
"Ra-Rangga." kaget Vanya saat melihat siapa orang yang ada di balik jubah itu.
Rangga pun langsung tersadar kalau penutup kepalanya ternyata terbuka.
"Oh lo udah tahu, bagus lah." santai Rangga menutupi keterjutannya.
"Kenapa lo tega lakuin ini sama gw, bukannya lo itu sahabat Vano?" tanya Vanya tak menyangka.
"Hahahaha....apa lo bilang, sahabat?"
"Pantaskah di sebut sahabat di saat orang itulah yang menyebabkan satu satunya adik tersayangnya meninggal." lanjut Rangga sambil tertawa seperti orang gila.
"Maksud kamu apa?" tanya Vanya gak ngerti.
"Asal lo tahu...."
Brak.
Belum selesai Rangga berbicara tiba tiba pintu gudang sudah di dobrak oleh beberapa orang.
"Pengawal." pangil Rangga pada anak buahnya yang tadi dia suruh jaga di depan.
"Lo manggil siapa Ngga, gak ada pengawal Lo." balas Vano yang baru memasuki gudang itu.
"Vano, Lo." kaget Vanya dan Rangga yang melihat kehadiran Vano di sana.
"Iya sayang ini aku, aku bakal bawa kamu pulang dari nih orang gila." balas Vano menatap Vanya.
"Da-dari mana lo tahu tempat ini?" tanya Rangga gagap.
"Itu mudah buat gw." balas Vano.
"Cih." decih Rangga.
"Lo lepasin Vanya dan lo gw bebasin." ucap Vano memberikan Rangga pilihan.
"Itu gak akan pernah, gw gak takut sama Lo." tantang Rangga.
"Oke kalau itu mau Lo, sebenarnya sih gw gak tega kalau sampai bikin lo luka. Kan lo temen gw, ehh salah maksud gw mantan temen." balas Vano.
"Cih temen, mana ada temen yang menyiksa adik temennya." ucap Rangga.
"Maksud lo?" tanya Vano bingung, sejak kapan Rangga punya adik, seingat Vano Rangga adalah anak tunggal yatim-piatu.
__ADS_1
"Gak usah sok gak tahu Lo, lo tahu kan kalau Selly itu suka sama Lo tapi lo tolak dia dan dia memilih bunuh diri setelah menyatakan cintanya kepada Lo." jelas Rangga.
"Bukannya lo suka sama Selly, gw kira lo dendam sama gw gara gara lo suka sama Selly." balas Vano yang baru mengetahui kalau Selly itu ternyata adalah adik Rangga.
"Iya gw pernah bilang sama lo kalau gw suka Selly. Tapi itu permintaan Selly sendiri, dia ingin tahu apakah lo akan cemburu atau enggak. Tapi nyatanya lo malah yang bikin dia mengakhiri hidupnya." balas Rangga sedih mengingat adik satu satunya meninggal dunia.
"Tunggu deh, kalau dia adek lo berarti kalian kembar dong?" tanya Vano lagi pasalnya usia mereka sama.
"Dia bukan adik kandung gw, dia adik gw di panti." balas Rangga.
"Sorry Ngga, gw gak bermaksud bikin dia sakit hati. Lo kan tahu kalau cinta itu gak bisa di paksa." ujar Vano.
"Gw gak mau tahu itu, yang pasti nyawa harus di balas dengan nyawa." marah Rangga.
"Ngga lo gak boleh lakuin itu, ingat masa depan lo masih panjang." ujar Vanya berusaha membujuk Rangga agar kembali ke jalan yang benar.
"Diem Lo, ini semua juga salah Lo. Kalau lo gak ada mungkin Vano bisa sama adik gw." balas Rangga malah menyalahkan Vanya, padahal kan Vanya kenal Vano saat mereka SMA, itu pun dulu tidak terlalu dekat.
-
Sementara di luar sana, Farrel, Lucas dan yang lain tengah bertarung melawan anak buah Rangga. Ternyata benar-benar dugaan Vano, villa itu sudah di kelilingi banyak anak buah Rangga.
Saat Lucas dan yang lainnya datang, satu persatu anak buah Rangga keluar dari persembunyiannya. Untung saja Vano sudah merancang rencana ini jauh jauh hari sebelum kejadian.
