My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 274


__ADS_3

"Maksud Tante?" tanya Sonya berhadapan dia tadi salah dengar.


"Rangga sama Sisil meninggal." balas papa William.


"Tante sama Om pergi dulu ya, soalnya jenazah Rangga mau di bawa ke mansion Vano. Vanya juga keadaannya masih pingsan." ucap mama Fara dan segera pergi meninggalkan Sonya yang masih termenung di sana.


"Enggak, ini gak mungkin pasti gw salah dengar." gumam Sonya.


Sonya mengambil ponselnya hendak menghubungi Sisil berharap bisa mendengarkan suara Sisil, tapi yang dia dapat malah suara operator.


"Enggak itu gak mungkin." ucap Sonya lagi dan segera berlari memasuki mobilnya.


Sonya pergi meninggalkan kediaman keluarga William dengan kecepatan mobil sangat tinggi, bahkan dia sampai bisa menyalip nyalip banyak mobil yang berada di depannya. Sonya melajukan mobilnya menuju rumah Sisil, dia ingin memastikannya sendiri, apakah yang di katakan mama Fara tadi benar atau tidak. Bahkan Sonya sampai melupakan tujuan awalnya ke rumah kedua orang tua Vano yang hendak menanyakan keberadaan Galang.


Sampai di depan gerbang rumah Sisil, di sana sudah ramai terlihat banyak orang yang memakai pakaian serba hitam dan tak lupa pula ada bendera berwarna kuning yang berkibar di depan rumah Sisil.


Sonya segera turun dan berlari menghampiri rumah Sisil dan menerobos kerumunan orang orang yang menghalangi jalannya.


"Sisil." ucap Sonya saat melihat tubuh Sisil yang sudah terbujur kaku di tutupi kain di atasnya.


Tadi sebelum di bawa pulang ke rumah, jenazah Sisil di bawa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk pengangkatan peluru yang bersarang di dalam tubuhnya. Baru setelah itu mereka membawa jenazah Sisil pulang.


Sonya bersimpuh menangis di samping jenazah Sisil, dia tak menyangka sahabat yang sering dia katai lemot ternyata malah tidak lemot dalam menghadap Tuhan.


"Sil, kenapa lo tega ninggalin kita duluan Sil." ucap Sonya pada jenazah Sisil.


"Gw minta maaf sama lo kalau gw sering ngomong kasar sama Lo."


"Lo bangun dong Sil, katanya nanti kita bakal tengokin anak Vanya bareng bareng."


"Lo gak kasian apa sama gw, masak gw doang sekarang yang belum married. Kalau dulu kan gw ada temennya Lo, kalau sekarang gw sendirian dong." Sonya terus berbicara mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini.


Dia merasa kehilangan banget atas kepergian Sisil, akhir akhir ini Sisil lah yang selalu menemani dirinya di kala sendiri. Galang selalu sibuk jadi Sonya minta di temani Sisil kalau orang tuanya lagi keluar kota.


-


Sementara di mansion Vano, keadaan di sana juga sama ramainya dengan di kediaman Sisil. Vanya sudah sadar dari pingsannya dan merengek minta di antarkan ke rumah Sisil, tapi Vano tak mengijinkan itu. Bagaimana mungkin Vano pergi di saat mansionnya tengah ramai orang orang yang melayat Rangga.

__ADS_1


"Sayang kamu makan dulu ya." Ucap Vano.


"Aku gak laper." tolak Vanya.


"Ayo loh, kamu belum makan dari tadi. Emang kamu gak kasian sama baby, gimana nanti kalau baby nya kelaparan karena mommy nya gak makan." bujuk Vano.


"Tapi aku mau ke rumah Sisil Vano." balas Vanya.


"Kamu gak usah ke rumah Sisil ya, nanti kita datang aja ke pemakamannya. Ini udah malam gak baik buat kamu." ucap Vano berusaha memberikan pengertian buat Vano.


"Tapi aku pengen lihat Sisil untuk yang terakhir kalinya Van." mohon Vanya.


