
Pagi hari Vano sudah bersiap akan pergi ke kantor karena hari ini dia harus menghadiri sebuah rapat penting di perusahaan papanya.
Sedangkan Vanya, dia masih asik bergelung dengan selimut tebal berwarna abu abu yang menutupi sekujur tubuhnya menyisakan bagian kepala saja.
Vano tak tega kalau harus membangunkan Vanya, alhasil Vano pergi tanpa pamit pada Vanya. Dia akan menitipkan pesan ke Sri aja agar bilang kalau Vano sudah berangkat ke kantor.
"Pagi tuan." sapa Sri saat berpapasan dengan Vano yang baru menuruni anak tangga.
"Hmm." balas Vano seperti biasa.
"Saya mau pergi ke kantor, nyonya masih tidur nanti bilangin kalau saya pergi ke kantor." lanjut Vano titip pesan pada Sri.
"Baik tuan. Tuan gak mau sarapan dulu?" tanya Sri.
"Saya buru buru, nanti aja sarapan di kantor." balas Vano dan segera pergi tanpa pamit pada Sri.
"Tuan memang beda, kalau sama nyonya aja kayak bayi. Tapi kalau sama orang lain, cueknya gak ada tandingannya. Tapi meskipun begitu tuan orangnya sangat baik." ucap Sri dan setelah itu dia melanjutkan kegiatannya yang lain.
-
"Euhhh..." lengkuh Vanya merenggangkan otot tangannya.
Vanya menoleh ke samping di mana tempat tidur Vano, tapi dia tidak mendapati Vano di sana.
"Vano kemana?" gumam Vanya.
Vanya bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang untuk mengumpulkan nyawanya.
"Sayang..." pangil Vanya berteriak tapi tak ada sahutan dari Vano.
"Kemana sih, pagi pagi kok udah ngilag." beranjak mencari Vano ke kamar mandi, ke walk in closed tapi tetap tidak menemukan kebenaran Vano.
Vanya pun memutuskan untuk membasuh mukanya serta sikat gigi terlebih dahulu setelah itu baru dia akan mencari Vano. Mungkin Vano ada di ruang kerjanya, mengingat semalam Vano yang sibuk. pikir Vanya.
"Vano sayang." pangil Vano membuka ruang kerja Vano tapi tidak ada orangnya.
"Vano kemana sih, masak dia pergi ninggalin aku."
Tiba tiba saja air mata Vanya menetes karena dia berfikir Vano meninggalkan dirinya. Vanya berfikir Vano marah kepadanya sebab kejadian semalam.
"Vano." pangil Vanya lagi sambil terus berjalan menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Sayang, kamu di mana." pangil Vanya lagi.
"Vano hiks hiks hiks..." pangil Vanya kali ini tangisannya sudah keluar.
"Loh nyonya." kaget Sri yang mendapati nyonya-nya yang menangis.
"Sri hiks hiks hiks, Vano pergi ninggalin aku hiks hiks hiks." adu Vanya pada Sri.
"Tidak nyonya, tuan tadi..."
"Iya Vano marah sama aku karena semalam memaksanya untuk masakin aku nasi goreng. Trus sekarang Vano pergi ninggalin aku sendiri hiks hiks hiks." Vanya memotong ucapan Sri, Vanya memeluk tubuh Sri.
"Tenang nyonya, anda tidak boleh sedih kayak gini, itu gak baik buat janin anda. Tuan tadi pergi ke kantor karena ada meeting penting. Tuan gak tega untuk membangunkan nyonya yang masih tertidur." jelas Sri agar Vanya tidak bersedih kembali.
"Kamu bohong, kalau Vano mau ke kantor kenapa dia gak pamit sama aku, kenapa dia gak bangunin aku."
"Aduh nyonya ini, kan tadi aku udah bilang kalau tuan gak tega bangunin anda." batin Sri, mana mungkin dia berbicara seperti itu pada nyonya-nya.
"Enggak nyonya, saya gak bohong. Tuan memang pergi ke kantor."
