My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 60


__ADS_3

Vano sampai di rumah mertuanya pukul setengah lima sore dengan masih memakai seragam sekolah.


Setelah memakirkan motornya di garasi rumah mertuanya Vano segera berjalan ke arah pintu masuk rumah mertuanya dengan senyuman yang mengembang.


"Assalamualaikum." ucap Vano setelah pintu di buka kan oleh pembantu.


"Waalaikum salam, ehh den Vano. Mari silahkan masuk den!" jawab pembantu sambil mempersiapkan Vano masuk.


"Masih bik."


"Papa sama mama ada bik?" tambah Vano.


"Ada di ruang tengah den, kalau non Vanya ada di kamar sedang belajar."


"Ya udah Vano temuin mama sama papa dulu bik." Vano pun pergi untuk menghampiri kedua mertuanya.


"Assalamualaikum ma, pa." sapa Vano sambil mencium punggung tangan mama Vani dan papa Wijaya.


"Waalaikum salam." jawab serempak mama Vani dan papa Wijaya.


"Udah sampai kamu nak."


"Iya ma, bagaimana kabar mama sama papa?"


"Maaf Vano jarang ke sini menemui kalian." ucap Vano yang merasa tidak enak.


"Kabar mama sama papa Alhamdulillah sehat. Kalau kamu gimana kabarnya?" tanya balik mama Vani.


"Alhamdulillah kabar Vano juga baik ma."


"Gimana proyek yang kamu pegang Van, ada kendala gak?" tanya papa Wijaya perhatian.


"Alhamdulillah lancar pa, kemaren ada sih kendala sedikit cuma masih bisa di selesaikan."


"Kamu udah siap seandainya di suruh gantikan papa mu di kantor?"


"Wah kalau itu sih Vano belum siap pa, kan Vano juga belum sarjana."


"Wah jangan salah kamu, dulu papa sama papa kamu itu mendirikan perusahaan sebelum kita masuk di bangku kuliah." Jelas papa Wijaya mengenang masa muda.


Melihat suami dan menantunya yang asik mengobrol, mama Vani memutuskan pergi ke dapur untuk membuatkan mereka minum.


"Mama ke dapur dulu ya, kalian lanjutkan mengobrol nya."


"Gak usah repot-repot ma. Tapi kalau gak ngerepoti sih boleh."jawab Vano sambil nyengir yang mendapat gelengan kepala dari kedua mertuanya.


"Enggak kok gak ngerepotin, Ya udah mama ke dapur dulu." berlalu meninggalkan ruang tengah menuju dapur.


"Seriusan apa yang papa bilang tadi." tanya Vano penasaran.

__ADS_1


"Ya iyalah mana mungkin papa bohong kalau gak percaya tanya aja papa kamu."


"Wih hebat dong berarti."


"Emang." dengan gaya sombongnya papa Wijaya menjawab.


"Cih. Sombong." gumam Vano.


"Apa kamu bilang." Teriak papa Wijaya yang sekilas mendengar bahwa menantunya sedang mencibirnya.


"Ehh engak pa, Vano cuma salut aja sama perjuangan pap." kilah Vano.


"Cih. Ngelak lagi." Gantian sekarang papa Wijaya yang mencibir Vano.


Vano yang mendengar itu pun dengan pelan pelan dia beranjak dari sofa dan berjalan agak cepat menuju tangga sebelum papa mertuanya mengetahui kepergian nya.


"Vano mau kemana kamu?" teriak papa Wijaya saat mengetahui Vano yang sudah tidak berada di sampingnya melainkan sudah berjalan di tengah tengah tangga.


"Mandi pa udah sore." jawab Vano yang tidak kalah berteriak.


"Cih. Dasar menantu durhaka, untung kaya." gurau papa Wijaya.


-


Vano memasuki kamar Vanya setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Di lihatnya Vanya yang tengah merapikan peralatan sholatnya.


"Eemmm Van, disini masih ada bajuku kan?" tanya Vano basa basi untuk menghindari kecanggungan, padahal mah dia sudah tahu kalau di sini memang persediaan bajunya masih ada.


