My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 257


__ADS_3

Hari berganti hari, Vanya sudah melupakan kejadian waktu itu. Mereka semua sudah kembali ke aktifitas masing-masing. Vano yang notabenenya sudah tahu siapa pelakunya pun tak menunjukkan gelagat apapun. Vano selalu bersikap tenang seolah dia tidak tahu siapa pelakunya.


Sekarang Vano dan Vanya tengah bersiap untuk menghadiri acara ulang tahu teman SMA mereka. Sebenarnya Vano malas untuk datang karena nanti pasti banyak yang membicarakan mereka berdua, terlebih lagi sekarang Vanya tengah hamil. Pasti nanti banyak yang berbicara yang enggak enggak tentang Vanya.


"Udah deh yank, kita di rumah aja ya."


"Gak, pokoknya kita harus hadir. Kamu ini gimana sih, orang kita di undang kita juga harus hadir dong." kekeh Vanya.


"Tapi yank...."


"Kalau kamu gak mau ya udah, aku bisa berangkat sendiri."


"Kok gitu."


"Ya biarin." kesal Vanya.


"Ya udah deh iya kita ke sana, tapi kamu janji dulu sama aku."


"Janji apa?"


"Kamu gak boleh jauh jauh dari aku."


"Iya aku janji." setuju Vanya.


"Satu lagi," tambah Vano.


"Apa lagi sih, kamu ini orang tinggal berangkat aja ribet banget." omel Vanya.


"Dengerin dulu,"


"Iya iya apa, cepat."


"Nanti kalau ada yang ngomongin kamu, kamu gak usah respon mereka. Ingat itu." tekan Vano.


"Iya Daddy, iya. Daddy bawel banget deh."


"Kamu yang bikin aku bawel kayak gini, kalau kamu nurut anteng di rumah aku juga gak bakalan bawel."


"Kalau aku di rumah mulu kan bosen, aku juga udah kangen banget sama temen temen yang lain." balas Vanya.


"Emang kamu udah siap kalau nanti temen temen tahu kalau kamu sedang hamil?" tanya Vano.


"Siap gak siap ya harus siap, lagian meskipun kita nutupin serapat mungkin lambat laun juga bakalan ketahuan." jawab Vanya.

__ADS_1


"Aku bangga sama kamu." tutur Vano yang membuat Vanya bingung.


"Aku bangga karena memiliki istri yang dewasa seperti kamu." lanjut Vano.


"Aku juga bangga punya suami kayak kamu." balas Vanya.


"Punya suami yang perhatian dan pengertian walaupun kadang posesif." lanjut Vanya.


"Aku posesif karena takut kehilangan kamu loh." balas Vano.


"Iya aku tahu, tapi kadang akunya juga gak bisa bebas."


"Maaf ya, lain kali akan aku coba untuk mengontrol sikap aku yang gak kamu suka."


"Aku juga minta maaf, udah sering bikin kamu marah dan khawatir." balas Vano.


"Uuuhh... peluk dong." pinta Vano.


Vanya pun langsung berhambur dalam pelukan Vano, mereka berpelukan sejenak sebelum nanti berangkat ke pesta ulang tahun teman sekolah mereka.


"Dah yuk berangkat." ajak Vanya dan di angguki Vano.


Mereka berdua pun pergi menuju ke tempat yang akan di selenggarakan nya acara tersebut. Kali ini Vano tak mau mengemudi sendiri, dia memilih memakai jasa sopir mang Udin karena Vano takut nanti kalau tiba tiba Vanya ketiduran gak ada tempat bersandar.


-


"Hai Cin, gimana kabar Lo?" sambut Maya, meskipun dia tidak terlalu dekat dengan Cindy tapi dia kan harus bersikap baik terhadap tamu yang dia undang.


"Seperti yang lo liat, keadaan gw baik baik aja. Oh iya ini ada kado dari gw, maaf ya gak terlalu mahal." ujar Cindy.


"Aduh ngapain pakek repot segala sih, lo dateng ke sini aja gw udah seneng." balas Maya.


