
Vano masuk ke dalam ruang kerjanya dan segera membuka laptop yang terdapat di atas meja. Vano menyalakan laptop dan tangannya segera berselancar di atas keyboard untuk merentas handphone milik Damar yang ada di tangan polisi sebelum polisi memeriksa handphone Damar.
"Napa gw beg* banget sih, bisa bisanya gw ningalin jejak yang sangat mudah di cari oleh polisi." gumam Vano sambil terus berusaha merentas handphone Damar.
"Hufft akhirnya selesai juga." Vano menghela nafasnya karena berhasil menghapus pesan yang dia kirim ke Damar.
Vano merenggangkan otot otot jarinya hingga dia teringat sesuatu.
"Vanya." ucap Vano dan segera berlalu keluar ruang kerja menuju kamarnya.
Vano membuka pintu dengan pelan, setelah berhasil kebuka Vano celingukan karena tidak mendapati keberadaan Vanya di dalam kamar.
"Van, Vanya." panggil Vano tapi tak mendapat sahutan apa pun.
Vano berjalan menuju kamar mandi dan membukanya tapi tidak ada Vanya di sana.
"Lah kok gak ada sih, masak iya Vanya pulang."
Samar samar Vano mendengar seseorang tengah berbicara dari dalam walk in closed yang terletak di samping kamar mandi.
Vano pun berjalan menuju walk in closed tanpa mengetuk pintu dia langsung membukanya begitu saja.
"Oh, ****."
-
"Wow badan gw seksi banget kalau pakai ginian." ucap Vanya di depan cermin.
Sekarang Vanya tengah memakai pakaian haram berwarna hitam, dengan belahan dada rendah dan panjang sampai pertengahan paha. Apalagi kainnya yang seperti saringan ikan membuat lekuk tubuh Vanya terlihat sangat jelas.
"Gilak sih ini mah seksi banget." ucap Vanya lagi memuji dirinya sendiri.
Vanya berputar putar di depan cermin dan berjalan ke sana kemari, berlenggak lenggok layaknya model di atas panggung. Vanya keluar dari walk in closed masih dengan mengunakan pakai haram itu dan berhenti di depan meja riasnya.
Pandangan Vanya jatuh pada beberapa lipstik yang tertata rapi di sana dengan berbagai macam warna.
Vanya mengambil lipstik yang berwarna merah menyala dan segera mencobanya.
"Wow.." decak kagum Vanya pada penampilannya sendiri.
"Udah kayak mbak mbak lon** nih gw." menatap dirinya di cermin.
"Kurang apa lagi ya. Eemmm..." Vanya mengetuk dagunya mengunakan jari.
"Ahha." ide Vanya.
Vanya kembali berjalan masuk ke dalam walk in closed dan mencari high heels yang berjejer di sana, pandangan Vanya jatuh pada high heels warna hitam yang tingginya 12 centi.
Dan segera saja Vanya memakainya. Warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih bersih dan halus miliknya, apalagi yang warnanya senada dengan baju haram yang dia pakai, menambah nilai plus untuk penampilan Vanya kali ini.
__ADS_1
Vanya mengurai rambutnya, setelah itu dia acak acak rambutnya kembali sehingga membuat dia semakin terlihat seksi.
"Perfek." puji Vanya.
"Coba jalan kayak model ahh, mumpung Vano belum ke sini."
Vanya pun berjalan lenggak-lenggok memutari laci yang ada di tengah tengah ruangan tersebut, dan saat Vanya berjalan membelakangi pintu tanpa dia ketahui pintu di buka oleh seseorang.
"Oh ****." ucap Vano saat melihat Vanya.
Vano tetap diam tanpa suara di tengah tengah pintu agar Vanya tidak mengetahui jika dia tengah menatap Vanya. Tapi lama kelamaan melihat pang*l Vanya yang beuhh itu membuat celananya sesak.
"Gw gak kuat." ucap Vano dan dengan segera dia berjalan ke arah Vanya dan segera memeluk Vanya dari belakang.
"Eeh." kaget Vanya karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Mau goda aku hmm." deep voice Vano yang membuat aliran darah Vanya mengalir dengan cepat.
