My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 85


__ADS_3

"Emang kamu sudah sadar sejak kapan?"


"Emmm... berapa ya... kayaknya enam bulan yang lalu deh." jawab Farrel santai.


"WHAT."


"Kamu kenapa?"tanya Farrel khawatir.


"Kakak udah sadar dari enam bulan yang lalu dan Vanya baru tahu sekarang. Kenapa gak ada yang ngasih tahu Vanya dari dulu sih, kakak tahu gak Vanya sering nangis kalau ingat kakak dan tahu tahunya kakak udah sadar dari dulu." marah Vanya.


"Princess jangan salah, kakak emang sadar tapi jantung kakak masih bermasalah dan harus melakukan perawatan yang serius. Dan baru satu Minggu ini kakak di nyatakan sembuh total oleh dokter yang menangani kakak." jelas Farrel agar Vanya tidak marah.


"Trus kenapa juga Vanya kalau mau ketemu kakak kata papa Vanya harus ikut olimpiade dulu biar bisa ketemu kakak, dan Vanya juga harus belajar kalau gak belajar papa gak akan biayain rumah sakit kakak." Vanya mengeluarkan unek-unek yang ada di pikirannya selama ini.


"Kalau soal itu sih kamu aja yang bodoh, mau aja di bodohin sama papa kamu. Kalau papa kamu gak mau biayain rumah sakit kakak, kamu gak lupakan kalau kakak ini orang kaya ya pasti kakak bisa lah biayain biaya rumah sakit kakak sendiri."


"Oh iya ya, kenapa Vanya bodoh." ucap Vanya yang membenarkan apa kata Farrel.


"Trus kenapa Vanya di larang buat ketemu kakak?" lanjut Vanya.


"Kalau soal itu kakak gak thu, mungkin itu juga demi keamanan kita."


Ceklek.


"Vanya ayo kita pulang." ucap papa Wijaya setelah memasuki kamar rawat Farrel.


"Tapi pa..."


"Gak ada tapi tapian, cepat ambil tas kamu kita segera berangkat sekarang papa gak suka di bantah." ucap papa Wijaya.


"Huh, baiklah." akhirnya Vanya pun menurut saja.


Sedangkan Farrel hanya tersenyum tipis saja, dia tahu gimana kerasnya papa Wijaya dalam mendidik Vanya.


"Tapi kakak gimana?" ucap Vanya lagi.


"Kakak gapapa di sini sendiri kan kakak udah terbiasa." jawab Farrel meyakinkan Vanya agar mau pulang.


"Ya udah Vanya pulang dulu besok sepulang dari sekolah Vanya ke sini samperin kakak sambil bawain makanan kesukaan kakak." ucap Vanya.


Farrel hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sambil mengelus rambut Vanya.


"Udah ayo pulang." ajak papa Wijaya.


"Iya papa, sabar napa sih. Orang sabar tuh di sayang tuhan."


"Gak ada kata sabar dalam menghadapi sikap kamu dalam kamus papa."


Vanya pun mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan papanya.

__ADS_1


"Udah gak usah monyong gitu bibir, udah sana pulang." Farrel mengejek Vanya.


"Kakak usir Vanya."


"Kakak gak ngusir kamu, cuma kasian tuh paman udah nungguin kamu."


"Alasan." ucap Vanya ketus.


"Dih."


"Udah gak usah ribut kita pulang sekarang. Farrel paman pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa kamu telfon paman." ucap Wijaya.


"Iya paman." jawab Farrel.


"Kakak udah pegang ponsel, kok gak ada hubungin Vanya sih." protes Vanya.


"Udah ayo kita pulang, nanti papa kasih nomor kak Farrel nya." menyeret tangan Vanya keluar ruang rawat Farrel.


"Kakak Vanya pulang dulu daaa..."teriak Vanya sebelum tubuhnya menghilang di telan pintu.


"Makin gede bukannya tambah dewasa malah bikin orang gemes aja." gumam Farrel sambil menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Farrel.