"Enggak kok gak ngerepotin. Lo tahu di mana temen temen gw gak?" tanya Cindy pasalnya dia belum melihat batang hidung Kia dan Tasya.


"Oh Kia sama Tasya tadi ada di samping kolam renang." jawab Maya.


"Ya udah gw samperin mereka dulu ya."


Cindy pun pergi mencari keberadaan kedua temennya. Banyak yang memandang Cindy dengan penuh tanya, mereka seolah lupa dengan sosok Cindy yang dulu suka buli orang terutama cewek yang berusaha deketin Vano.


"Eh, lo kenal dia?" tanya salah satu orang kepada temennya.


"Enggak, tapi keknya mukanya gak asing deh." balas temennya.

__ADS_1


"positif tingking aja, mungkin kerabat Maya." sahut salah satu dari mereka.


Mereka pun tak lagi membicarakan Cindy, mereka kembali fokus bergosip ria membicarakan banyak hal. Hingga kedatangan Vano dan juga Vanya dan di ikut keempat temen mereka yang berada di samping kanan dan kira.


Mereka berenam menjadi pusat perhatian semua orang, terutama Vanya. Mereka bertanya tanya dengan kondisi perut Vanya yang membuncit. Apakah Vanya hamil? Itulah pertanyaan yang ada di benak mereka semua saat ini.


"Selamat ya Maya, semoga panjang umur dan sehat selalu." ucap Vanya sambil menyerahkan sebuah kado yang berukuran sedang.


"Iya, makasih ya kalian udah sempetin buat datang ke acara aku." balas Maya.


"Selamat ya." ujar Sonya dan di ikuti yang lainnya.


"Ayo silakan di nikmati hidangannya, semoga kalian suka ya." ucap Maya mempersilahkan Vano dan Vanya dkk untuk mencicipi beberapa hidangan yang sudah di sajikan di sana.


"Iya makasih." balas Vanya dkk, sedangkan Vano dkk hanya diam saja bak patung model pakaian.


"Oh iya bolehkah aku tanya sesuatu?" ucap Maya agak takut.


"Tanya aja, kalau aku bisa jawab pasti aku jawab kok." jawab Vanya ramah.


"Eemm... apakah kamu sedang hamil?" tanya Maya ragu.


Orang orang yang samar samar mendengar pertanyaan Maya pun menajamkan pendengarannya supaya bisa mendengar jawaban dari Vanya.


"Iya aku lagi hamil." jawab Vanya lembut sambil tangannya mengelus perutnya yang sudah besar.


"Wah benarkah? Siapa suami kamu?" tanya Maya antusias.


"Ini ada di samping aku." jawab Vanya sambil melirik Vano.


"Wah benarkah, aku semakin di buat syok oleh jawaban kamu. Btw selamat ya untuk kalian berdua, tapi ngomong ngomong kapan kalian menikah, kok kita gak ada yang tahu?" tanya Maya lagi.


"Sekitar pertengahan kelas sebelas."


"Oh ya, kok kita gak ada yang di undang?"


"Itu karena kita merahasiakan pernikahan kita saat itu, karena kan waktu itu kita masih sekolah."


"Iya juga sih."


Vano hanya diam saja membiarkan Vanya menjawab sendiri semua pertanyaan yang Maya berikan. Vano ingin tahu, seberapa jauh nanti Vanya akan menjelaskan perihal hubungan mereka. Tapi ternyata Vanya malah menjelaskannya secara detail, Vano tak menyangka akan hal itu. Tapi dia harus tetap menjaga image nya dengan tetap bersikap stay cool dalam acara ini.


Mendengar jawaban dari Vanya, orang orang pun sekarang lagi berbisik-bisik membicarakan Vanya dan Vano. Banyak yang berasumsi kalau Vanya pindah sekolah daring dulu itu karena Vanya tengah hamil. Bahkan ada juga yang berasumsi kalau anak yang Vanya kandung itu adalah anak haram.

__ADS_1


Vano tak sengaja mendengar itu pun rasanya ingin merobek mulut mereka semua satu persatu, berani beraninya mereka menggatai anaknya anak haram.


...***...


__ADS_2