kayak pernah dengar tuh nama." ujar Farrel.
"Oh iya gw ingat, dia bukannya salah satu mafia yang kejam di China?" lanjut Farrel setelah mengingat nama anggota mafia itu.
"Bener kata Lo, tapi bagi WD, mereka tidak ada apa-apa nya. Dan gw gak sabar pengen ketemu ama ketuanya, biar nanti gw ajak main." ucap Vano sangat antusias.
"Main, main apa?"
"Main pedagang dan pistol." jawab Vano santai seolah hal itu tidak mengerikan baginya.
"Terus rencana kita gimana agar bisa nangkap mereka secara bersamaan?" tanya Farrel.
"Kita gunakan umpan yang mereka targetkan."
"Maksud lo Vanya, jangan gila deh Van, lo mau bahayain nyawa istri lo demi sebuah misi kek gini. Enggak gw gak setuju." Farrel menolak ide yang Vano ucapkan.
"Gw gak sebodoh itu, gw udah mikirin rencana tersediri buat hal ini. Gw gak mungkin lah ngorbanin orang yang gw cinta demi masalah sepele kayak gini."
"Terus rencana lo gimana?" tanya Farrel.
"Gini..." Vano menjelaskan rencana yang dia buat sedemikian rupa agar berjalan dengan lancar.
"Emang lo yakin mereka gak akan ngapa ngapain Vanya?" tanya Farrel setelah mendengar penjelasan Vano.
"Lo percayakan semua sama gw. Tapi gw harus bisa ngurangin rasa trauma Vanya dulu, baru bisa ngejalanin misi ini."
"Ya udah terserah lo aja, gw percayakan semua sama Lo. Tapi ingat jangan sampai ada korban jiwa di antara kita." ujar Farrel.
"Lo tenang aja, gw juga udah omongin hal ini sama papa, dan papa setuju setuju aja. Dan soal penyerangan kita ke white Devil gw udah pangil temen gw yang dari Italia agar datang ke sini buat bantu kita."
"Baguslah kalau gitu, biar pasukan kita lebih kuat."
"Udah jelaskan, gw mau pulang dulu kasian bini gw di mansion sendirian." pamit Vano beranjak bangun dari kursi yang dia duduki tadi.
"Gw ikut, gw mau numpang makan malam di rumah lo." ikut Farrel.
Vano tak keberatan akan hal itu, toh istri nya juga pasti masak banyak di rumah.
Di tengah perjalanan menuju mansion nya handphone Vano berdering ada telfon masuk, demi keamanan Vano pun menepikan mobilnya untuk mengangkat telepon. Dan mobil Farrel yang mengikuti mobil Vano pun ikut menepikan mobilnya di belakang Vano.
Tertera nama Bini cantiknya Vano. Vano pun segera mengangkat panggilan dari Vanya.
'Halo yank.' sapa Vano mengawali pembicaraan.
'Kamu udah pulang belum?' tanya Vanya.
'Udah, tapi ini masih di jalan. Emang kenapa?'
'Tolong sekalian mampir di minimarket ya beliin aku pembalut.' pinta Vanya yang membuat Vano memelotot kan matanya.
__ADS_1
WHAT seorang Geovano Alexander William, pewaris keluarga William di suruh beliin pembalut, gak salah apa.
'Halo Van, kamu masih di sana kan?" pangil Vanya karena tidak mendengar respon Vano.
'Ahh iya, kamu ngomong apa sayang tadi, sinyal nya jelek jadi suara kamu putus putus.'
Sekarang Vano memasang telinga dengan benar, berharap tadi dia salah dengar.
'Ini aku minta tolong dong buat beliin pembalut di minimarket, kan mumpung kamu nya juga lagi ada di luar.' ulang Vanya yang membuat Vano ingin tengelam di lautan saja rasanya.
'Oh iya yank nanti aku beliin, ada yang lain lagi?' tanya Vano.
'Oh sekalian aja beliin aku kir*nti satu ya.' tambah Vanya.
'Ya udah aku jalan dulu, kamu tunggu di mansion saja.'
'Iya, masih cuami panya cayang.'
Eemmuah.
Kecupan Vanya berikan dari sebrang sana yang membuat Vano tak jadi mengumpati Vanya.
'Hmm, ya udah aku tutup dulu.'
Tut.
"Hufft... gimana nih, masak iya gw beli pembalut sih." gumam Vano.
"Ahaa... gw suruh si Farrel aja." ide brilian Vano.