-


Pagi hari di bandara internasional Fiumicino Vano berjalan memasuki bandara di antar oleh sopir yang di tugaskan oleh Om Leo untuk mengantar Vano.



...(gimana kalian oleng gak😂)...


"Saya pamit dulu." ucap Vano datar pada bodyguard yang mengikutinya sedari tadi.


"Hati hati tuan muda." jawab bodyguard itu.


Vano pun melangkah memasuki jet pribadi milik keluarga William yang baru datang untuk menjemput pulang ke Indonesia.


"Apakah sudah siap tuan?" tanya pramugari kepada Vano yang sudah duduk anteng di dalam pesawat.


"Bentar." jawab Vano.


Vano pun mengotak atik handphonenya sebelum dia non aktifkan sambil mengintruksi pramugari dengan jarinya supaya pergi meninggalkannya sendiri. Pramugari itu pun langsung mengerti apa yang Vano maksud dan segera pergi meninggalkan Vano.


"Halo Lang." Vano mengawali pembicaraan setelah telepon tersambung.


"Iya ada apa Van?" tanya Galang dalam sambungan telepon.


"Lo ada di mana sekarang?" tanya Vano.

__ADS_1


"Gw ada di markas, nih lagi nongkrong sama anak-anak setelah kabur dari sekolah tadi."jawab Galang yang masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Lo siapin tempat buat kita eksekusi si curut yang udah habisin si Yoyon. Gw udah mau terbang ke indo sekarang." perintah Vano.


"Seriusan lo udah mau pulang Van?"


"Hmm."


"Oke bakal gw dan anak anak siapin tempatnya."


"Bagus, Oh iya lo harus siapin tempatnya dua lokasi. Yang satu buat anggotanya yang satunya lagi buat ketuanya."


"Oke siap, lo tinggal terima beres aja."


"Satu lagi, kalian harus siapkan badan kalian agar tetap fit, palingan gw sampai di sana tengah malam dan nanti gw langsung ke sana dan kita briefing terlebih dahulu." tambah Vano lagi.


"Siap bos." jawab Galang semangat.


"Ya udah gw matiin dulu." tanpa menunggu jawaban dari Galang, Vano seperti biasa langsung mematikan sambungan telepon.


Tut.


Setelah menghubungi Galang sekarang Vano menghubungi anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengawasi Vanya.


"Halo tuan." sapa anak buah Vano.


"Tetap pantau dan awasi Vanya kemanapun dia pergi, terutama kalau dia pergi menemui laki laki yang kemarin lagi. Setelah itu laporkan semuanya kepada saya."Perintah Vano.


"Baik tuan."jawab patuh anak buah Vano.


Tut.


Vano menutup telepon seperti biasanya tanpa menunggu orang yang ada di sebrang sana berbicara, mungkin ini sudah menjadi kebiasaan Vano.


Setelah itu Vano menonaktifkan ponselnya dan menaruhnya ke dalam tas yang dia bawa.


"Apakah sudah siap tuan?" pramugari yang tadi menghampiri Vano lagi setelah melihat bahwa Vano telah menyelesaikan panggilannya.


"Hmm." jawab Vano.


Pramugari itu pun hanya tersenyum amat sangat manis dan berlalu pergi meninggalkan Vano dengan jalan berlenggak lenggok layaknya model, tapi Vano tidak merespon atau pun memandang pramugari itu sejengkal pun.


Pesawat yang di tumpangi Vano pun mengudara menuju Indonesia, di mana terdapat wanita cantik yang sekarang berkeliaran di otak bahkan namanya sudah terukir indah di hati Vano.


-


Setelah pulang dari sekolah Vanya masih dengan menggunakan seragam sekolahnya dia pergi ke rumah sakit sambil menenteng rantang Tupperware yang berisi makanan kesukaan Farrel yang dia masak sendiri dengan perasaan.


"Assalamualaikum kakaknya Vanya..."

__ADS_1


...***...


__ADS_2