
"Anu tuan..." jawab Fen Wang gugup.
Marvel memutar kursi yang dia duduki dengan gerakan slow motion, setelah itu dia menatap Fen Wang sambil menaikkan satu alisnya.
"Eemmm... boleh tidak saya nanti pinjam Vanya dulu buat ancam Farrel." ucap Fen Wang dengan agak ragu mengatakan itu.
"Apa kamu bilang, coba ulangi sekali lagi, saya tadi tidak dengar?" mengarahkan kuping kanannya pada Fen Wang.
"Saya mau pinjam Vanya seben..."
"JANGAN HARAP." sentak Marvel memotong ucapan Fen Wang.
"Tapi tuan..."
"Hei, kamu punya kaca tidak, kalau tidak di mansion ini banyak kaca, silahkan bercermin. Saya yang susah susah dapatin Vanya, dan situ main minta minta aja. Enak banget hidup kamu."
"Tapi kan saya yang mempunyai ide itu tuan."
"Ide? Ide apa?"
"Semua orang juga bisa kalau cuma nyuruh nyuruh doang sambil duduk manis tanpa melakukan apapun." lanjut Marvel.
"Tapi kan saya sudah membayar tuan."
"Bayar, hei! Emang kamu bayar saya berapa hmm, uang segitu mana cukup buat bayar anak buah saya yang sudah berhasil menculik Vanya dan mengelabuhi anak buah Vano."
Fen Wang diam, memang dia waktu itu hanya membayar 100 juta saja. Tapi kata Marvel dia tidak memerlukan uang yang banyak, dia rela menculik Vanya tanpa harus di bayar sepeser pun, tapi waktu itu Fen Wang memaksa agar Marvel mau menerima uang darinya, jadi ya mana mungkin sih ada orang yang bisa nolak rejeki di depan mata.
Marvel mengambil sebuah koper hitam kecil yang ada di bawahnya dan meletakkannya di meja depan Fen Wang.
"Ambil itu dan pergi dari sini." ucap Marvel.
"Apa ini tuan?"
"Itu uang kamu aku kembalikan sepuluh kali lipat, jadi silahkan kamu pergi dari sini dan jangan harap bisa ngambil Vanya dari aku, bahkan jangan harap kamu bisa menyentuhnya seujung rambut pun."
"Jadi tuan buang saya setelah saya membantu tuan selama ini." ucap Fen Wang tidak terima.
"Kamu bantu saya apa hmm?"
"Saya tadi yang ngasih informasi kepada tuan di mana keberadaan Vanya."
__ADS_1
"Hei, tanpa kamu kasih tahu pun saya sudah tahu di mana lokasi Vanya, karena saya selalu menyuruh seseorang buat mengawasi dirinya."
Fen Wang diam lagi mendengar penuturan Marvel. Jadi selama ini dia percuma dong bayar orang buat ngawasin Vanya kalau ujung ujungnya dia di buang seperti ini.
"Tapi tuan, ijinkan saya untuk memakai Vanya sebagai umpan buat Farrel, satu kali ini saja. Setelah itu saya janji, saya tidak akan minta bantuan tuan lagi dan ganggu tuan lagi." mohon Fen Wang.
"Hufft... baiklah baiklah. Tapi tidak sekarang, karena aku masih mau memandangi wajah cantik Vanya." sambil membayangkan wajah Vanya.
"Makasih tuan, saya janji nanti akan mengembalikannya kepada tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Fen Wang tak lupa mengambil koper yang berisi uang 1M tadi.
"Pergilah."
Fen Wang pun pergi dengan perasaan senang karena mendapatkan uang 1M tanpa harus bekerja.
"Hahahaha....gak papa gak bisa dapatin Vanya sekarang, yang penting aku dapat uang banyak." batin Fen Wang senang.
Fen Wang tidak memutuskan untuk segera pulang, dia kembali ke kamar yang tamu yang di sediakan untuk dirinya kalau ke sini dulu. Dia akan mengintip Vanya nanti ketika sudah sampai di sini dan akan memfotonya dan setelah itu akan dia kirim ke Farrel.
-
Mobil box yang membawa kardus berisi Vanya telah sampai di halaman luas mansion milik Marvel. Mereka pun segera mengeluarkan kadus itu dari dalam mobil dan membawanya masuk untuk menemui tuan mereka.
"Antar dan baringkan dia di kamar yang sudah di siapkan oleh pelayan." jawab Marvel.
"Baik tuan, kalau begitu kami permisi dulu."
Mereka pun segera membawa kardus itu ke tempat yang di tunjukkan pelayan.
Sementara itu, Vanya yang berada dalam kardus pun mendengarkan semua pembicaraan mereka.
"Hah gw mau di bawa ke mana ini, trus tadi itu juga suara siapa?" batin Vanya bertanya tanya.
"Mana di dalam sini panas banget lagi, kan gw jadi keringetan." lanjutnya.
-
Vano yang tengah asik memantau Vanya dari tablet nya pun mengeryitkan dahinya saat melihat posisi Vanya yang semakin lama semakin dekat dengan dirinya. Di tambah lagi Vano dapat mendengar suara beberapa langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Vano pun segera mendekatkan telinganya pada pintu untuk mendengarkan suara dari luar.
"Ini tuan kamarnya." suara itu yang Vano dengar dari seorang perempuan.
Vano pun segera berlari dan bersembunyi di dalam lemari pakaian yang ada di kamar itu. Tak lupa dia juga membawa semua barang barangnya agar tidak ada yang curiga kalau dia ada di sana.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu kamar itu terbuka dan beberapa orang laki laki pun masuk sambil mendorong sebuah kardus yang berbentuk kado. Vano mengamati dari sela sela pintu lemari yang tidak dia tutup rapat.
"Ayo kita angkat dia ke ranjang." ucap salah satu laki laki yang membawa kardus itu pada teman temannya.
Mereka pun segera mengeluarkan Vanya dan hal itu membuat Vano melotot tak terima karena istrinya di pegang oleh laki laki lain.
"Oh, berani sekali mereka pegang pegang bini gw. Awas aja nanti kalian bakal gw abisi." batin Vano kesal sekaligus cemburu.
"Tapi baguslah kalau Vanya di letakkan di kamar ini jadi gak sia sia gw berusaha masuk ke sini." lanjutnya.
Vano pun terus memantau apa yang akan mereka lakukan pada bininya. Pokoknya jangan sampai dia kecolongan.
"Ayo kita keluar."
Mereka pun keluar setelah memastikan Vanya aman di sana, tak lupa juga mereka mengunci pintu agar Vanya tidak kabur.
Vano dia masih di dalam lemari, sedangkan Vanya mulai membuka matanya dan mengintip keadaan sekitar.
"Sepertinya sudah aman." gumam Vanya.
"Hufft... terus sekarang gw harus ngapain, mana ponsel gw di ambil lagi." lanjut Vanya menggerutu kesal.
"Aish...gw bosen."
"Vano mana sih, gak tahu apa kalau gw sendirian di sini."
"Jangan jangan dia gak cariin gw lagi." monolog Vanya.
"Awas aja nanti kalau dia gak nyariin aku, aku bejek bejek nanti." kesal Vanya sambil meninju bantal yang ada di sana sebagai pelampiasan nya.
"Aaaa... Vano gw kangen sama Lo." rengek Vanya sambil mengigit bantal yang tadi dia tinju.
Grep.
Tiba tiba ada seseorang yang memeluk Vanya dari belakang yang membuat tubuh Vanya seketika mematung dan...
"Aaa... hmmtt.."
...***...
__ADS_1