My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 140


__ADS_3

"Tante Fen." ucap Vanya, sambil tangannya mencengkram erat lengan Vano.


Orang yang ingin menabrak Vanya itu adalah Fen Wang yang tak lain adalah bibinya Farrel. Vanya masih sangat ingat betul, bagaimana raut wajah menyeramkan milik bibinya Farrel itu saat menculiknya dulu. Tangan Vanya pun gemetar saat Tante Fen menatap Vanya tajam sambil menaikkan sebelah bibirnya.


"Sayang..." pangil Vano saat merasa tubuh Vanya gemetar.


Setelah menampakkan diri Tante Fen pun segera pergi meninggalkan mereka.


"Sayang, hei." pangil Vano lagi melepaskan pelukannya.


"Kamu tahu siapa dia?" tanya Vano yang mendapat anggukan dari Vanya.


"Dia, dia bibinya kak Farrel." jawab Vanya sambil gemetar bibirnya.


"Hei udah jangan takut, aku akan selalu lindungi kamu, dan aku gak akan biarin siapa pun nyakitin orang yang aku sayang. Jadi kamu tenang ya, jangan gemetar kayak gini aku jadi takut kamu kenapa napa." ucap Vano mengusap pipi Vanya untuk memberikan ketenangan.


"Jadi beli makan?" tanya Vano mengalihkan pembicaraan agar Vanya tidak terlalu kepikiran.


Vanya menjawab dengan gelengan kepala pertanda tidak mau.


"Ya udah kita pulang aja ya."


Vanya hanya seperti robot yang sangat patuh terhadap tuannya, Vano menggiring dirinya masuk ke dalam mobil pun merut saja tanpa suara apapun. Bahkan Vano juga yang memasangkan sabuk pengaman di tubuh Vanya. Setelah itu Vano menutup pintu mobil dan berlari memutari mobil untuk masuk di jok kemudi.


"Awas aja udah berani bikin istrinya Geovano ketakutan, gak akan gw biarin lo hidup dengan tenang." Ucap Vano dan setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke arah mansion mewah miliknya.


Dalam perjalanan Vanya hanya diam saja dengan pandangan kosong ke depan. Vano yang melihat itu pun kesal sendiri, istrinya yang cerewet tiba tiba berubah gara gara orang tadi, niat Vano untuk memberikan pelajaran orang itu pun semakin mantap. Lihat saja nanti.


Vano pun membiarkan saja tidak ingin membuat Vanya semakin kepikiran, Vano juga yakin kalau ada trauma tersendiri yang di sembunyikan istri nya selama ini dari orang orang.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman mansion mewah milik Vano. Vano segera turun dan setelah itu membukakan pintu mobil untuk Vanya dan menuntunnya masuk ke dalam.


"Kamu mau makan apa hmm?" tanya Vano pada Vanya yang sekarang telah duduk bersandar di kepala ranjang yang ada di kamarnya.


Vanya mengelengkan kepalanya, Vano pun semakin kesal sama orang yang katanya bibinya Farrel itu.


"Liat aja nanti kalau ketemu gw lagi, gw bejek bejek tuh orang." batin Vano kesal.

__ADS_1


"Ya udah kamu tidur aja ya, aku mau ke ruang kerja aku dulu, ada berkas yang harus aku tanda tangani." ucap Vano.


Vanya tak merespon ucapan Vano, tapi tangannya terulur untuk menahan tangan Vano agar tidak pergi meninggalkan dirinya sendiri.


"Jangan pergi." mohon Vanya.


Vano yang mendengar istrinya berbicara pun lumayan lega hatinya, Vano mengurungkan niatnya tadi.


"Ya udah aku temani kamu, sini tidur dulu."


Dengan senang hati Vanya masuk ke pelukan Vano. Vanya mencari kenyamanan di dada bidang Vano hingga dia tertidur dengan pulas nya.


"Gw harus kasih tau kak Farrel nih, kalau bibinya udah berani menampakkan diri." gumam Vano setelah memastikan bahwa Vanya sudah tertidur.


Dengan hati hati Vano meletakkan kepala Vanya di bantal dan setelah itu dia beranjak pergi menuju ruang kerjanya untuk mengabari Farrel.


'Halo Van.' sapa Farrel dari sebrang sana.


