My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 238


__ADS_3

"Anda lupa siapa saya." ucap datar Vano yang seketika membuat nyali Roby menciut.


"Silahkan anda keluar dari sini dan jangan kembali lagi." lanjut Vano mengusir pak Roby.


"Kamu gak bisa seenaknya main usir saya, saya punya saham di sini jadi saya berhak ada di sini." tak terima pak Roby atas tindakan Vano.


"Saham? Cih saham cuma sepuluh persen aja berani buat ribut. Saya beli saham anda."


"Asisten Rudi urus saham itu." lanjut Vano mengutus asisten Rudi untuk mengurus pembelian saham pada pak Roby.


"Segera saya laksanakan tuan." balas asisten Rudi.


"Gak bisa gitu, saya gak mau menjual saham saya di perusahaan ini." sangah pak Roby.


"Yakin anda gak mau." menetap penuh ancaman.


"Romi pangil penjaga suruh bawa dia keluar dari sini." perintah Vano pada Romi.


"Baik tuan." balas Romi.


"Gak perlu, saya bisa keluar sendiri." ucap pak Roby menghentikan langkah Romi yang akan memanggil penjaga.


"Baguslah, silahkan keluar pintunya ada di situ." balas Vano menunjuk pintu keluar.


Pak Roby pun keluar dengan perasaan campur aduk antara marah dan kesel lantaran rencananya gagal. Apalagi sumber kekayaannya dari perusahaan ini sekarang sudah tidak ada jadi dia harus mencari sumber kekayaan lagi yang pendapatannya besar seperti perusahaan ini.


"Ada lagi yang mau menjual sahamnya?" tanya Vano setelah pak Roby keluar.


Para pemilik saham pun hanya diam saja tak ada yang berani menjawab ucapan Vano. Karena penghasilan dari tanam saham di perusahaan ini sangatlah besar dari pada perusahaan perusahaan yang lain.


"Kalau ada dengan senang hati saya akan membelinya." lanjut Vano.


"Kenapa kalian diam?"


"Ti-tidak ada tuan." balas salah satu dari pemilik saham.


"Padahal kalau ada saya akan membelinya dengan harga yang tinggi."


-


Sementara di mansion Vano, Sri tengah berusaha membujuk nyonya-nya agar mau sarapan lantaran dari pagi Vanya belum makan. Jangankan sarapan, Vanya aja dari masuk kamar tadi sampai sekarang belum keluar kamar lagi. Apa lagi dia mengunci pintu kamarnya dan tak membiarkan Sri masuk.


Tok tok tok.


"Nyonya buka pintunya, nyonya harus makan. Nanti kalau nyonya gak makan tuan akan marah." bujuk Sri dari depan pintu kamar Vanya.

__ADS_1


"Gak mau hiks hiks, aku mau makan kalau Vano yang suapin hiks hiks." balas Vanya masih menangis sedari tadi.


"Tapi nyonya tuan lagi meeting jadi tidak bisa di hubungi."


"Enggak kamu bohong, pokoknya aku mau makan kalau Vano yang suapin, titik."


"Aduh gimana ini, apa iya aku harus telfon tuan." gumam Sri bingung.


"Tapi kalau gak telfon tuan nanti nyonya gak bakal mau makan." lanjutnya.


Akhirnya Sri pun memutuskan untuk menelfon Vano, dia berdoa semoga saja Vano tidak marah nanti.


"Permisi tuan handphone anda bunyi." ujar Romi menyela ucapan Vano yang tengah menjelaskan sesuatu pada orang orang yang hadir dalam acara meeting pagi ini.


"Sebentar saya angkat telfon dulu." ijin Vano dan agak menjauh dari sana untuk menerima panggilan telepon dari Sri.


'Halo tuan.' sapa Sri.


'Iya ada apa kamu telfon saya?' balas Vano.


'Ini tuan nyonya ngambek gak mau makan.'


'Kok bisa, kamu gimana sih istri saya lagi hamil bisa bisanya gak kamu beri makan.' Vano ini memang orang jenius, tapi kalau sudah menyangkut tentang Vanya dia seketika akan menjadi orang yang bodoh.