Tadi Farrel memang lewat belakang, tapi dia melihat Lucas yang keteteran di pintu depan, alhasil Farrel pindah membantu Lucas karena di pintu belakang tidak terlalu banyak penjaganya dari pada di depan.
"Ya udah gw ke dalam dulu." balas Farrel.
Farrel pun masuk ke dalam dengan hati hati agar tidak terkena pukulan dari orang orang yang tengah bertarung di sana.
-
Sementara itu sekarang Sonya tengah termenung di kamarnya, dia kepikiran soal Galang. Sonya masih belum terima jika Galang yang melakukan itu.
"Kenapa harus kamu sih, kenapa." teriak Sonya frustasi.
Untung aja kamarnya kedap suara jadi tidak ada yang bisa mendengar teriakkannya dari luar.
"Lo jahat banget Lang, lo jahat." teriak Sonya lagi kali ini sambil menusuk nusuk foto Galang mengunakan pisau kecil.
"Gw harus samperin Galang, iya gw harus samperin Galang." gumam Sonya.
Sonya pun segera beranjak berganti pakaian dan mencuci mukanya agar tidak kelihatan kalau dirinya habis menangis.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup, Sonya keluar dari kamarnya. Beruntungnya dia tidak mendapati kedua orang tuanya di sana, alhasil dia pun langsung melenggang pergi meninggalkan rumah menggunakan mobilnya.
Tak lupa Sonya memakai kaca mata hitam miliknya agar matanya yang sembab habis menangis tidak kelihatan. Sonya memacu mobilnya menuju mansion Vano untuk menanyakan keberadaan Galang.
Sampai di mansion Vano, dia tidak mendapati orang orang di sana. Asisten pelayan Sri bilang kalau Vano dan yang lainnya udah pergi.
Karena tak mendapatkan petunjuk, Sonya pun nekat memilih datang ke rumah kedua orang tua Vano, karena Sonya yakin pasti orang tua Vano tahu di mana letak Galang di sembunyikan.
-
Farrel masuk mencari di mana keberadaan Vano, dan dia mendengar ada keributan dari arah ruangan yang tepatnya berada paling belakang sendiri. Farrel pun segera melangkah menuju arah keributan tersebut dan segera masuk ke sana.
"Rangga." kaget Farrel saat melihat ada Rangga di sana.
"Oooh lo ternyata ke sini bawa pasukan Lo." ucap Rangga.
"Kenapa lo takut hadapi gw sendiri." lanjut Rangga menantang Vano.
Rangga pun maju mendekati Vano dan tangannya yang satu mengambil sesuatu dari bagian tubuh belakangnya.
Vanya yang berada di belakang Rangga pun melihat apa yang Rangga ambil, ternyata itu adalah sebuah pistol. Vanya pun panik dan segera berdiri dari bangku dan melepaskan semua tali yang dia ikatkan sendiri di tubuhnya.
Vanya berjalan sangat pelan untuk menggagalkan rencana Rangga, hingga dia sampai di belakang Rangga persis dan hendak merebut pistol Rangga.
Rangga yang merasa ada seseorang di belakangnya pun menengok ke belakang dan mendapati Vanya di sana. Vano panik saat melihat posisi Rangga dan Vanya yang terlalu dekat, apalagi sekarang Rangga membawa pistol.
"Vanya." panik Vano berlari menyahut Vanya ke dalam pelukannya sebelum Rangga berhasil mendapatkan Vanya.
Sekarang posisi Vano dan Vanya saling berpelukan satu sama lain, Vano membawa Vanya agak menjauh dari Rangga.
"Ooh baguslah kalau kalian berdua kayak gitu, biar gw mudah bunuh kalian berdua." ucap Rangga dengan wajah yang sangat menyeramkan seperti psikopat, ini sangat bukan Rangga yang biasanya.
Rangga menggangkat pistolnya dan mengarahkan pada Vano dan dan Vanya.
"Ngga lo jangan main main Ngga, itu pistol bukan mainan." ucap Farrel berusaha mendekati Rangga.
"Lo jangan mendekat, atau gw bunuh mereka sekarang." ucap Rangga melarang Farrel mendekat.
Rangga menarik pelatuk pistolnya dan....
DOR DOR DOR.
"Aaa...."
__ADS_1
...***...