"Besok kan kamu bisa lihat saat prosesi pemakamannya. Lagian makam mereka berdua nanti bersebelahan jadi kamu bisa lihat Sisil nanti." balas Vano.


"Tapi aku mau lihatnya sekarang." balas Vanya.


"Kamu nurut ya sama aku, ini semua demi kebaikan kamu." mohon Vano.


"Aa...." Vano menyodorkan satu sendok nasi beserta lauknya pada Vanya.


Awalnya Vanya menolaknya tapi lama kelamaan Vano paksa terus akhirnya Vanya mau menerima suapan Vano.


"Udah sekarang kamu tidur lagi ya." perintah Vano.


"Gak bisa tidur." manja Vanya.


"Bentar ya aku suruh Sri ngambil piring kotor ini dulu, habis itu aku kelonin kamu." ucap Vano dan di angguki Vanya.


Vano pun menelfon asisten pelayan Sri, dan setelah Sri sampai di sana Vano segera memberikan piring kotor itu pada Sri agar segera di Cici.


"Udah sini ayo." perintah Vano sambil merentangkan kedua tangannya.


Vanya masuk ke dalam pelukan Vano, Vano mendekap erat tubuh Vanya hingga Vanya tertidur pulas. Setelah memastikan Vanya gak akan bangun, Vano beranjak pergi meninggalkan Vanya untuk mengurus keperluan yang lainnya.


Pemakaman akan di lakukan besok pagi, dan soal Galang Vano sudah memerintahkan salah satu anggota WD untuk membawa Galang ke mansion besok pagi, lantaran ini menurutnya sudah sangat larut.


Semua orang tidak ada yang menyangka atas kepergian dua orang itu. Teman teman sekolah, teman setongkrongan mereka semua pada datang untuk melayat.

__ADS_1


-


Pagi hari pun tiba, mereka semua sudah bersiap hendak ke pemakaman. Vano melarang jenazah Rangga untuk di berangkatkan terlebih dahulu. Dia meminta untuk menunggu sebentar saja.


"Nah itu dia." ucap Vano saat melihat kedatangan Galang yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.


"Gimana ini bisa terjadi Van?" tanya Galang.


"Cerita panjang Lang, nanti gw ceritain setelah pemakaman.


"Ayo, lo mau ikut ke pemakaman atau enggak?" tanya Vano.


"Iya gw ikut." jawab Galang.


"Ya udah ayo, lo satu mobil sama gw." ucap Vano dan di angguki Galang.


Galang duduk di kursi depan samping mang Udin, sedangkan Vano duduk di jok belakang bersama Vanya yang sedari pagi raut wajahnya muram.


Vano membiarkan saja itu, dia memakluminya. Kehilangan sosok orang yang sangat dekat dengan kita itu sangatlah tidak mudah. Terlebih lagi Sisil orangnya sangat sering bikin orang tertawa.


Mereka sampai di pemakaman bertepatan dengan iringan jenazah Sisil juga datang. Mereka berdua di makamkan secara berdempetan atas perintah Vano.


"Vanya...." ucap Sonya dan berlari berhambur ke dalam pelukan Vanya.


"Sisil Van, Sisil." Tangis Sonya pecah lagi dalam pelukan Vanya.


Vanya pun tak bisa menahan air matanya lagi, mereka berdua menangis sambil berpelukan melihat satu temannya yang di masukkan ke dalam liang lahat.


Prosesi pemakaman selesai, semua orang pergi meninggalkan tempat pemakaman. Di sana hanya tinggal teman dekat Sisil dan Rangga.


"Hai Ngga." sapa Galang memegang batu nisan yang bertuliskan Rangga Aditya.


"Lo pasti di sana udah tenang kan, gw minta maaf sama li soal masalah yang kemarin. Gw juga udah maafin lo kok." ucap Galang.


"Lo tunggu gw di sana ya, nanti kita ketemu di surga." lanjut Galang.


Mereka semua berganti ngobrol di hadapan makam Sisil dan Rangga. Dan setelah selesai mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Dan setelah itu mereka harus datang ke mansion Vano untuk membicarakan bagaimana selanjutnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2