Vano pun segera mengetikkan pesan buat Farrel.
Kak entar mampir di minimarket dulu ya, gw mau beli sesuatu.
Isi pesan yang Vano tulis.
Farrel yang ada di belakang Vano pun meng-iyakan saja tanpa berfikir ada resiko di belakangnya.
Vano pun melajukan mobilnya lagi mencari minimarket untuk mencari barang titipan Vanya.
Mobil Vano belok ke arah minimarket di ikuti mobil Farrel di belakangnya.
"Mua cari apaan Van?" tanya Farrel setelah menemui Vano.
"Ooh ini pesanan bini gw, yuk kita masuk." ajak Vano.
"Enggak deh lo aja, gw tunggu di sini." tolak Farrel.
"Udah ayo, sekalian cari cewek. Siapa tau kan nanti lo kecantol sama mbak mbak kasir." Vano menyeret Farrel agar mengikuti dirinya masuk ke dalam minimarket. Mau tak mau Farrel pun ikutan masuk.
"Ada yang bisa saya bantu, mas nya mau cari apa?" tanya pelayan minimarket pada Vano dan Farrel.
"Oh ini teman saya yang mau beli." tunjuk Farrel pada Vano.
__ADS_1
"Mau cari apa mas?" tanya pelayan tadi dengan ramah.
Vano tak menjawab melainkan dia menyengol lengan Farrel.
"Van itu lo di tanya, lo mau cari apa?" ucap Farrel.
Tiba tiba saja tangan Vano memperagakan seperti orang bisu, dia memperagakan agar Farrel membuka chat dari nya. Dengan wajah polosnya Farrel pun mematuhi perintah Vano, bahkan Farrel juga berbicara dengan Vano mengunakan bahasa isyarat tangan.
Ternyata tadi sebelum keluar dari mobil Vano mengirimkan pesan lagi ke Farrel, tapi Farrel belum membukanya. Pesan itu berisi pesan Vanya tadi, yaitu pembalut dan kiranty.
"Oh ini mbak, kita mau cari pembalut yang sayap sama kira*nti nya satu." ucap santai Farrel seolah dia tidak malu membicarakan benda itu sama perempuan.
Pelayan tadi pun menahan tawanya, dia segera mengambilkan pesanan Farrel dan membawanya ke meja kasir.
Vano terheran heran melihat sikap Farrel yang seolah biasa biasa saja. Kayaknya Vano salah orang deh. batin Vano.
"Berapa mbak?" tanya Farrel sedangkan Vano hanya mengekor di belakang Farrel.
"Total semuanya 33 ribu mas." jawab mbak mbak kasir.
Vano pun segera mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang satu lembar yang berwarna biru.
"Kembaliannya ambil aja mbak." ucap Farrel dan segera menyeret Vano keluar dengan tangan yang menenteng kantong kresek berisi pembalut dan minuman kir*nti.
"Sial*n lo." umpat Farrel setelah berada di luar minimarket.
"Lo ngerjain gw tadi, pakek acara jadi bisu segala lagi. Gw doain lo bisu beneran." omel Farrel.
"Lah, lo kok ngomel-ngomel sih, bukannya tadi lo biasa biasa aja ya. Malahan tadi lo ngikutin akting gw." balas Vano.
"Gw biasa aja kayak tadi dan ngikutin akting lo, itu karena gw harus bersikap cool biar gak makin malu gw."
"Buahahahaha... jadi lo dari tadi sebenarnya malu, gw kira tadi lo kayak gitu karena udah biasa beli begituan mangkanya gak malu." ledek Vano.
"Sial*n lo, gw belum pernah beli ginian. Ini pertama dan terakhir kalinya, pokoknya mulai hari ini kalau lo ajak gw ke minimarket gw harus waspada."
"Hehehe ya maap, habisnya gw juga malu banget kalau beli gituan, jadi ya gw nyuruh lo."
"Nyuruh sih nyuruh, tapi gak dadakan kayak tadi juga kali."
"Emang kalau gw tadi bilang waktu sebelum masuk ke dalam lo mau beliin?"
"Ya gak lah, ya kali gw mau."
"Nah mangkanya itu gw tadi bilangnya di dalam."
"Ehh btw thanks ya, sini barangnya. Yuk pulang." lanjut Vano tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Sial*n, masak iya gw di kibulin kakak sama adik." umpat Farrel lagi, entah sudah ke berapa kalinya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju mansion Vano dengan tetap Vano yang memimpin jalan.
...***...
__ADS_1