My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 154


__ADS_3

Waktu terus berganti Vanya sudah mulai bisa menceritakan semua tentang dirinya kepada Vano, mulai dari kejadian dia di culik, dan juga tentang dia yang di kekang papanya agar terus belajar. Bisa di katakan Vanya hampir sembuh dari masa trauma yang dia alami selama ini. Karena ketekunan Vano yang setia merawat dan meyakinkan Vanya agar tidak lemah di saat dalam situasi yang mencengkram seperti kasus penculikan waktu itu, Vanya pun akhirnya bisa terlepas dari masa traumanya.


Vano sebenarnya merasa geram dengan mertuanya setelah mendengar dari Vanya sendiri tentang kelakuan mertuanya semasa sebelum menikah dengan Vano, tapi Vano berfikir mungkin itu juga demi kebaikan Vanya.


Cindy juga sudah di keluarkan dari sekolah, waktu itu sempat menghebohkan seluruh sekolah. Lantaran selama ini yang mereka tahu kalau orang tua Cindy adalah salah satu donatur tetap di sekolah ini, jadi bagaimana bisa Cindy di keluarkan dari sekolah ini.


Dan soal keadaan papanya Cindy kini sudah mulai membaik dan bisa mengelola perusahaannya kembali meskipun kini keadaan perusahaannya di ambang kebangkrutan gara gara Vano yang menarik saham dan pembatalan kontrak kerja sama dari perusahaan papa William serta papa Wijaya.


Hari ini Vano ijin tidak masuk sekolah karena dia akan menjemput Lucas di bandara.


"Sayang aku anter kamu ya, nanti pulangnya aku jemput." ucap Vano di tengah sarapannya dengan Vanya.


"Gak usah aku bisa bawa mobil sendiri kok." tolak Vanya.


"Aku gak terima penolakan."


Hufft.. Harusnya Vanya sadar, apa yang di ucapkan Vano itu bukan pilihan yang bisa di tolak, tapi itu sebuah perintah yang wajib di laksanakan.


"Ya udah terserah kamu, tapi nanti pulangnya kalau kamu gak sempet gak usah jemput aku, aku bisa kok nanti pulangnya nebeng Sonya atau Sisil." ucap Vanya akhirnya menerima mau menolak pun dia sudah tidak bisa.


"Akan aku luangkan waktu buat kamu sesibuk apa pun aku." jawab Vano.


"Aku mohon banget sama kamu, kali ini nurut ya sama aku. Ini semua demi kebaikan kamu." lanjut Vano, Vano tak mau mengambil resiko jika membiarkan Vanya keluar sendiri tanpa pengawasan darinya.


"Ya udah aku ke atas dulu ambil tas." Vanya tak mau berdebat lagi, nanti yang ada malah waktu berangkat sekolah jadi molor.


"Kamu di sini aja, biar Sri yang ngambilin." cegah Vano saat Vanya akan beranjak pergi ke kamar.


"Tapi..."


"Sri, kamu ambilkan tas punya istri saya." perintah Vano tak menghiraukan protesan dari Vanya.


"Baik tuan." Sri pun segera pergi dengan cepat agar tuan dan nyonya nya tidak menunggu lama.


"Yuk kita tunggu di mobil saja." ajak Vano setelah mengelap bibirnya dengan tisu.


"Kita tunggu di sini saja ya, kasian Sri nya masak harus lari larian dari lantai atas ke parkiran." tolak Vanya secara halus.


"Gak sia sia aku punya istri seperti kamu, udah sabar, baik, pengertian, penurut, dan yang pasti paling cantik." puji Vano memandang Vanya intens.

__ADS_1


"Gak usah gombal deh, ini masih pagi." balas Vanya untuk menutupi kesaltingan nya.


"Dih, orang aku ngomong jujur kok."


"Mama dulu waktu hamil kamu ngidam apa sih, kok cantik banget kayak gini." tambah Vano yang semakin ngegombal.


"Ngidam jengkol." jawab Vanya ngasal.


