My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 80


__ADS_3

Vano terbangun dari tidurnya, setelah membersihkan tubuhnya dia keluar dari kamar mandi dengan celana bokser yang menutupi tubuh bagian bawahnya serta handuk yang ada di tangannya guna untuk mengeringkan rambut.


Vano berjalan menuju cermin yang ada di kamarnya yang menampilkan raut wajah tampannya sambil mengeringkan rambut.


"Muka udah oke, tubuh oke, dompet apalagi. Mana mungkin sih nanti Vanya gak mau maafin gw, ya pasti mau lah." monolog Vano sambil mengusap usap rambutnya yang basah sehabis keramas.


"Nih kumis di cukur gak ya." meraba raba dagu serta bagian atas mulutnya yang menampilkan kumis tipis tipis nya.



...(mon maap author klepek klepek 😂)...


"Cukur aja lah, nanti kalau gak di cukur bisa ilfil Vanya." lanjutnya.


"Ehh tapi sayang." ucap nya lagi sambil mendekatkan wajahnya ke arah cermin guna memperjelas mukanya.


"Tapi gapapa deh, nanti kan bisa tumbuh lagi." lanjut Vano.


Akhirnya Vano pun kembali lagi ke kamar mandi untuk mengukur kumis serta jenggot tipis tipis yang ada di wajahnya.


Setelah selesai dengan pakaian rapi, Vano berjalan ke arah nakas untuk melihat keadaan ponselnya yang sedari tadi berdering tapi tak ia hiraukan.


"Bram, ada apa dia telfon gw." gumam Vano saat melihat lima panggil tak terjawab dari anak buahnya yang dia tugaskan untuk menjaga sekaligus memantau Vanya.


Vano pun memutuskan untuk menghubungi balik nomor anak buahnya.


"Halo ada apa?" Ucap Vano saat panggilan sudah tersambung.


"...."


"Trus?"


"...."


"Ya udah terus awasi dan ikuti kemanapun Vanya pergi, kalau bisa sekalian ada fotonya."


"..."


"Hmm."


Tut.


Setelah panggilan terputus Vano meremas handphone yang ada di tangannya dengan rahang yang mengeras seperti tengah menahan emosi.


"Kenapa Vanya harus bohong, dan kenapa juga Vanya gak izin sama gw kalau dia mau pergi ke rumah papa Wijaya." marah Vano.


"Ehh tapi kan..." amarah Vano seketika lenyap saat dia mengingat bahwa hubungannya dengan Vanya tidak sedekat itu saat dia amnesia.


"Hufft.."

__ADS_1


"Lagian nih otak pakai amnesia segala sih, kan kalau gak gw tiap malam bisa kelonan. Hihihi.." ucap Vano sambil terkekeh.


"Ngomong ngomong kelonan, kok gw jadi inget malam itu ya." lanjut Vano sambil mengingat malam di mana dia sedang terpengaruh oleh obat sial*n tapi mengenakkan itu.


"Aduh Vano otak lo kok jadi gini sih. Kan gw jadi pengen cepet-cepet pulang." sambil menggelengkan kepalanya.


"Lah lah lah.." gumam Vano saat merasa bagian bawahnya ada yang bangun.


"Ehh lo ngapain bangun sih, kan gw cuma inget inget doang ngapain pakai bangun." mengacak acak rambutnya hingga berantakan akibat adiknya yang bangun.


"Hufft masak iya gw harus main sama mbak Lux."


"Ehh tapi emang dia Italia ada sabun Lux."


"Tau ahh."


Akhirnya Vano pun kembali lagi ke kamar mandi untuk ke tiga kalinya. Tapi untuk yang kali ini bukan untuk mencukur atau pun mandi melainkan bermain lagunya mbak jennie blackpink alias SOLO.


-


Jakarta.


"VANYA." Teriak seseorang dari belakang memanggil Vanya yang sedang berjalan menuju kelas.


"Apaan sih Sil, gw gak budek jadi lo jangan teriak teriak." ucap Vanya setelah menengok kebelakang, dia melihat Sisil yang tengah berlari menghampirinya di ikuti Sonya yang berjalan santai.


"Gw lupa mau hubungi kalian, maaf ya." minta maaf Vanya karena melupakan sahabat sahabatnya.


"Iya gapapa Van, lain kali jangan kayak gitu ya kita khawatir tauk." Ucap Sonya yang yang sudah sampai di hadapan Vanya.


"Iya Son, sorry ya." balas Vanya yang di balas senyuman serta anggukkan kepala oleh Sonya dan Sisil.


