My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 286 ( End)


__ADS_3

"VIANO." teriak Vanya memangil anaknya.


"Apa sih yank, pagi pagi udah teriak teriak aja." ucap Vano yang baru keluar dari kamar mandi.


"Anak kamu tuh nakal banget, masak bedak baru aku beli kemarin udah gak ada di tempatnya." omel Vanya.


"Kamu lupa kali menaruhnya." balas Vano.


"Gak mungkin aku lupa, orang jelas jelas habis aku pakai kemaren aku taruh di tempatnya kok."


"Ya udah kamu beli yang baru lagi aja, kasian lo anaknya setiap pagi harus kamu omelin."


"Ya siapa suruh nakal."


"Mommy...." pangil Vian dari kamarnya yang terletak di samping kamar Vanya dan Vano.


"Tuh di pangil sama anaknya, sana samperin." suruh Vano.


"Hufft...." hela nafas Vanya sebelum menemui anaknya yang ganteng itu.


"Mommy...." teriak Vian lagi lantaran Vanya tak datang datang juga.


"Iya kenapa?" tanya Vanya menghampiri kamar anaknya.


"Pakaiin." pinta Vian menyodorkan celananya.


"Katanya udah besar kok masih minta bantuin mommy." balas Vanya, tapi tetap membantu anaknya memakai celana sekolahnya.


Ya, sekarang sudah empat tahun berlalu, Vian sudah masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Dan sikapnya makin hari makin menjadi aja, hingga rasanya Vanya ingin sekali menjual anaknya itu.


"Ya kan Vian belum jago mommy." balas Vian.


"Kalau belum jago kenapa nakal hmm?"


"Vian gak nakal, Vian anak yang baik kok." bantah Vian tak terima di bilang nakal.


"Kalau anak baik kenapa kamu suka ambil makeup mommy, kan mommy pusing mencarinya."


"Vian gak ngambil mommy, Vian cuma pinjem sebentar, nanti Vian balikin kalau udah selesai." balas Vian.


"Emang kamu pakai buat apa makeup mommy?" tanya Vanya penasaran.


"Vian pakai buat gambar." jawab Vian polos.


"Kan itu mahal sayang, kalau kamu mau gambar kan bisa pakai krayon." ujar Vanya berusaha memberikan pengertian buat anaknya.


"Gak mau, kalau pakai krayon jelek Vian gak suka." tolak Vian.


Hufft....


Lagi dan lagi Vanya menghela nafasnya, dia harus selalu bersabar dalam menghadapi anaknya yang ganteng ini.


"Gimana kalau Vian minta Daddy buat beliin Vian cat lukis aja." usul Vanya.

__ADS_1


"Cat?"


"Iya cat buat melukis kayak yang di video Vian yang waktu itu kasih tahu ke mommy. Vian mau?" tawar Vanya.


"Iya iya Vian mau." antusias Vian.


"Tapi harus janji dulu sama mommy, kalau Vian gak boleh gambar pakaian makeup mommy lagi."


"Iya mommy.


Eemmuah.


Vian mengecup pipi Vanya.


"Nah gitu dong, itu baru anak mommy yang ganteng." puji Vanya.


"SAYANG...." teriak Vano memangil Vanya dari kamarnya.


"IYA BENTAR." jawab Vanya tak kalah berteriak juga.


"Mommy lihat Daddy dulu ya, kamu turun aja ke meja makan nanti mommy sama Daddy nyusul." perintah Vanya.


"Siap mommy." balas Vian.


Vanya pun segera kembali ke dalam kamarnya untuk melihat bayi besarnya. Beginilah kegiatan pagi Vanya, dia akan mengurus bayi besar dan bayi nakal. Untung aja dulu Vanya memilih untuk tidak melanjutkan kuliah, coba kalau iya makin pusing dia.


"Ada apa?" tanya Vanya setelah memasuki kamar.


"Ya di tempat biasanya, kan tadi udah aku siapin." jawab Vanya.


"Gak ada, aku udah cari di mana mana."


Hufft....


hela nafas Vanya lagi.


