
"BERHENTI." ucap Vano membuat langkah Marvel berhenti dan berbalik menatap Vano.
"Vano." kaget Marvel melihat Vano yang keluar dari dalam lemari.
"Apa? Lepasin tangan istri gw." balas Vano.
"Kok, kok lo bisa ada di sini?" heran Marvel.
"Pentingkah gw jawab, gw minta lo lepasin tangan istri gw." tegas Vano berjalan menghampiri Vanya.
"Gak akan pernah gw kasih." Marvel menyeret tangan Vanya keluar dari kamar itu.
"Lepasin gw, Vano tolongin gw." ucap Vanya menahan rasa sakit di tangannya.
"Woy berhenti." Vano mengejar Marvel yang membawa Vanya.
Marvel malah lebih mempercepat jalannya, tapi saat berada di belokan pintu menuju belakang mansion dia di cegat oleh Lucas.
"Halo brother, mau kemana hmm?" ucap Lucas sambil tersenyum smirk.
"Si*l." umpat Marvel.
"Jangan mendekat." peringat Marvel agar Vano dan Lucas tidak mendekat.
"PENGAWAL." Marvel memangil anak buahnya.
"Hahahaha...lo mau minta tolong siapa, anak buah lo semua lagi sibuk di depan." tawa Lucas mengejek.
Marvel tak kehilangan akal, dia mengambil pistol dari saku dalam jaket yang dia pakai, setelah itu dia menodongkan pistol itu ke arah Vanya.
"Ooouuh mau main tembak tembakan rupanya ya..." ucap Lucas.
Sementara Vano dia diam saja mengamati gerak gerik Marvel. Karena dia tahu Marvel tidak sebodoh itu, buktinya saja dia bisa merentas cctv di mall dan bisa mengelabuhi Farrel dkk saat di mall tadi.
"Jangan mendekat atau Vanya akan mati." ucap Marvel menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya.
"Van..." mohon Vanya pada Vano dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Gw minta sekali lagi lo lepasin istri gw, atau lo bakal habis di tangan gw sekarang juga." sentak Vano, dia merasa hatinya teriris pisau tajam saat melihat air mata Vanya.
__ADS_1
"Lo pikir gw takut sama lo Geovano Alexander William, putra seorang ketua mafia WD di Italia." balas Marvel.
Vanya yang mendengar itupun kaget, dia tak pernah tahu kalau mertuanya adalah seorang mafia, apalagi ini adalah ketuanya. Yang dia tahu mertuanya itu adalah pengusaha sukses di negaranya.
"Jaga ucapan lo." garang Vano.
"Kenapa, lo takut istri lo marah. Vanya, Vanya...bisa bisanya lo di bohongi oleh suami lo sendiri, bilangnya sih keluar negeri ada urusan pekerjaan, ehh tau taunya malah pelatihan masuk dunia gelap." Marvel semakin gencar membongkar identitas Vano di hadapan Vanya.
"Van, apakah benar yang dia ucapkan itu?" tanya Vanya di tengah ketegangan dirinya yang terancam akan kena tembakan di kepalanya.
"Sayang kamu jangan percaya sama dia, dia bohong nanti aku bakal jelasin semuanya sama kamu yang sebenarnya." jawab Vano sambil memajukan langkahnya menuju Vanya.
"Gw bilang jangan mendekat." Sentak Marvel.
Vano berhenti, dia sudah tidak punya banyak waktu. Kalau begini terus yang ada semua rahasia dirinya yang ada di dunia gelap bakal terungkap di hadapan istrinya.
Vano memberikan kode mata pada Lucas, dan Lucas pun segera melaksanakan apa yang Vano maksud.
"Lo jangan beraninya main sama cewek, sini lawan gw kalau berani." ucap Lucas menodongkan pistol nya juga pada Marvel.
"Cih, hanya seorang anak buah saja belagu." ejek Marvel.
"Apa..."
"Tangan gw kenapa gak bisa gerak." panik Marvel karena kedua tangannya tidak bisa di gerakkan.