"Eng-enggak kok." gugup Vanya karena kepergok Vano.
"Trus ini apa hmm?" suara Vano seperti tengah menahan sesuatu.
Vanya diam saja, dia bingung harus menjawab apa karena sudah kepergok juga, mau di jelasin bagaimana pun juga Vano gak bakal percaya.
Vano meniup kuping sebelah kanan Vanya yang membuat Vanya meremang.
"Kenapa hmm?" suara Vano lagi.
"Le-pas Van." ucap Vanya memberontak dari pelukan Vano.
"Cowok yang mana sih, dari tadi cowok cowok mulu." kesal Vanya dan masih berusaha memberontak.
Vano semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Vanya yang membuat Vanya berhenti memberontak karena merasa ada yang janggal di belakangnya.
"Kenapa berhenti hmm?"
Udah lah Vanya sudah gak kuat denger suara Vano saat ini. Rasanya Vanya ingin tengelam di tengah lautan atau di mana pun yang tak terlihat oleh Vano.
"Van lepas." ucap Vanya tapi dia tidak bergerak, hanya mulutnya saja yang bergerak.
"Kalau aku gak mau gimana?" mencium leher belakang Vanya yang membuat Vanya kegelian.
"Van..." mohon Vanya.
"Aku bakal lepasin tapi kamu jelasin dulu siapa cowok itu." ucap Vano serius.
"Cowok yang mana sih?" bingung Vanya yang tak peka.
Vano pun semakin di buat jengkel oleh Vanya, tanpa ba-bi-bu Vano langsung mengangkat Vanya ke dalam gendongannya. Vano mengendong Vanya ala bridal style.
"Van." Vanya pasrah di tangan Vano.
__ADS_1
Dengan wajah tak terbacanya Vano meletakkan Vanya di atas ranjang big size yang ada di kamar dan setelah itu dia merengkuh tubuh Vanya di bawahnya.
"Van kamu mau apa?" panik Vanya.
"Menurut kamu apa baby." jawab Vano menatap intens mata Vanya.
"Lepasin Van aku mau ganti baju dulu."
"Gak usah ganti baju, kamu seksi pakai baju ini." tetap menatap Vanya yang membuat Vanya semakin salting.
"Bilang sama aku siapa cowok itu, atau aku cari tau sendiri. Dan kamu tahu kan akibatnya nanti." tanya Vano lagi.
"Cowok yang mana sih Van, aku gak tahu." jawab Vanya yang ikutan jengkel juga.
"Cih, gak usah pura pura gak tahu. Kamu tadi ke rumah sakit mau jemput dia pulang kan?"
Vanya mengerti sekarang cowok mana yang di maksud oleh Vano sedari tadi.
"Oooh maksud kamu kak Farrel." ucap Vanya sambil tersenyum.
"Kamu kenapa, cembu... hmpppp..." lagi dan lagi Vano menyumpal Vanya dengan ciumannya tapi itu hanya sebentar tak selama tadi.
"Jangan sebut namanya di depan ku." ucap Vano setelah melepaskan mulut Vanya.
"Kenapa kamu cemburu sama kak Far... hmpppp."
Vano mencium Vanya lagi.
"Udah aku bilang jangan sebut namanya di depan ku." ucap Vano lagi.
"Apa apaan sih kamu, gak jelas tau gak." jengkel Vanya.
Vanya berusaha kabur dari kukungan Vano tapi segera di tahan oleh Vano.
"Mau kemana hmm."
"Lepasin Van."
"Enggak sebelum kamu bilang siapa cowok itu." kekeh Vano.
"Hufft... Kamu mau tahu siapa cowok itu?" Vano menganggukkan kepalanya.
"Dia itu...." menatap Vano.
"Dia itu...emmm.... siapa ya."
"Cepat Vanya atau kamu aku cium lagi nih." memajukan bibirnya siap menyosor Vanya tapi Vanya segera menahan bibir Vano.
"Nyosor mulu." omel Vanya.
"Dia itu kakak sepupu aku." jawab Vanya yang membuat Vano melotot.
__ADS_1
Malu gak, malu gak, ya malu lah masak enggak.
...***...