"Wih, enak tuh. Apalagi kalau di olah jadi makanan yang pedas." lah nih si Vano omongannya kenapa semakin ngelantur kemana-mana sih.


"Van kamu kenapa sih?" tanya Vanya heran.


"Kenapa, emang aku kenapa?" tanya balik Vano.


"Ya aneh aja gitu, kenapa akhir akhir ini kamu kalau gak ngeselin pasti ngegombal?"


"Emang salah ya, kalau aku gombalin istri sendiri?"


"Ya enggak sih."


"Ya udah, emang kenapa sih, kamu gak suka aku kayak gitu?"


"Ya bukannya gak suka, cuma aneh aja gitu. Biasanya Vano si cuek, ehh sekarang malah nyebelin. Kan aneh." jelas Vanya.


"Ini tuan tas ny..a." kepala pelayan Sri pun merasa bersalah karena telah menganggu acara romantis romantisan tuan dan nyonya nya.


"Maaf tuan."


"Ehh, Sri." pangil Vanya dan segera menyelinap keluar dari Vano yang ada di sampingnya.


"Sini tas nya, kita pergi dulu ya, jagain mansion biar gak ada maling yang masuk. Yuk Van kita pergi." ucap Vanya sambil mengambil tas miliknya yang ada di tangan Sri.


"Hufft...ganggu aja." gumam Vano pelan agar tidak ada yang mendengarnya.


Mereka pun pergi meninggalkan mansion dengan Vano yang akan mengantarkan Vanya sekolah dan dirinya pergi ke bandara menjemput Lucas.


"Temen kamu yang namanya Lucas itu jahat gak dia?" tanya Vanya di dalam perjalanan menuju sekolah.


"Jahat banget." jawab Vano menoleh sebentar ke arah Vanya.

__ADS_1


"Seriusan?" tanya Vanya.


"Dua rius malah." jawab Vano.


"Terus nanti dia mau tinggal di mana?"


"Eemmm... tinggal di mana ya..."


"Bagaimana kalau tinggal di mansion kita aja." ide Vano.


"Kok di mansion kita sih, kenapa gak kamu suruh tinggal di apartemen kamu aja."


"Loh emang kenapa kalau di mansion kita, kan di mansion juga kamarnya masih banyak yang kosong."


"Iiiih kamu gak peka banget sih, kan aku takut. Gimana nanti kalau saat kamu gak ada di rumah terus tiba-tiba dia berbuat jahat sama aku." takut Vanya.


"Hahahaha...." Vano tertawa melihat raut wajah ketakutan Vanya.


"Kenapa kamu malah ketawa, kamu suka liat aku di jahatin sama si Lucas Lucas itu?"


"Hahaha...aduh perut aku sakit." tawa Vano masih berlanjut hingga perutnya sampai terasa kram.


"Aduh, sakit yank." keluh Vano karena mendapat cubitan dari Vanya.


"Biarin, biar tahu rasa. Lagian istrinya ketakutan bukannya di lindungi malah di ketawain."


"Habisnya kamu ini lucu deh, mana mungkin sih aku berteman sama orang yang jahat. Lagian juga aku masih punya otak buat gak ngebiarin orang lain tinggal di rumah kita meskipun itu temanku sendiri." mengacak acak rambut Vanya.


"Vano..."


"Iya sayang ku..."


"Jadi dari tadi kamu bohongin aku." garang Vanya.


"Aduh ma*pus gw, singa betina dalam mode on." batin Vano menggerutuki kebodohannya.


"Ehh enggak gitu maksud aku tadi, aku tadi cuma mau ngerjain kamu aja."


"APA." semakin garang.

__ADS_1


"Aduh Vano mulut lo kenapa lemes banget sih." gumam Vano sambil menampar mulutnya sendiri yang asal ceplos.


"Oh gitu ya, ya udah seminggu ke depan kamu tidur di kamar tamu." Vanya mengeluarkan ancaman yang bagi Vano itu adalah ancaman paling mematikan di dunia ini.


__ADS_2