"Gw udah bilang, lepasin Vanya tapi lo malah nantangin gw." ucap Vano dingin, dia menghampiri Marvel dan lepaskan tangan Marvel dari Vanya dan mengambil pistol Marvel.
"Breng**k apa yang lo lakuin sama tangan gw." marah Marvel berusaha menggerakkan tangannya tapi tidak bisa.
"Menurut lo, Lucas bantu dia rapiin tangannya agar tidak seperti itu." perintah Vano, bagaimana tidak posisi tangan Marvel masih sama seperti tadi yaitu memegang pistol sama mencengkram Vanya, tapi bedanya sekarang Vanya dan pistol itu sudah tidak ada di tangannya.
"Siap bos." hormat Lucas.
Lucas merapikan tangan Marvel agar tegap seperti orang berbaris.
Duk Duk.
Masih belum kapok juga rupanya si Marvel, berani beraninya dia menendang tulang kering Lucas dan lututnya hingga Lucas terjatuh kebawah.
__ADS_1
"Si*l*n nih orang." umpat Lucas akan berdiri, tapi dia mendapatkan tendangan lagi di jangutnya hingga mengeluarkan darah.
"Sh*tttt..."Decak Lucas.
Vano yang melihat itu, dia membiarkannya saja sebentar selama Marvel tidak mengganggu Vanya nya tidak apa apa. Sekalian kan itu buat hadiah penyambutan Lucas saat tiba di negara ini, kemaren kemaren kan Vano belum kasih hadiah apa apa buat Lucas.
"Lo pikir meskipun tangan gw lumpuh, gw gak bisa lawan kalian, jangan mimpi." ucap Marvel bersiap akan menghajar Vano yang sedang merangkul pundak Vanya, tapi hal itu tak akan pernah terjadi karena Vano tidak akan pernah membiarkan tubuhnya terluka sedikitpun dalam masalah kali ini.
"Mau ngapain lo, gimana kakinya, bisa gerak gak?" tanya Vano mengejek.
"Si*l*n apa yang lo lakuin sama tubuh gw." marah Marvel.
"Itu belum seberapa, kita main mainnya besok saja hari ini gw udah capek mau kel*nan dulu sama buk istri."
"Lucas lo urus dia bawa ke markas, gw mau pulang duluan. Dan jangan lupa bilangin ke Fira suruh bereskan semua kekacauan ini." lanjut Vano mengajak Vanya pergi dari sana.
Vanya sedari tadi hanya diam saja, dia masih syok menerima semua keadaan yang baru saja dia dengar dari mulut Marvel.
"Vano kamp**t, kalau soal ginian aja gw yang di suruh. Tapi kalau soal enak enak gw gak di ajak." kesal Lucas.
"Lo juga pakek manja segala, jalan sendiri sono." lanjut Lucas memaki maki Marvel.
"Gw gak bisa jalan b*g*." balas Marvel.
"Oh iya gw lupa, btw lo kek udah pasrah gitu, emang lo gada niatan buat kabur apa?" tanya Lucas basa basi.
Emang aneh nih Lucas, masak musuh di ajak ngobrol santai.🙄
"Lo gak liat keadaan gw, kalau pun gw kabur, gw belum tentu bisa sembuh seperti semula."
"Ohh." udah itu doang yang keluar dari mulut Lucas. Dan Marvel pun tak mau ambil pusing soal itu, dia udah pasrah akan apa yang Vano lakukan padanya, toh percuma dia hidup kalau tidak bisa bersama kelinci kecilnya.
Flashback on:
Tadi saat adu mulut sama Lucas Vano memanfaatkan itu untuk menembakkan ramuan yang dia buat secara khusus untuk melumpuhkan tubuh secara seketika di tempat yang terkena tembakan. Vano menembakkan ramuan itu ke dua tangan Marvel sekaligus karena dia tau kalau hanya satu tangan saja Marvel bisa berbuat yang lebih nekat, tadi aja tangannya sudah lumpuh tapi kakinya yang bertindak.
Flashback off.
...***...
__ADS_1