
Sekarang mereka semua kecuali papa William tengah berada di gazebo belakang rumah papa William. Mereka tengah menikmati rujak mangga muda yang Vanya dan mama Fara bu, lebih tepatnya Vanya dan mama Fara sih yang buat karena Vano hanya bermanja-manja pada Vanya saja. Sedangkan Vino hanya mencicipi sekali saja, setelah tahu kalau itu asam dia tak mau lagi.
Posisi Vano sekarang tengah tiduran dengan paha Vanya sebagai bantal dan handphone yang ada di tangannya.
"Aaaa..." Vanya akan menyuapi Vano satu potong mangga muda beserta bubu rujaknya.
Vano yang fokus pada game yang dia mainkan sampai sampai dia tidak sadar apa yang Vanya masukkan ke dalam mulutnya.
"Beweh..minum." Vano membuang mangga muda yang sudah dia kunyah ke sembarang arah, setelah itu dia meminum minuman yang sudah di sediakan di sana.
"Kenapa, kamu kepedesan?" tanya Vanya.
"Kepedesan sih enggak, keasaman yang iya." jawab Vano dan melanjutkan acara ngegame nya.
"Masak sih, orang enak kayak gini kok." ujar Vanya menikmati rujak mangga muda itu.
"Dih enak apanya. Kamu juga jangan makan banyak banyak nanti perutnya sakit." peringat Vano.
"Iya, orang ini juga cuma sedikit kok gak banyak."
"Tumben banget sih kamu makan pedas, bukannya kamu gak suka pedas ya?" heran Vano mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah Vanya sebentar.
"Gak tahu, tiba tiba kepengen aja."jawab Vanya.
Mereka mengabaikan dua orang yang ada di sana, yang tak lain mama Fara dan Vino.
"Kak Vano minggir, aku mau duduk sama kakak cantik." usir Vino pada Vano.
"Gak mau." tolak Vano.
"Iiih kak Vano mah gitu, kakak cantik kan kakaknya Vano."
"Tapi dia istrinya kakak." balas Vano.
"Iiiiihhh, mama..." rengek Vino meminta pertolongan pada mama Fara.
"Vano kamu ngalah aja deh sama adeknya." ujar mama Fara.
"Gak mau, orang aku lagi pw gini kok." tolak Vano dengan tangan yang sibuk di layar ponselnya.
"Mama...." rengek Vano lagi.
"Bee, kamu minggir dulu ya, kasian tuh mau nangis." perintah Vanya dengan lembut.
"Gak mau." kekeh Vano.
"Kamu gak kasian sama adek kamu?"
"Enggak." jawab Vano bodo amat.
"Mama Huuwaaaa..." tuh kan Vino jadi mengeluarkan jurusnya.
__ADS_1
"Vano kamu ngalah deh." sentak mama Fara yang sudah jengah dengan kelakuan kedua anaknya.
"Gak mau ya gak mau." balas Vano dengan nada yang agak tinggi.
"VANO..."bentak Vanya, karena dia gak suka Vano membantah mama Fara.
"Terus aja aku yang ngalah. Gak bisa apa aku seharian senang gitu." ucap Vano dan segera bangkit dari posisi tidurannya.
Vano pergi dari sana dengan perasaan dongkol.
"Vano." pangil mama Fara yang tak di hiraukan oleh Vano.
"Hufft...anak itu." hela nafas mama Fara.
"Kamu yang sabar ya sayang ngarepin sifat Vano yang kayak gitu." lanjut mama Fara.
"Iya ma." balas Vanya sambil tersenyum.
"Tuh kak Vanonya udah pergi, katanya tadi mau duduk di samping kakak cantik." ujar mama Fara sambil mengelus rambut Vino yang masih sesenggukan.
"Hiks hiks hiks kak Vano marah ya sama Vino."ucap Vino.
"Enggak kok kak Vano gak marah, sini duduk sama kakak." ajak Vanya.