"Yah. Kirain udah enggak cuek lagi, ternyata masih sama." gumam Vano dan segera mengambil handuk setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


-


Setelah makan malam dan berbincang bincang sebentar dengan mama Vani dan papa Wijaya, Vano dan Vanya memutuskan untuk pulang ke apartemen lantaran hari sudah mulai larut.


"Ma,pa kita pulang dulu ya. Jangan lupa jaga kesehatan mama dan papa." pesan Vanya pada kedua orang tuanya.


"Iya sayang, kamu juga jaga kesehatan ya, jangan sampai telat makan biar nanti waktu olimpiade kamu tidak sakit." pesan balik mama Vani.


"Iya ma."


Vanya pun mencium kedua pipi mama papanya di ikuti Vano yang hanya mencium punggung tangan mama Vani dan pelukan hangat dari papa Wijaya.


"Kita pulang dulu, Assalamualaikum." pamit Vano dan Vanya.


"Waalaikum salam, hati hati di jalan." ucap mama Vani dan papa Wijaya.


Vano dan Vanya pun pulang dengan Vanya yang berada di depan menaiki mobilnya dan Vano yang mengikutinya dari belakang dengan motor sport nya.


Tin tin tin.

__ADS_1


Vano memberi klakson pada Vanya, Vanya yang mendengar itupun mengurangi kecepatan dan membuka kaca jendela.


"Ada apa?" tanya Vanya sambil teriak karena takut Vano gak dengan.


"Gw mau beli bensin dulu, lo mau nungguin gw atau duluan?" tanya Vano yang tak kalah kencang suaranya dari Vanya.


"Aku duluan aja." jawab Vanya cuek dan segera menambah kecepatan mobilnya seperti semula.


Vano singgah sebentar di pom bensin untuk mengisi bahan bakar motornya, setelah itu dia melajukan motornya dengan kencang berharap bisa menuntut mobil Vanya.


Saat masuk di jalan yang agak sepi dari keramaian tiba-tiba di depan mobil Vanya ada beberapa orang laki-laki yang menghadangnya. Vanya pun kaget dan segera mengerem mobilnya.


Cit..


Suara rem mobil Vanya.


"Sial, ngapain sih mereka pakai acara hadang gw segala. Gak tahu apa kalau suami gw tuh ketua geng motor yang paling di takuti." ucap Vanya sambil memperhatikan satu persatu orang yang berada di depan mobilnya.


"Cantik turun dong." ucap salah satu preman dari samping jendela mobil Vanya.


"Aduh gimana nih, mana mereka rame rame lagi." panik Vanya.


Mungkin kalau preman itu cuma satu atau dua Vanya bisa melawan, tapi ini masalahnya mereka terdiri dari 8 orang dengan badan yang kekar dan jangan lupakan senjata di tangan mereka.


"Gw harus minta tolong sama Vano nih." Vanya mencari handphonenya dan setelah ketemu dia segera mencari kontak Vano tapi saat dia akan memencet icon panggilan tiba-tiba ada motor sport yang berhenti di belakang mobilnya.


"Vano." ucap Vanya saat mengetahui bahwa motor itu adalah punya Vano.


Vanya pun bernafsu lega setelah kehadiran Vano.


Vano menghampiri preman preman itu dengan tangan kosong.


"Hai kalian beraninya sama cewek, lawan gw kalau berani." ucap Vano dengan tegas saat berada di depan orang yang berada di samping mobil Vanya tadi.


Preman itu pun mundur dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain.


"Bos ada yang sok jadi pahlawan nih." ucap salah satu dari mereka kepada ketuanya yang berada pada barisan paling tengah.


"Ehh, lo jangan ganggu urusan kita ya. Kalau lo ganggu lo bakal kita..."


"Kita apa hmm?" Vano memotong omongan ketua preman yang menghadang Vanya.


"Lo bakal....


...***...


Hai sekarang saudara kita yang berada di Lumajang, Malang Jawa timur dan sekitarnya lagi terkena musibah erupsi gunung Semeru.


Mari kita do'akan semoga saudara saudara kita yang berada di sana di berikan keselamatan dan bisa menjalankan aktivitas seperti sedia kala.

__ADS_1


#prayforsemeru


__ADS_2