Vanya pun berjalan menuju tempat di mana dia tadi meletakkan jam tangan Vano, dia melihat jam tangan itu masih berada di tempat du mana dia meletakkan tadi.


"Ini apa?" ucap Vanya sambil memberikan jam tangan itu pada Vano.


"Hehehe mungkin aku gak lihat." kilah Vano.


"Hmm." balas Vanya.


"Ayo cepat turun, anakmu udah nunggu di bawah." ajak Vanya dan pergi duluan untuk melihat keadaan anaknya.


"Mommy Vian makan ini ya." tujuk Vian pada piring yang ada di hadapannya.


"Iya terserah kamu, siapa tadi yang ngambilin?" tanya Vanya.


"Om jomblo." jawab Vian.


"Hah." cengoh Vanya.

__ADS_1


"Iya Om jomblo, itu loh." tujuk Vian ke arah dapur.


Vanya mengikuti arah tangan mungil Vian, dia melihat di sana ada Lucas yang berjalan dari arah dapur.


"Loh kamu kapan ke sini?" tanya Vanya pada Lucas yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.


"Baru saja." balas Lucas.


"Om jomblo nanti nanti anterin Vian ke sekolah ya." pinta Vian pada Lucas.


"Hmm." balas Lucas.


"Selamat pagi semua." sapa Vano.


"Pagi juga Daddy." balas Vian.


"Pagi." balas Vanya dan Lucas.


"Lo udah di sini aja pagi pagi." ucap Vano pada Lucas.


"Iya tadi mau numpang makan." balas Lucas.


Setelah itu mereka pun makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara hingga selesai.


"Om jomblo ayo berangkat." ajak Vano.


"Ayo." balas Lucas.


"Mommy, Daddy Vian pamit sekolah dulu ya, Assalamualaikum." pamit Vian dan menciumi pipi orang tuanya serta tak lupa salim pada Vanya dan Vano.


"Waalaikum salam, jangan nakal." balas Vanya dan Vano memperingati anaknya itu.


"Iya mommy." balas Vian dan berlalu dari sana sambil menyeret tangan Lucas.


Jika kalian bertanya kenapa Vian manggil Lucas dengan sebutan Om jomblo, itu karena status Lucas yang dari dulu tetap jomblo. Bahkan setelah lama liburan entah di mana itu Lucas ternyata belum juga menemukan tambatan hatinya. Vano dan yang lainnya padahal sudah mengira kalau Lucas gak pulang pulang itu karena kecantol sama cewek yang ada di sana, ehh tau nya pulang tapi tetap jomblo.


Awal awal Lucas gak suka kalau Vian memangilnya dengan sebutan Om jomblo, tapi lama kelamaan Lucas sudah tidak memperdulikan lagi. Lucas sangat menyayangi dan memanjakan Vian layaknya anak sendiri, oleh karena itu Vian bisa sangat dekat dengannya.


Bahkan Vian yang usianya masih empat tahun itu ketika liburan sering Lucas bawa ke Italia menemui papanya. Papa leo jangan di tanya, pasti dia juga sangat menyayangi Vian melebihi sayangnya pada Lucas.


Begitulah cerita kehidupan Vano, Vanya dan teman temannya. Mereka sekarang sudah bahagia dengan pasangan mereka masing-masing, tapi tidak dengan Lucas yang masih tetap setia dengan status jomblonya.


Tak ada lagi orang yang mengusik kehidupan mereka seperti dulu, jika kalian bertanya di mana Kia dan Tasya, jawabannya adalah mereka sudah pergi menyusul Cindy. Mereka berdua memutuskan untuk bunuh diri karena tak kuat menjalani kehidupan di negara sana.


...End...


Cinta memang bisa membutakan mata, tapi cinta juga bisa menjadi mata bagi orang yang buta.


Sahabat sejatinya memang orang yang paling dekat dan paling kita percaya, tapi ada kalanya sahabat juga akan jadi musuh paling berbahaya bagi kita.


Pesan author, jangan terlalu mengumbar semua tentang kamu pada orang terdekat kamu, belum tentu orang itu akan selalu berada di pihak kamu.


Happy reading dan sampai jumpa lagi di cerita author yang lainnya 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2