'Bu-bukan begitu tuan, nyonya gak mau makan kalau tuan gak ada di sini. Nyonya mau di suapin oleh tuan. Bahkan sekarang nyonya mengurung diri di kamar sambil menangis.' jelas Sri.


Tut.


Vano segera kembali ke tempatnya semula dan membereskan barang-barangnya.


"Asisten Rudi saya mau pamit pulang dulu karena ada masalah di mansion, tolong gantikan saya dalam meeting kali ini." pinta Vano.


"Baik tuan."


Vano pun segera keluar dari sana tanpa pamit ke yang lainnya terlebih dahulu. Vano berjalan setengah berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Para karyawan perusahaan pun terheran heran dengan sikap Vano yang seperti tengah mencemaskan sesuatu.


Vano segera mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi menuju mansionnya. Vano sangat mencemaskan keadaan Vanya di rumah, Vano takut Vanya melakukan sesuatu hal yang sangat membahayakan kesehatannya dan juga bayinya.


Sampai di mansion Vano memarkirkan mobilnya sembarangan dan segera berlari masuk untuk melihat keadaan istrinya.


"Tuan." pangil Sri.


"Di mana nyonya?" tanya Vano khawatir.


"Nyonya ada di kamar tuan, ini kunci serep nya. Saya tadi mau membukanya takut enggak sopan." jawab Sri.

__ADS_1


Tanpa menjawab Vano segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya, setelah sampai di lantai atas Vano segera membuka pintu kamarnya dengan menggunakan kunci serep.


"Sayang." pangil Vano.


"Vano." balas Vanya dan segera turun dari ranjang dan berlari berhambur ke pelukan Vano.


"Hiks hiks hiks." tangis Vanya yang tadinya sudah reda pun menangis kembali.


"Hei kenapa, kok nangis?" mengelus punggung serta menciumi rambut Vanya dengan sayang.


"Kamu jahat, kamu tinggalin aku sendiri hiks hiks hiks." ucap Vanya dalam pelukan Vano.


"Cup cup udah udah ya jangan nangis, aku tadi pergi ke kantor karena ada meeting penting. Aku gak ninggalin kamu, mana mungkin sih aku ninggalin istriku yang cantik ini. Apalagi sekarang ada babynya di sini." melonggarkan pelukannya dan mengelus perut Vanya.


"Bohong, kalau kamu pergi ke kantor kenapa gak pamit dulu sama aku."


"Kamu jahat jahat jahat." memukuli dada bidang Vano.


"Aduh aduh, sakit dong kalau di pukul. Sini kita duduk dulu nanti aku jelasin." menahan tangan Vanya agar berhenti memukulinya dan setelah itu menggiring Vanya ke sofa yang ada di kamar mereka.


"Udah dong jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang loh." bujuk Vano.


"Kamu jahat hiks hiks kamu ninggalin aku hiks hiks."


"Aku gak ninggalin kamu, tadi kamu tidurnya nyenyak banget jadi aku gak tega kalau mau bangunin kamu. Jadi aku langsung pergi ke kantor. Kan aku udah titip pesan ke Sri kalau aku ada meeting penting pagi ini." jelas Vano.


"Ya tapi seharusnya kamu bilang sama aku agar aku gak nyariin kamu hiks hiks hiks. Aku tadi nyari kamu kemana mana tapi kamunya gak ada hiks."


"Atututu maaf ya, lain kali janji deh kalau mau pergi aku pamit dulu sama kamu." menarik Vanya ke dalam pelukan hangatnya.


"Kata Sri tadi kamu gak mau makan?" tanya Vano setelah Vanya sudah tenang.


"Hmm, aku mau kamu yang suapin." jawab Vanya.


"Oh babynya mau Daddy suapi ya." mengajak perut Vanya berbicara.


"Iya Daddy, Daddy tadi jahat tinggalin babynya sendiri di rumah." balas Vanya menirukan suara anak kecil.


"Iiih gemes deh, ya udah kamu tunggu di sini dulu ya, biar aku ambil makanan dulu di bawah."


"Gak mau, suruh Sri aja yang bawain ke sini." merangkul lengan Vano erat.


"Ya udah kita telfon Sri dulu, biar dia bawain makanan ke sini."


Vano pun menelfon Sri menyuruhnya untuk membawakan makanan untuk Vanya ke kamar mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2