"Ya udah ayo kita masuk ke kelas gw mau jaga soalnya." lanjut Vanya lantaran hari sudah mulai siang dan dia harus berjaga seperti biasanya di depan gerbang.


"Ya udah yok." setuju Sisil.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam kelas berjalan beriringan melewati koridor sekolah yang banyak siswa siswi yang sedang berghibah.


-


"Ehh itu baju kamu tolong di rapihkan." perintah Vanya pada seorang siswa yang baju seragamnya tidak di masukkan ke dalam celana.


"Baik kak." jawab siswa itu yang sepertinya adik kelas Vanya.


"Kamu juga di mana dasi kamu?" tanya Vanya pada temannya si anak tadi yang bajunya tidak di masukkan.


"Ketinggalan kak." jawab siswa itu dengan rasa takut, karena Vanya kalau sudah ada di depan gerbang dia akan cosplay jadi emak emak berdaster kalau lagi ngomel ngomel.


"Sekarang kamu lari keliling lapangan 3 kali setelah itu pergi ke koperasi untuk beli dasi. Dan untuk kamu yang tadi silahkan ikut lari lapangan 3 kali. CEPAT." Perintah Vanya dengan suara tegas.

__ADS_1


"Baik kak." jawab kedua siswa itu patuh dan segera melaksanakan perintah dari ketua OSIS.


"Hufft... heran aku, kenapa tiap hari ada aja yang gak bener. Untung aja ini gak ada Vano, kalau ada Vano makin pusing aku." gumam Vanya setelah menghela nafasnya.


"Ngomong ngomong Vano kok gw jadi kangen ya, kangen marahin dia kalau dia telat trus habis itu adu mulut gara gara dia gak mau jalanin hukuman." lanjut Vanya lagi dengan senyum mesam mesem.


Vanya terus berjaga hingga gerbang di tutup oleh satpam, setelah selesai dia kembali ke kelasnya untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.


-


Kriiiing.....


Bell istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas dan buru buru pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Tak terkecuali Vanya dkk Rangga dan Galang.


"Halo Van, apa kabar?"


"Kemana aja lo, setelah menang olimpiade kok gak masuk sekolah?"


Tanya Galang dan Rangga barengan saat berpapasan dengan Vanya dkk di lorong menuju kantin.


"Hai juga Lang, Alhamdulillah kabar gw baik. Gw di kasih waktu buat istirahat setelah olimpiade kemaren jadi ya gw manfaatin buat jalan jalan." Vanya menjawab sapaan serta pertanyaan Galang dan Rangga.


"Wah enak dong lo bisa jalan jalan di hari semua orang yang lagi sibuk." ucap Rangga.


"Iya tuh pasti seru, kayak Vano orang lagi masuk sekolah ehh dia malah enak enakkan di luar negeri." timpal Galang yang membuat semuanya menatap Galang kecuali Vanya yang sudah mengetahui keberadaan Vano.


"Kenapa kalian natap gw kayak gitu." tanya Galang kepada teman-temannya yang tengah menatapnya dengan serius.


"Apa yang lo bilang tadi itu benar apa, kalau Vano pergi ke luar negeri?" tanya Rangga dengan mode serius mewakili apa yang ada di otak Sonya dan Sisil yang sedari tadi diam saja.


"Iya lah orang Vano sendiri yang bilang ke gw." jawab Galang.


"Kok Vano gak bilang bilang sih, kenapa dia seenaknya pergi ke luar negeri sebelum selesaikan masalah yang ada di geng motor kita." kritik Rangga tidak suka dengan cara Vano.


Vanya yang mendengar ucapan Rangga itupun menatap Rangga dan Galang, sama halnya dengan Sonya dan Sisil.


"Lo tenang aja gak usah emosi, Vano udah nyiapin rencananya. Gak lama lagi juga Vano pulang kok kalau kerjaannya udah selesai." Galang menenangkan Rangga agar Rangga tidak sampai mengucapkan apa yang akan anak Black Crow lakukan nanti.


"Lo beneran kan? Gak lagi bela Vano kan?" ucap Rangga lagi.


"Iya Rangga, lagian lo kan udah tau kayak apa si Vano. Dia itu gak pernah ingkar dengan apa yang dia ucapkan." Galang merangkul pundak Rangga.


"Kata siapa, buktinya dia mengingkari cinta gw." ucap Vanya dalam hati.


"Emang geng kalian mau ngapain?" tanya Sonya kepo.


"Ehh... eeemmm." Rangga baru menyadari jika sedari tadi mereka tidak berdua saja di sini, melainkan ada Vanya dkk juga. Dan sekarang dia bingung harus menjawab apa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2