Vino pun menurut dan duduk dengan tenang di sana. Sambil mendengarkan obrolan obrolan mamanya sama kakak cantik.
"Mama udah gak kuat sayang, asem banget." nyerah mama Fara dalam makan rujak mangga muda.
"Yah mama payah, masak gitu aja nyerah sih. Padahal enak loh."
"Hah, ya gak mungkin lah ma, orang Vanya sama Vano menunda untuk punya anak kok." sanggah Vanya.
"Padahal mama sudah berharap banget dapat cucu dari kalian."
"Maaf ma..." lirih Vanya merasakan tidak enak.
"Ehh gak usah merasa bersalah gitu, mama ngerti kok. Lagian kalian kan juga masih sekolah, jadi puas puasin aja dulu mainnya sebelum ada baby di tengah tengah kalian."
"Udah ahh, kamu jangan sedih lagi. Tuh kamu lanjutkan makan rujaknya." lanjut mama Fara agar Vanya tidak merasa bersalah.
"Iya ma."
Vanya pun menghabiskan rujak mangga muda itu sampai habis tak tersisa, bahkan setetes bubu rujaknya pun tak ada saking lahapnya Vanya.
-
Vano yang berada di dalam kamar pun uring iringan tidak jelas. Ingin rasanya Vano membunuh seseorang, tapi itu gak mungkin dia lakukan sekarang.
"Iiihh kenapa aku gak di bujuk sih." kesal Vano yang tak mendapati istrinya mengikuti dirinya ke kamar.
"Awas aja nanti malam."
__ADS_1
"Dasar adek laknat, gak bisa apa liat kakaknya senang dikit." Vano mengumpati Vino.
Karena kesal, Vano pun memutuskan untuk pergi saja dari rumah ini. Dia mengambil kunci mobil serta tas sekolah dia dan Vanya untuk di bawa pulang.
Dengan langkah lebar Vano berjalan menuju belakang rumah orang tuanya untuk memanggil istrinya.
"Yank ayo pulang." teriak Vano memangil Vanya dari pintu keluar rumah.
"Loh kok pulang sih, aku kan masih mau di sini." ucap Vanya.
"Ya udah." setelah mengatakan itu Vano pergi keluar menuju mobilnya.
"Van, suami kamu ngambek tuh, sono susulin." ujar mama Fara.
"Tapi kan Vanya masih mau di sini ma..."
"Kamu bisa ke sini lagi kan besok, dari pada Vano uring uringan kayak gitu, pusing mama lihatnya."
"Hufft baiklah, ya udah ma Vanya pergi dulu. Assalamualaikum." pamit Vanya menyalami serta cipika-cipiki dengan mama Fara.
"Waalaikum salam, kamu hati hati ya."
"Iya ma."
"Vino kakak cantik pulang dulu ya, nanti kapan kapan kakak ke sini lagi." pamit Vanya pada Vino yang tengah duduk sambil bermain handphone.
"Yah, padahal kan Vino tadinya mau minta ajarin kakak belajar menghitung." sedu Vino.
"Maaf ya, lain kali kalau kakak ke sini lagi. Kita belajar sama sama di kamar Vino ya."
"Ya udah deh."
"Ya udah kalau gitu kakak cantik pergi dulu ya. Dadaaahh."
"Dadaaahh kakak cantik." balas Vino.
"Vanya pergi dulu ma." pamit ulang Vanya.
"Iya, hati hati di jalan."
"Iya ma." Vanya pun berjalan setengah berlari untuk mengejar Vano yang sudah keluar rumah terlebih dahulu.
-
Posisi Vano, dia tengah mengamati pintu mobilnya apakah ada yang lecet atau tidak setelah aksi pintar istrinya tadi.
"Hufft...untung aja gak lecet." lega Vano.
"Kenapa kalau lecet?" tanya Vanya dari belakang Vano.
"Ehh, Anu..." kaget Vano sekaligus bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Katanya sultan, masak mobil lecet aja takut." sindir Vanya dan segera masuk ke dalam mobil.
...***...