'Lo bisa ke mansion gw gak, ada yang mau gw omongin.' ucap Vano serius.


'Bisa, ya udah gw mau mandi dulu, setelah itu gw langsung cabut ke mansion lo.'


Tut.


Setelah itu Vano pergi ke dapur menyuruh pelayan untuk memasakkan makanan kesukaan Vanya, dan setelahnya Vano kembali lagi ke kamar karena takut Vanya terbangun nanti.


-


Sementara di posisi Farrel, dia tengah heran. Ada apa gerangan Vano menyuruh dirinya ke mansion nya, padahal kan bisa nanti ketemu di markas.


"Semoga tidak terjadi apa apa sama mereka." gumam Farrel setelah panggilan telepon dari Vano terputus.


"Mereka siapa Rel?" tanya papa Wijaya yang kebetulan tadi mau menangi Farrel untuk makan siang.


"Ehh, bukan siapa-siapa kok pa, cuma teman Farrel aja." jawab bohong Farrel, dia gak mau papa Wijaya tahu tentang keberadaan bibinya yang sudah mulai menampakkan diri.


"Kalau kamu gak mau cerita sama papa gapapa, asal papa minta kalian harus saling jaga satu sama lain." ucap papa Wijaya yang mengerti bahwa anak laki laki kakaknya ini tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


"Maaf pa." lirih Farrel, karena dia sudah merasa berdosa telah membohongi orang yang telah merawatnya selama ini dengan kasih sayang yang tulus.


"Papa ngerti kok, mungkin kamu berfikir bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri makanya gak mau bilang sama papa. Papa percaya sama kamu, kamu sudah bukan Farrel yang kecil lagi, kamu sudah besar sudah pantas jadi ayah." goda papa Wijaya agar Farrel tidak terlalu merasa bersalah.


"Iiihh apaan sih papa." decak Farrel.


"Loh kamu memang udah pantas loh jadi bapak, adik kamu aja sudah menikah, masak kamu kalah."


"Pernikahan bukan ajang perlombaan pa, Farrel masih mau fokus selesaikan masalah Farrel dulu. Urusan menikah itu pikir belakangan."


"Ya udah terserah kamu aja, papa juga gak maksa."


"Papa sama mama tunggu di bawah buat makan siang." lanjut papa Wijaya lagi dan berlalu pergi meninggalkan Farrel.


"Hufft..." Farrel menghela nafasnya lega, setelah itu dia bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


-


Papa Wijaya berjalan keluar dari kamar Farrel, sambil memikirkan tingkah Farrel yang aneh tadi. Sebenarnya papa Wijaya sudah mengetahui apa yang menimpa Vanya waktu jalan jalan ke Bali kemaren, papa Wijaya mendapat kabar itu dari papa William.


Papa Wijaya sempat syok mendengar hal itu, tapi dengan tenang papa William menjelaskan kalau keadaan Vanya sudah aman dan menyuruh papa Wijaya agar pura pura tidak tahu saja biar Vanya atau Vano sendiri yang menceritakan akan hal itu, dan papa Wijaya pun mengikuti saran dari papa William.


Papa Wijaya takut terjadi apa-apa lagi pada putrinya, mengingat bahwa bibinya Farrel itu menargetkan anak perempuannya sebagai umpan agar Farrel datang menemuinya membuat papa Wijaya pun semakin khawatir.


"Aku harus ngomong sama William soal ini, aku takut terjadi sesuatu yang membahayakan bagi Vanya." gumam papa William.


Papa William pun pergi menghampiri istrinya yang tengah menyiapkan makanan di atas meja setelah mengembalikan raut wajah khawatir tadi jadi lebih tenang.


"Farrel mana pa?" tanya mama Vani.


"Masih di atas, nanti juga nyusul. Mungkin masih mandi tuh anak." jawab papa Wijaya.


"Ma nanti kita ke tempat Vanya ya, udah lama kita gak ketemu Vanya papa jadi kangen." lanjut papa Wijaya.


"Wah kebetulan banget tuh pa, mama juga kangen banget sama Vanya, sekalian nanti mama bawain makanan kesukaan Vanya biar dia senang." setuju mama Vani.


Mungkin ikatan batin yang sangat kuat antara anak dan orang tua, sehingga membuat papa Wijaya kepikiran untuk melihat keadaan anaknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2