"Kalau memang dia pergi ke kantor, suruh Vano pulang sekarang." pinta Vanya.
"Enggak aku gak mau, pokoknya aku mau Vano pulang sekarang titik." setelah mengatakan itu Vanya langsung berlari naik menuju kamarnya lagi sambil menangis.
"Nyonya jangan lari, anda sedang hamil." Teriak Sri mengingatkan Vanya, tapi tak di respon oleh Vanya.
"Aduh gimana ini, nanti kalau sampai terjadi sesuatu dengan nyonya tuan akan ngamuk." bingung Sri.
Akhirnya Sri memutuskan untuk berlari mengejar Vanya naik ke lantai atas.
-
Sementara di tempat Vano, dia tengah fokus meeting bersama para petinggi perusahaan dan para pemegang saham.
"Proyek ini harus di hentikan." ucap salah satu pemegang saham yang bernama pak Roby.
"Anda siapa, punya hak apa anda sampai berani bilang seperti itu?" tanya Vano yang tak suka dengan orang itu.
"Saya pemegang saham di sini." jawabnya.
"Cih, cuma pemegang saham aja berani beraninya mengatur perusahaan." decih Vano.
__ADS_1
"Heh kamu," menunjuk Vano di balas tatapan mengejek oleh Vano.
"Kamu cuma bocah ingusan yang gak ngerti masalah perusahaan." lanjut pak Roby.
"Oh ya, bukannya anda yang tak mengerti konsep perusahaan?" balas Vano.
"Saya gak mau tahu, pokoknya proyek ini harus di batalkan." tuntutnya lagi.
"Atas dasar apa anda ngomong begitu, apa alasan anda meminta kami untuk membatalkan proyek itu?" tanya asisten Rudi yang sudah tidak dapat menahan diri untuk bertanya.
"Banyak alasannya."
"Coba sebutkan." tantang Vano.
Sedangkan yang lainnya hanya diam saja, mereka terlalu takut untuk berhadapan dengan Vano. Meskipun tak seseram papanya, tapi Vano juga tidak bisa di anggap remeh.
"Pertama, tempatnya tidak terlalu strategi. Kedua, biaya operasionalnya terlalu besar, sedangkan nanti belum tentu resort itu akan ramai akan pengunjung. Apalagi di sana pemandangannya tidak terlalu mendukung." jelas pak Roby.
"Oh ya? Wah saya kok baru tahu kalau di sana pemandangannya gak indah, setahu saya waktu dulu sering ikut papa ke sana di sana sangat indah banyak kebun teh yang terawat serta terdapat air terjun yang tak terlalu jauh dari sana." balas Vano yang membuat pak Roby katar ketir.
"Itu kan dulu, sekarang sudah beda." balas pak Roby.
"Oh ya? Romi kemarin saya suruh kamu untuk ke sana, gimana keadaan di sana masih tetap sama kan seperti dulu?" tanya Vano pada sekertaris nya.
"Masih tuan, bahkan sekarang di dekat air terjun itu sudah di bangun tempat wisata oleh warga setempat. Ini foto yang saya ambil kemarin." jelas Romi menyerahkan beberapa lembar foto.
Vano menerimanya dan mengamati semua foto itu satu persatu sambil menaikkan sebelah bibirnya membentuk senyuman yang menggerikan.
"Coba anda lihat, apakah ini sebuah kebohongan?" melemparkan beberapa lembar foto itu ke pak Roby.
Dengan tangan gemetar pak Roby mengambil foto foto itu dan melihatnya satu persatu.
"Gimana hmm?" tanya Vano mengejek.
"Anda pikir saya tidak tahu apa yang ada di pikiran anda? Saya tahu anda melakukan ini karena anda ingin menggunakan tanah itu untuk pabrik anda bukan?" lanjut Vano menyilangkan tangannya di dada.
"Da-dari mana ka-kamu tahu?" gugup pak Roby karena rencananya di ketahui Vano.
"Anda lupa siapa saya."
...***...
__ADS_1